Israel akan cegah transfer senjata ke kaum militan
Kamis, 30 Mei 2013 - 23:12 WIB
Israel akan cegah transfer senjata ke kaum militan
A
A
A
Sindonews.com – Israel mengaku tidak ingin memprovokasi "eskalasi" militer dengan Suriah, tetapi negara yahudi itu tidak akan membiarkan transfer senjata untuk kelompok-kelompok militan, seperti Hizbullah.
"Kami tidak perlu memprovokasi eskalasi, tidak perlu untuk memanaskan suasana di perbatasan dengan Suriah. Itu bukan tujuan kami dan tidak akan pernah kami lakukan," kata Menteri Energi dan Air Israel, Silvan Shalom kepada radio publik Israel, Kamis (30/5/2013).
Menurutnya, Israel mengkhawatirkan senjata canggih seperti sistem rudal S-300 buatan Rusia jatuh ke tangan yang salah. "Suriah telah memiliki senjata strategis selama bertahun-tahun. Namun, masalah muncul ketika senjata ini jatuh ke tangan lainnya dan dapat digunakan untuk melawan kami. Dalam hal ini, kami harus bertindak," katanya.
Sesuai perjanjian yang telah disepakati, Rusia mengaku akan tetap mengirimkan sistem rudal anti pesawat S-300 ke rezim Presiden Bashar al-Assad. Sebuah langkah yang disayangkan banyak pihak. Moskow sendiri menyebut langkah itu sebagai "faktor penyeimbang" yang bisa bertindak sebagai pencegah terhadap intervensi asing di Suriah.
Sementara itu, Penasehat Keamanan Nasional Israel, Yaakov Amidror menjelaskan garis merah Israel berada sehubungan dengan sistem rudal S-300. Amidror mengatakan, Israel tidak akan menghentikan pengiriman sistem rudal itu, tetapi akan bertindak untuk mencegah operasional S-300 di tanah Suriah.
"Kami tidak tertarik untuk ikut campur atau mempengaruhi situasi di Suriah," kata Amidror pada , surat kabar Haaretz. "Kami hanya akan bertindak ketika perlu untuk melindungi keamanan kita dan dengan demikian kita akan mencegah depan transfer senjata canggih untuk Hizbullah di masa depan," lanjutnya.
"Kami tidak perlu memprovokasi eskalasi, tidak perlu untuk memanaskan suasana di perbatasan dengan Suriah. Itu bukan tujuan kami dan tidak akan pernah kami lakukan," kata Menteri Energi dan Air Israel, Silvan Shalom kepada radio publik Israel, Kamis (30/5/2013).
Menurutnya, Israel mengkhawatirkan senjata canggih seperti sistem rudal S-300 buatan Rusia jatuh ke tangan yang salah. "Suriah telah memiliki senjata strategis selama bertahun-tahun. Namun, masalah muncul ketika senjata ini jatuh ke tangan lainnya dan dapat digunakan untuk melawan kami. Dalam hal ini, kami harus bertindak," katanya.
Sesuai perjanjian yang telah disepakati, Rusia mengaku akan tetap mengirimkan sistem rudal anti pesawat S-300 ke rezim Presiden Bashar al-Assad. Sebuah langkah yang disayangkan banyak pihak. Moskow sendiri menyebut langkah itu sebagai "faktor penyeimbang" yang bisa bertindak sebagai pencegah terhadap intervensi asing di Suriah.
Sementara itu, Penasehat Keamanan Nasional Israel, Yaakov Amidror menjelaskan garis merah Israel berada sehubungan dengan sistem rudal S-300. Amidror mengatakan, Israel tidak akan menghentikan pengiriman sistem rudal itu, tetapi akan bertindak untuk mencegah operasional S-300 di tanah Suriah.
"Kami tidak tertarik untuk ikut campur atau mempengaruhi situasi di Suriah," kata Amidror pada , surat kabar Haaretz. "Kami hanya akan bertindak ketika perlu untuk melindungi keamanan kita dan dengan demikian kita akan mencegah depan transfer senjata canggih untuk Hizbullah di masa depan," lanjutnya.
(esn)