Myanmar gagal hentikan kekerasan
Rabu, 01 Agustus 2012 - 19:45 WIB
Myanmar gagal hentikan kekerasan
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Myanmar dianggap telah gagal menghentikan kekerasan antar suku yang terjadi di Ankara. Pasukan Myanmar terus menembaki kerumunan etnis Rohingya.
Kelompok pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM) internasional Human Rights Watch (HRW) mengklaim Myanmar tidak dapat mengatasi serangan umat Buddha Rakhine terhadap Rohingya. Padahal, konflik sektarian itu sudah berlangsung sejak Juni lalu.
Sementara Menteri Luar Negeri (Menlu) Myanmar Maung Lwin Wunnna menolak tuduhan beberapa kalangan internasional. Menurut dia, Pemerintah Myanmar tidak mengerahkan kekuatan senjata yang berlebihan.
“Pemerintah Myanmar hanya berupaya melakukan pengendalian maksimal,” ujar Menlu Wunnna, seperti dikutip The Washington Post, Rabu (1/8/2012).
Sebagai utusan PBB, HRW mengunjungi Ankara hari Rabu untuk menyelidiki kerusuhan. Setelah melakukan penyelidikan, HRW yang berbasis di New York meminta tanggapan internasional atas "kekejaman" terhadap Rohingya.
Saat ini, kekerasan di Myanmar yang menewaskan sedikitnya 78 orang tewas memang mulai mereda, tetapi puluhan ribu etnis Rohingya telah kehilangan rumah mereka. Mereka sangat membutuhkan perawatan medis, makanan, dan tempat tinggal yang layak.
Kelompok pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM) internasional Human Rights Watch (HRW) mengklaim Myanmar tidak dapat mengatasi serangan umat Buddha Rakhine terhadap Rohingya. Padahal, konflik sektarian itu sudah berlangsung sejak Juni lalu.
Sementara Menteri Luar Negeri (Menlu) Myanmar Maung Lwin Wunnna menolak tuduhan beberapa kalangan internasional. Menurut dia, Pemerintah Myanmar tidak mengerahkan kekuatan senjata yang berlebihan.
“Pemerintah Myanmar hanya berupaya melakukan pengendalian maksimal,” ujar Menlu Wunnna, seperti dikutip The Washington Post, Rabu (1/8/2012).
Sebagai utusan PBB, HRW mengunjungi Ankara hari Rabu untuk menyelidiki kerusuhan. Setelah melakukan penyelidikan, HRW yang berbasis di New York meminta tanggapan internasional atas "kekejaman" terhadap Rohingya.
Saat ini, kekerasan di Myanmar yang menewaskan sedikitnya 78 orang tewas memang mulai mereda, tetapi puluhan ribu etnis Rohingya telah kehilangan rumah mereka. Mereka sangat membutuhkan perawatan medis, makanan, dan tempat tinggal yang layak.
()