Rusia jamin senjata kimia Suriah aman
Selasa, 25 Desember 2012 - 14:24 WIB
Rusia jamin senjata kimia Suriah aman
A
A
A
Sindonews.com – Rusia menjamin Presiden Suriah Bashar al-Assad tidak berencana melancarkan serangan senjata kimia pada pemberontak. Jika Suriah tetap melakukannya, aksi itu bakal menjadi blunder politik. Pernyataan itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi RT. ”Saya tidak yakin kalau Suriah bakal menggunakan senjata kimia,” kata Lavrov dikutip RT.
”Itu bakal menjadi bunuh diri politik jika pemerintahan Assad melakukannya.” Rusia merupakan sekutu utama Suriah yang kini menghadapi kekerasan berdarah. Selama 21 bulan lamanya, kelompok oposisi menuding jumlah korban telah mencapai 44.000 jiwa. Padahal, tiga sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) terhadap Assad telah ditempuh. Tapi, dukungan Rusia dan China menjadi kekuatan diplomasi bagi Suriah di kancah internasional.
Lavrov menegaskan, Moskow selalu mengecek setiap laporan mengenai pergerakan senjata kimia dengan Damaskus. Itu dilakukan untuk menjamin keamanan. ”Setiap waktu, kita mendengar rumor dan informasi. Kita selalu mengecek balik,dua kali,tiga kali. Konfirmasi itu dilakukan langsung kepada Pemerintah Suriah,” kata Lavrov.
Sebelumnya, dalam penerbangan dari Brussels ke Moskow, Lavrov menegaskan, Suriah telah mengonsolidasikan senjata kimia ke ”satu atau dua” tempat untuk mencegah incaran pemberontak. Menurut Lavrov, senjata tersebut awalnya tersebar di seluruh wilayah Suriah dan kini mereka telah menguasai penuh untuk sementara waktu.
”Berdasarkan informasi yang kita peroleh,data dari badan khusus Eropa dan Amerika Serikat (AS), Pemerintah Suriah telah melakukan segalanya untuk mengamankan (cadangan senjata kimia),” kata Lavrov dalam penerbangan ke Moskow dari Brussels, Belgia, seperti dikutip BBC.
”Pemerintah Suriah telah mengonsentrasikan cadangan senjata kimia pada satu atau dua tempat.” Lavrov pun mengungkapkan, ancaman terbesar senjata kimia Suriah adalah jika direbut oleh para pemberontak. Sementara,dari Tel Aviv pejabat pertahanan senior Israel, Amos Gilad, menegaskan bahwa senjata kimia milik Suriah masih diamankan meski Presiden Assad telah kehilangan kontrol terhadap sebagian besar wilayahnya.
Perang sipil antara Assad dan oposisi menghadapi kebuntuan tetapi pemimpin Suriah itu tidak menunjukkan tanda-tanda bakal mengikuti seruan internasional untuk mengundurkan diri. ”Mendorong Assad untuk pergi bakal memicu kekisruhan. Di Timur Tengah,Anda tidak bakal mengetahui apa yang bakal terjadi nanti,” kata Gilad dikutip Reuters.
”Itu bakal menjadi bunuh diri politik jika pemerintahan Assad melakukannya.” Rusia merupakan sekutu utama Suriah yang kini menghadapi kekerasan berdarah. Selama 21 bulan lamanya, kelompok oposisi menuding jumlah korban telah mencapai 44.000 jiwa. Padahal, tiga sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) terhadap Assad telah ditempuh. Tapi, dukungan Rusia dan China menjadi kekuatan diplomasi bagi Suriah di kancah internasional.
Lavrov menegaskan, Moskow selalu mengecek setiap laporan mengenai pergerakan senjata kimia dengan Damaskus. Itu dilakukan untuk menjamin keamanan. ”Setiap waktu, kita mendengar rumor dan informasi. Kita selalu mengecek balik,dua kali,tiga kali. Konfirmasi itu dilakukan langsung kepada Pemerintah Suriah,” kata Lavrov.
Sebelumnya, dalam penerbangan dari Brussels ke Moskow, Lavrov menegaskan, Suriah telah mengonsolidasikan senjata kimia ke ”satu atau dua” tempat untuk mencegah incaran pemberontak. Menurut Lavrov, senjata tersebut awalnya tersebar di seluruh wilayah Suriah dan kini mereka telah menguasai penuh untuk sementara waktu.
”Berdasarkan informasi yang kita peroleh,data dari badan khusus Eropa dan Amerika Serikat (AS), Pemerintah Suriah telah melakukan segalanya untuk mengamankan (cadangan senjata kimia),” kata Lavrov dalam penerbangan ke Moskow dari Brussels, Belgia, seperti dikutip BBC.
”Pemerintah Suriah telah mengonsentrasikan cadangan senjata kimia pada satu atau dua tempat.” Lavrov pun mengungkapkan, ancaman terbesar senjata kimia Suriah adalah jika direbut oleh para pemberontak. Sementara,dari Tel Aviv pejabat pertahanan senior Israel, Amos Gilad, menegaskan bahwa senjata kimia milik Suriah masih diamankan meski Presiden Assad telah kehilangan kontrol terhadap sebagian besar wilayahnya.
Perang sipil antara Assad dan oposisi menghadapi kebuntuan tetapi pemimpin Suriah itu tidak menunjukkan tanda-tanda bakal mengikuti seruan internasional untuk mengundurkan diri. ”Mendorong Assad untuk pergi bakal memicu kekisruhan. Di Timur Tengah,Anda tidak bakal mengetahui apa yang bakal terjadi nanti,” kata Gilad dikutip Reuters.
(esn)