Rusia khawatirkan nasib Suriah, bukan Assad
Selasa, 26 Februari 2013 - 12:47 WIB
Rusia khawatirkan nasib Suriah, bukan Assad
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, Pemerintah Rusia mengkhawatirkan nasib rakyat Suriah, bukan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, Senin (26/2/2013).
"Posisi Rusia saat ini tidak ditentukan oleh dukungan kepribadian, melainkan ditentukan oleh kekhawatiran tentang nasib rakyat Suriah. Mereka adalah teman lama, mitra, dan juga sebuah negara yang memiliki sebuah sejarah yang sangat panjang," ungkap Lavrov, saat menggelar partemuan dengen Menlu Suriah, Walid Mouallem, seperti dilansir RIA Novosti, Selasa, (26/2/2013).
Rusia menolak sepakat dengan Amerika Serikat (AS), yang menyerukan Assad untuk mundur dari jabatanya. "Rusia ingin melihat Suriah sebagai negara independen, persatuan dengan segala aspek kehidupan yang damai dan stabil, terlepas dari simpati politik mereka dan campur tangan asing untuk menyelesaikan masalah dalam negeri mereka," kata Lavrov.
Tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan krisis yang terjadi di Suriah, selain lewat jalur politik. "Kekuatan yang terus berkembang di Suriah menyadari negosiasi untuk menyelesaikan perpecahan politik merupakan langkah awal yang diperlukan. Jumlah mereka yang mendukung realitas ini terus berkembang," ungkap Lavrov.
Lavrov mengatakan, situasi di Suriah saat ini berada pada titik kritis, dengan eskalasi konflik yang mengancam memecah belah masyarakat dan rakyat Suriah.
Sementara itu, Mouallem kembali menegaskan pernyataan Assad. Menurutnya, konflik Suriah adalah perang melawan terorisme yang dipelopori oleh al-Qaeda. Salah satu cabang al-Qaeda telah menggempur Suriah dengan membawa sejumlah militan dan 28 negara, termasuk dari Chechnya.
"Sekali lagi Pemerintah Suriah menegaskan kesiapannya untuk melakukan dialog dengan kelompok oposisi, bahkan meski dengan senjata di tangan mereka," imbuh Mouallem.
"Posisi Rusia saat ini tidak ditentukan oleh dukungan kepribadian, melainkan ditentukan oleh kekhawatiran tentang nasib rakyat Suriah. Mereka adalah teman lama, mitra, dan juga sebuah negara yang memiliki sebuah sejarah yang sangat panjang," ungkap Lavrov, saat menggelar partemuan dengen Menlu Suriah, Walid Mouallem, seperti dilansir RIA Novosti, Selasa, (26/2/2013).
Rusia menolak sepakat dengan Amerika Serikat (AS), yang menyerukan Assad untuk mundur dari jabatanya. "Rusia ingin melihat Suriah sebagai negara independen, persatuan dengan segala aspek kehidupan yang damai dan stabil, terlepas dari simpati politik mereka dan campur tangan asing untuk menyelesaikan masalah dalam negeri mereka," kata Lavrov.
Tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan krisis yang terjadi di Suriah, selain lewat jalur politik. "Kekuatan yang terus berkembang di Suriah menyadari negosiasi untuk menyelesaikan perpecahan politik merupakan langkah awal yang diperlukan. Jumlah mereka yang mendukung realitas ini terus berkembang," ungkap Lavrov.
Lavrov mengatakan, situasi di Suriah saat ini berada pada titik kritis, dengan eskalasi konflik yang mengancam memecah belah masyarakat dan rakyat Suriah.
Sementara itu, Mouallem kembali menegaskan pernyataan Assad. Menurutnya, konflik Suriah adalah perang melawan terorisme yang dipelopori oleh al-Qaeda. Salah satu cabang al-Qaeda telah menggempur Suriah dengan membawa sejumlah militan dan 28 negara, termasuk dari Chechnya.
"Sekali lagi Pemerintah Suriah menegaskan kesiapannya untuk melakukan dialog dengan kelompok oposisi, bahkan meski dengan senjata di tangan mereka," imbuh Mouallem.
(esn)