UE desak akhiri pembunuhan & janjikan bantuan bagi Myanmar
Minggu, 04 November 2012 - 16:41 WIB
UE desak akhiri pembunuhan & janjikan bantuan bagi Myanmar
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Komisi Uni Eropa (UE) , Jose Manuel Barroso menyerukan pemerintah Myanmar menghentikan pembunuhan sekertarian di Myanmar, Sabtu (3/11/2012). Seruan tersebut datang setelah pasca bentrok antara penganut Buddha Rakhines dan Rohingya Muslim di wilayah barat Myanmar.
"Kami sangat prihatin dengan bentrok dan dampak reformasi dan proses demokrasi yang sedang berjalan di Mnyanmar. Kami berharap semua pemimpin kelompok untuk menahan diri," ungkap Barroso seperti dilansir the star, Minggu (4/11/2012).
"UE siap memobilisasi dana sebesar 4 juta euro (USD 5,14 juta) bagi kebutuhan kemanusiaan yang mendesak dan memberikan akses ke daerah-daerah terpencil dengan jaminan," ungkap Barroso dalam pidatonya di Brussels.
Ungkapan Barroso disampaikan setelah ia mengelar pembicaraan dengan Presiden Myanmar, Thein Sein selama berkunjung ke Myanmar. UE berjanji akan menyumbangkan uang sebesar 30 juta euro pada 2013 mendatang untuk membantu proses perdamaian di Myanmar.
Barroso sebelumnya telah berkunjung ke pusat lembaga perdamaian yang baru didirikan di Myanmar. Lembaga tersebut sengaja dirancang menciptakan perdamian dengan membantu terciptanya proses dialog bagi semua pihak yang bertikai di Myanmar. Uni Eropa (UE) juga berkontribusi dalam pembangunan lembaga tersebut dengan menyalurkan dana sebesar USD 700 ribu euro.
Bentrok antara penganut Buddha Rakhines dan Rohingya Muslim di wilayah barat Myanmar sampai 10 Oktober dilaporkan telah menewaskan 89 orang. Sementara itu, ribuan orang terlantar akibat kekerasan tersebut.
Muslim Rohingya telah lama dianggap oleh PBB sebagai salah satu kaum minoritas yang paling teraniaya di dunia. Muslim Rohingya berbicara dengan dialek mirip suku Bengali, yang tinggal di Bangladesh. Karenanya, muslim Rohingya dipandang sebagai imigran ilegal oleh pemerintah Myanmar.
Muslim Rohingya menghadapi pembatasan ketat dan minimnya akses terhadap lapangan pekerjaan, pendidikan, dan pelayanan publik. Banyak dari Muslim Rohingya yang berusaha melarikan diri ke luar negeri dengan menggunakan perahu.
"Kami sangat prihatin dengan bentrok dan dampak reformasi dan proses demokrasi yang sedang berjalan di Mnyanmar. Kami berharap semua pemimpin kelompok untuk menahan diri," ungkap Barroso seperti dilansir the star, Minggu (4/11/2012).
"UE siap memobilisasi dana sebesar 4 juta euro (USD 5,14 juta) bagi kebutuhan kemanusiaan yang mendesak dan memberikan akses ke daerah-daerah terpencil dengan jaminan," ungkap Barroso dalam pidatonya di Brussels.
Ungkapan Barroso disampaikan setelah ia mengelar pembicaraan dengan Presiden Myanmar, Thein Sein selama berkunjung ke Myanmar. UE berjanji akan menyumbangkan uang sebesar 30 juta euro pada 2013 mendatang untuk membantu proses perdamaian di Myanmar.
Barroso sebelumnya telah berkunjung ke pusat lembaga perdamaian yang baru didirikan di Myanmar. Lembaga tersebut sengaja dirancang menciptakan perdamian dengan membantu terciptanya proses dialog bagi semua pihak yang bertikai di Myanmar. Uni Eropa (UE) juga berkontribusi dalam pembangunan lembaga tersebut dengan menyalurkan dana sebesar USD 700 ribu euro.
Bentrok antara penganut Buddha Rakhines dan Rohingya Muslim di wilayah barat Myanmar sampai 10 Oktober dilaporkan telah menewaskan 89 orang. Sementara itu, ribuan orang terlantar akibat kekerasan tersebut.
Muslim Rohingya telah lama dianggap oleh PBB sebagai salah satu kaum minoritas yang paling teraniaya di dunia. Muslim Rohingya berbicara dengan dialek mirip suku Bengali, yang tinggal di Bangladesh. Karenanya, muslim Rohingya dipandang sebagai imigran ilegal oleh pemerintah Myanmar.
Muslim Rohingya menghadapi pembatasan ketat dan minimnya akses terhadap lapangan pekerjaan, pendidikan, dan pelayanan publik. Banyak dari Muslim Rohingya yang berusaha melarikan diri ke luar negeri dengan menggunakan perahu.
(esn)