Pasukan Prancis tidak akan tinggal lama di Mali
Rabu, 06 Februari 2013 - 08:47 WIB
Pasukan Prancis tidak akan tinggal lama di Mali
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Pertahanan Perancis Jean-Yves Le Drian mengesampingkan rencana penempatan jangka panjang pasukan militer Prancis di wilayah Utara Mali, Selasa (5/2/2013). Ungkapan tersebut datang setelah melihat besarnya kemajuan yang dicapai oleh militer Prancis dalam tiga pekan belakangan, mengambil alih wilayah utara Mali yang dikuasai oleh pemberontak.
"Saya kira pasukan Prancis tidak akan tinggal untuk waktu yang lama di Mali. Secara militer, kami membuat kemajuan sementara secara isu politik itu terserah kepada pemerintah Mali," ungkap Le Drian seperti dilansir Xinhua, Rabu (6/2/2013).
"Sebagian besar pasukan Mali dan Afrika siap untuk menggantikan keberadaan pasukan Prancis. Dan kita akan mundur," kata Le Drian. "Saat ini sudah ada 4 ribu pasukan dari sejumlah negara Afrika Barat," ungkap Le Drian.
Le Drian menuturkan bahwa kemajuan positif yang dicapai oleh dalam operasi invasi militer Prancis di Mali telah membuat pemberontak Mali yang berafiliasi dengan al-Qaeda, kelompok teroris internasional menderita kerugian besar. "Tidak hanya membunuh dan melukai pemberontak, militer Prancis telah menghacurkan persediaan logistik dan kamp pelatihan pemberontak," terang Le Drian.
Akhir pekan lalu, Presiden Prancis Francois Hollande dalam kunjunganya menekankan bahwa militer Prancis akan segera kembali ke tanah air setelah wilayah kedaulatan Mali kembali utuh dan pasukan Afrika dapat mengambil alih tugas pasukan Prancis.
Invasi darat dan udara yang dilakukan oleh militer dilancarkan setelah Pemerintah Mali meminta bantuan militer pada pemerintah Prancis untuk melawan militan di wilayah utara Mali. Pasalnya, militer Mali gagal mempertahankan wilayah Konna, 600 km dari Ibu Kota Bamako, Kamis (10/1/2012) lalu.
"Saya kira pasukan Prancis tidak akan tinggal untuk waktu yang lama di Mali. Secara militer, kami membuat kemajuan sementara secara isu politik itu terserah kepada pemerintah Mali," ungkap Le Drian seperti dilansir Xinhua, Rabu (6/2/2013).
"Sebagian besar pasukan Mali dan Afrika siap untuk menggantikan keberadaan pasukan Prancis. Dan kita akan mundur," kata Le Drian. "Saat ini sudah ada 4 ribu pasukan dari sejumlah negara Afrika Barat," ungkap Le Drian.
Le Drian menuturkan bahwa kemajuan positif yang dicapai oleh dalam operasi invasi militer Prancis di Mali telah membuat pemberontak Mali yang berafiliasi dengan al-Qaeda, kelompok teroris internasional menderita kerugian besar. "Tidak hanya membunuh dan melukai pemberontak, militer Prancis telah menghacurkan persediaan logistik dan kamp pelatihan pemberontak," terang Le Drian.
Akhir pekan lalu, Presiden Prancis Francois Hollande dalam kunjunganya menekankan bahwa militer Prancis akan segera kembali ke tanah air setelah wilayah kedaulatan Mali kembali utuh dan pasukan Afrika dapat mengambil alih tugas pasukan Prancis.
Invasi darat dan udara yang dilakukan oleh militer dilancarkan setelah Pemerintah Mali meminta bantuan militer pada pemerintah Prancis untuk melawan militan di wilayah utara Mali. Pasalnya, militer Mali gagal mempertahankan wilayah Konna, 600 km dari Ibu Kota Bamako, Kamis (10/1/2012) lalu.
(esn)