Pemerintah Kolombia dan pemberontak FARC lakukan pembicaraan damai
Rabu, 17 Oktober 2012 - 20:10 WIB
Pemerintah Kolombia dan pemberontak FARC lakukan pembicaraan damai
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Kolombia dan pemberontak FARC memulai pembicaraan damai di Oslo, Norwegia, Rabu (17/10/2012). Seperti dikutip dari CNN,com, pembicaraan ini dilakukan untuk mengentikan pertikaian bersenjata antar dua belah pihak yang sudah terjadi selama lebih dari 50 tahun. Menurut rencana, jika pembicaraan di Oslo berjalan dengan lancar, pertemuan selanjutnya akan digelar di Havana, Kuba.
Dalam sebuah wawancara, Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, berharap pembicaraan ini bisa benar-benar berujung pada sebuah perdamaian. “Kami telah memikirkan perdamaian, sejak Komandan Militer FARC tewas pada 2010. Perkembangan ekonomi dan keberhasilan militer Kolombia menumpas FARC, telah menciptakan waktu yang baik untuk negosiasi,” ujar Santos.
Upaya untuk melakukan gencatan senjata sudah dulakukan sejak 1980, namun selalu gagal. Upaya terakhir dilakukan pada 2002, tapi tak juga mengakhiri konflik bersenjata. Presiden Kolombia sebalum Santos, Andres Pastrana bahkan sampai merasa perlu menyerahkan sebuah wilayah untuk dikelola oleh kaum pemberontak.
Namun, upaya ini tetap belum membuahkan hasil nyata. Sebab, FARC tetap melancarkan serangan di seluruh negeri, guna memperkuat posisi mereka. Pemberontakan FARC jadi yang tertua dalam sejarah pemberontakan di Amerika Latin. FARC memulai perlawanan terhadap pemerintah sejak 1960.
“FARC harus diizinkan untuk berpartisipasi dalam proses politik. Anda tidak bisa meminta FARC untuk hanya berlutut, menyerah, dan memberi kita senjata. Mereka tidak akan melakukan hal itu. Harus dibuat sebuah jalan keluar. Dan, jalan keluar itu adalah dengan memberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam arena politik,” papar Santos.
Walau pembicaraan damai tengah dilakukan, tapi Pemerintah Kolombia mengaku tak akan menghentikan operasi militer. “Kami akan menghentikan operasi militer, ketika kami sudah mencapai kesepakatan akhir dan saya sudah melihat ada kemajuan dalam proses perdamaian. Tapi, jika kami melihat FARC hanya mencoba untuk mengulur waktu, serangan akan kembali dilakukan. Itulah sebabnya, mengapa Pemerintah tidak menyetujui gencatan senjata,” ungkap Santos.
FARC memang masih terus melakukan penculikan dan serangan pada pasukan keamanan, meski saat ini kekuatan mereka sudah jauh berkurang. Langkah Pemerintah Kolombia ini didukung oleh Amerika Serikat. Gedung Putih mengaku menyambut positif komitmen yang ditunjukan Presiden Kolombia untuk menyelesaikan konflik dengan FARC.
Dalam sebuah wawancara, Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, berharap pembicaraan ini bisa benar-benar berujung pada sebuah perdamaian. “Kami telah memikirkan perdamaian, sejak Komandan Militer FARC tewas pada 2010. Perkembangan ekonomi dan keberhasilan militer Kolombia menumpas FARC, telah menciptakan waktu yang baik untuk negosiasi,” ujar Santos.
Upaya untuk melakukan gencatan senjata sudah dulakukan sejak 1980, namun selalu gagal. Upaya terakhir dilakukan pada 2002, tapi tak juga mengakhiri konflik bersenjata. Presiden Kolombia sebalum Santos, Andres Pastrana bahkan sampai merasa perlu menyerahkan sebuah wilayah untuk dikelola oleh kaum pemberontak.
Namun, upaya ini tetap belum membuahkan hasil nyata. Sebab, FARC tetap melancarkan serangan di seluruh negeri, guna memperkuat posisi mereka. Pemberontakan FARC jadi yang tertua dalam sejarah pemberontakan di Amerika Latin. FARC memulai perlawanan terhadap pemerintah sejak 1960.
“FARC harus diizinkan untuk berpartisipasi dalam proses politik. Anda tidak bisa meminta FARC untuk hanya berlutut, menyerah, dan memberi kita senjata. Mereka tidak akan melakukan hal itu. Harus dibuat sebuah jalan keluar. Dan, jalan keluar itu adalah dengan memberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam arena politik,” papar Santos.
Walau pembicaraan damai tengah dilakukan, tapi Pemerintah Kolombia mengaku tak akan menghentikan operasi militer. “Kami akan menghentikan operasi militer, ketika kami sudah mencapai kesepakatan akhir dan saya sudah melihat ada kemajuan dalam proses perdamaian. Tapi, jika kami melihat FARC hanya mencoba untuk mengulur waktu, serangan akan kembali dilakukan. Itulah sebabnya, mengapa Pemerintah tidak menyetujui gencatan senjata,” ungkap Santos.
FARC memang masih terus melakukan penculikan dan serangan pada pasukan keamanan, meski saat ini kekuatan mereka sudah jauh berkurang. Langkah Pemerintah Kolombia ini didukung oleh Amerika Serikat. Gedung Putih mengaku menyambut positif komitmen yang ditunjukan Presiden Kolombia untuk menyelesaikan konflik dengan FARC.
(esn)