Gempur basis pemberontak Mali, Perancis kerahkan 30 pesawat tempur
Minggu, 03 Februari 2013 - 20:14 WIB
Gempur basis pemberontak Mali, Perancis kerahkan 30 pesawat tempur
A
A
A
Sindonews.com - Perancis mengerahkan 30 pesawat tempur untuk menggempur pusat pelatihan dan pusat logistik pemberontak Mali yang berada di timur laut Mali, Minggu (3/2/2013).
“Serangan ini dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden Perancis Francois Hollande mengunjungi negara itu,” kata pernyataan militer, seperti dikutip dari Ahram.
“Jet tempur, pesawat pengisi bahan bakar, dan pesawat mata-mata mengambil bagian dalam operasi utama, semalam di wilayah Tessalit, sebelah utara Kidal,” ujar Juru Bicara militer, Kolonel Thierry Burkhard.
Kidal adalah benteng terakhir kaum pemberontak yang menduduki wilayah gurun Mali selama hampir 9 bulan terakhir. Sementara Tessalit, yang berada dekat perbatasan dengan Aljazair, diyakini adalah lokasi di mana tujuh warga Perancis ditangkap oleh kaum militan Islam.
Sementara itu, saat berada di Mali, Hollande berjanji bahwa Perancis akan tetap berada di negara Afrika itu selama diperlukan untuk melanjutkan perang melawan pemberontak Islam. “Sudah saatnya bagi Afrika untuk memimpin, tetapi Perancis tidak akan meninggalkan mereka,” tegas Hollande.
Sedangkan Menteri Luar Negeri Mali, Tieman Hubert Coulibaly mengatakan, dia berharap operasi militer Perancis di negaranya akan terus berlanjut. “Senjata kaum pemberontak harus dimusnahkan. Kami berharap, bahwa misi militer akan diteruskan,” ujarnya.
“Serangan ini dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden Perancis Francois Hollande mengunjungi negara itu,” kata pernyataan militer, seperti dikutip dari Ahram.
“Jet tempur, pesawat pengisi bahan bakar, dan pesawat mata-mata mengambil bagian dalam operasi utama, semalam di wilayah Tessalit, sebelah utara Kidal,” ujar Juru Bicara militer, Kolonel Thierry Burkhard.
Kidal adalah benteng terakhir kaum pemberontak yang menduduki wilayah gurun Mali selama hampir 9 bulan terakhir. Sementara Tessalit, yang berada dekat perbatasan dengan Aljazair, diyakini adalah lokasi di mana tujuh warga Perancis ditangkap oleh kaum militan Islam.
Sementara itu, saat berada di Mali, Hollande berjanji bahwa Perancis akan tetap berada di negara Afrika itu selama diperlukan untuk melanjutkan perang melawan pemberontak Islam. “Sudah saatnya bagi Afrika untuk memimpin, tetapi Perancis tidak akan meninggalkan mereka,” tegas Hollande.
Sedangkan Menteri Luar Negeri Mali, Tieman Hubert Coulibaly mengatakan, dia berharap operasi militer Perancis di negaranya akan terus berlanjut. “Senjata kaum pemberontak harus dimusnahkan. Kami berharap, bahwa misi militer akan diteruskan,” ujarnya.
(esn)