Rwanda sangkal pasukannya ditahan militer Kongo
Kamis, 13 Desember 2012 - 13:43 WIB
Rwanda sangkal pasukannya ditahan militer Kongo
A
A
A
Sindonews.com - Militer Rwanda membahtah tuduhan bahwa 20 anggota pasukan mereka ditangkap oleh militer Kongo, Kamis (13/12/2012). "Ini adalah tuduhan palsu," ungkap juru bicara militer Rwanda Joseph Nzabamwita seperti dilansir dari news24.
Nzabamwita mengatakan, keberadaan pasukan Rwanda di Kongo dimaksudkan untuk membantu para pejabat di Goma mengontrol wilayah yang berbatasan langsung dengan Rwanda.
Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah Kongo, Lambert Mende menyatakan, bahwa 20 tentara Rwanda telah ditangkap bersama 18 pemberontak Kongo M23 dalam sebuah baku tembak dengan militer Kongo.
Seperti diketahui, pemerintah Kongo dan PBB telah berulang kali menuduh Rwanda mendukung aksi pemberontak M23. Rwanda telah berulangkali dituduh terlibat langsung dalam konflik tersebut. Namun, Presiden Rwanda Paul Kagame selalu membantah tudingan tersebut.
"Kongo dan negara kuat di dunia telah mencoba mencari kambing hitam atas kegagalan mereka," ungkap Kagame.
Keberadaan pemberontak M23 di Kongo telah menjadi ancaman terbesar dalam pemerintahan Presiden Joseph Kabila. Konflik ini bisa berkembang menjadi perang yang menyeret negara tetangga.
Nzabamwita mengatakan, keberadaan pasukan Rwanda di Kongo dimaksudkan untuk membantu para pejabat di Goma mengontrol wilayah yang berbatasan langsung dengan Rwanda.
Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah Kongo, Lambert Mende menyatakan, bahwa 20 tentara Rwanda telah ditangkap bersama 18 pemberontak Kongo M23 dalam sebuah baku tembak dengan militer Kongo.
Seperti diketahui, pemerintah Kongo dan PBB telah berulang kali menuduh Rwanda mendukung aksi pemberontak M23. Rwanda telah berulangkali dituduh terlibat langsung dalam konflik tersebut. Namun, Presiden Rwanda Paul Kagame selalu membantah tudingan tersebut.
"Kongo dan negara kuat di dunia telah mencoba mencari kambing hitam atas kegagalan mereka," ungkap Kagame.
Keberadaan pemberontak M23 di Kongo telah menjadi ancaman terbesar dalam pemerintahan Presiden Joseph Kabila. Konflik ini bisa berkembang menjadi perang yang menyeret negara tetangga.
(esn)