Rusia ragukan laporan AS soal penggunaan senjata kimia di Suriah
Jum'at, 14 Juni 2013 - 20:13 WIB
Rusia ragukan laporan AS soal penggunaan senjata kimia di Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Rusia tidak yakin dengan laporan Amerika Serikat (AS) yang menyatakan, bahwa tentara Suriah telah menggunakan senjata kimia terhadap pemberontak. Demikian diungkapkan Yuri Ushakov, penasihat masalah luar negeri Presiden Rusia, Jumat (14/6/2013)
"AS telah mencoba untuk memberikan kami informasi, bahwa rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad telah menggunakan senjata kimia. Tapi sejujurnya saya katakan, laporan ini tidak terlihat menyakinkan bagi kami," ungkap Ushakov.
Ushakov mengatakan, Washington tengah mencoba bermain dengan fakta, dengan memberikan Moskow informasi seperti itu. "Tentu saja di balik informasi ini belum tersingkap. Tapi, saya ulangi sekali lagi, informasi ini tidak meyakinkan," lanjutnya.
Sikap tidak setuju juga diungkapkan oleh Alexei Pushkov, Kepala Parlemen Rusia urusan komite internasional. "Informasi tentang penggunaan senjata kimia oleh Presiden Suriah Bashar Assad dibuat dalam cara yang sama seperti kebohongan bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal di Irak," ungkap Pushkov dalam akun Twitter-nya.
"Presiden Obama telah menggunakan cara serupa seperti yang dilakukan mantan Presiden George W. Bush itu," lanjut Pushkov.
Seperti diketahui, sebelum AS menginvasi Irak pada 2003 lalu, intelijen AS menyampaikan laporan kepada PBB, bahwa rezim Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal, termasuk gas sarin (penyerang saraf), rudal balistik, dan program senjata nuklir. AS mengklaim, bahwa semua senjata itu merupakan ancaman untuk membenarkan invasi ke Irak. Tapi, setelah negara itu diduduki, senjata pemusnah masal yang dituduhkan tidak pernah ditemukan.
Sebelumnya, Deputi Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Ben Rhodes mengatakan, setelah review, intelijen, AS menilai bahwa rezim Assad telah menggunakan senjata kimia. Termasuk, gas sarin dalam skala kecil selama beberapa kali untuk melawan oposisi dalam setahun terakhir.
"Intelijen memperkirakan, bahwa 100 sampai 150 orang telah meninggal akibat serangan senjata kimia yang terdeteksi di Suriah sampai saat ini. Namun, data korban kemungkinan tidak lengkap. Selain itu, tidak ada bukti kredibel yang menunjukkan bahwa para pemberontak Suriah telah menggunakan senjata kimia,” lanjut Rhodes.
"AS telah mencoba untuk memberikan kami informasi, bahwa rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad telah menggunakan senjata kimia. Tapi sejujurnya saya katakan, laporan ini tidak terlihat menyakinkan bagi kami," ungkap Ushakov.
Ushakov mengatakan, Washington tengah mencoba bermain dengan fakta, dengan memberikan Moskow informasi seperti itu. "Tentu saja di balik informasi ini belum tersingkap. Tapi, saya ulangi sekali lagi, informasi ini tidak meyakinkan," lanjutnya.
Sikap tidak setuju juga diungkapkan oleh Alexei Pushkov, Kepala Parlemen Rusia urusan komite internasional. "Informasi tentang penggunaan senjata kimia oleh Presiden Suriah Bashar Assad dibuat dalam cara yang sama seperti kebohongan bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal di Irak," ungkap Pushkov dalam akun Twitter-nya.
"Presiden Obama telah menggunakan cara serupa seperti yang dilakukan mantan Presiden George W. Bush itu," lanjut Pushkov.
Seperti diketahui, sebelum AS menginvasi Irak pada 2003 lalu, intelijen AS menyampaikan laporan kepada PBB, bahwa rezim Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal, termasuk gas sarin (penyerang saraf), rudal balistik, dan program senjata nuklir. AS mengklaim, bahwa semua senjata itu merupakan ancaman untuk membenarkan invasi ke Irak. Tapi, setelah negara itu diduduki, senjata pemusnah masal yang dituduhkan tidak pernah ditemukan.
Sebelumnya, Deputi Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Ben Rhodes mengatakan, setelah review, intelijen, AS menilai bahwa rezim Assad telah menggunakan senjata kimia. Termasuk, gas sarin dalam skala kecil selama beberapa kali untuk melawan oposisi dalam setahun terakhir.
"Intelijen memperkirakan, bahwa 100 sampai 150 orang telah meninggal akibat serangan senjata kimia yang terdeteksi di Suriah sampai saat ini. Namun, data korban kemungkinan tidak lengkap. Selain itu, tidak ada bukti kredibel yang menunjukkan bahwa para pemberontak Suriah telah menggunakan senjata kimia,” lanjut Rhodes.
(esn)