Israel dukung perubahan rezim di Suriah
Rabu, 08 Agustus 2012 - 18:59 WIB
Israel dukung perubahan rezim di Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Kepala mata-mata Israel, Dan Meridor mengumumkan Israel mendukung terjadinya perubahan rezim saat perang terus berlanjut di Suriah.
"Saya harap akan ada pergantian rezim di Suriah, meskipun tidak tahu kapan perubahan akan terjadi," ungkap Meridor, seperti dikutip Presstv, Rabu (8/8/2012).
Meridor berharap agar Pemerintah Suriah sadar dan tidak bergabung dengan Iran, sebuah kesalahan yang justru akan negara itu semakin terisolasi dari masyarakat internasional.
Pernyataan Meridor muncul setelah Arab Saudi, Turki dan Qatar menyatakan dukungan terhadap gerilyawan Suriah.
Sebelumnya, Senator Amerika Serikat (AS) John McCain, Joseph Lieberman, dan Lindsey Graham mengatakan, Pemerintah AS akan terang-terangan memberikan bantuan kepada pemberontak Suriah dalam bentuk senjata, intelijen dan pelatihan.
Seberti diberitakan The Guardian, Arab Saudi membayar pemberontak Suriah yang tergabung dalam Pasukan Pembebasan Suriah (Free Syrian Army/FSA) untuk melakukan pembelotan massal guna menekan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Pusat Intelejen AS, (Central Intelegen Agency/CIA ) pada 22 Juni lalu juga diberitakan terlibat dalam upaya membantu kelompok pemberontak Suriah yang dianggap berhak menerima bantuan senjata untuk menyerang militer Suriah.
"Saya harap akan ada pergantian rezim di Suriah, meskipun tidak tahu kapan perubahan akan terjadi," ungkap Meridor, seperti dikutip Presstv, Rabu (8/8/2012).
Meridor berharap agar Pemerintah Suriah sadar dan tidak bergabung dengan Iran, sebuah kesalahan yang justru akan negara itu semakin terisolasi dari masyarakat internasional.
Pernyataan Meridor muncul setelah Arab Saudi, Turki dan Qatar menyatakan dukungan terhadap gerilyawan Suriah.
Sebelumnya, Senator Amerika Serikat (AS) John McCain, Joseph Lieberman, dan Lindsey Graham mengatakan, Pemerintah AS akan terang-terangan memberikan bantuan kepada pemberontak Suriah dalam bentuk senjata, intelijen dan pelatihan.
Seberti diberitakan The Guardian, Arab Saudi membayar pemberontak Suriah yang tergabung dalam Pasukan Pembebasan Suriah (Free Syrian Army/FSA) untuk melakukan pembelotan massal guna menekan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Pusat Intelejen AS, (Central Intelegen Agency/CIA ) pada 22 Juni lalu juga diberitakan terlibat dalam upaya membantu kelompok pemberontak Suriah yang dianggap berhak menerima bantuan senjata untuk menyerang militer Suriah.
()