Kuba inginkan komunikasi seimbang dengan AS
Jum'at, 27 Juli 2012 - 11:16 WIB
Kuba inginkan komunikasi seimbang dengan AS
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Kuba Raúl Castro mengatakan kesedianya untuk memperbaiki hubungan serta melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS).
Pada kesempatan perayaan 59 tahun tentang kegagalan pemberontakan terhadap barak militer Kuba, Castro tiba-tiba menyampaikan keinginan pembicaraan dengan AS. Menurutnya pembicaraan kedua Kuba dengan AS bisa terjadi selama percakapan tersebut seimbang.
"Kapan saja mereka memiliki niat mengadakan pembicaraan, maka Kuba siap mengatur saluran diplomatik dengan mereka. Jika mereka menginginkan pembicaraan maka kami akan siap," ungkap Castro seperti diberitakan dalam Newsday, Jumat (27/7/2012).
Sebelumnya, Castro menuduh kelompok oposisi Kuba bersekongkol dengan AS untuk mengulingkan kekuasaan pemerintah Kuba dengan melakukan pembunuhan berencana terhadap Oswalo Paya, pembangkang Kuba.
"Beberapa kelompok kecil di Kuba mencoba melakukan sesuatu yang tidak berarti, mencoba meletakan sebuah dasar dan berharap suatu hari nanti sesuatu yang terjadi di Libya akan terjadi di Kuba, dan kini mereka sedang mencoba hal tersebut di Suriah," ungkapnya.
Seperti diketahui, selama lima dekade, Kuba dan AS mempertahankan api permusuhan mereka, selama itu mereka sama sekali tidak menjalin hubungan diplomatik. AS mengembargo perdagangan dan perjalanan wisata ke Kuba. AS ngotot menuntut reformasi dan memperbaiki tingkat Hak Asasi Manusia (HAM) dari pemerintah Kuba.
Pada kesempatan perayaan 59 tahun tentang kegagalan pemberontakan terhadap barak militer Kuba, Castro tiba-tiba menyampaikan keinginan pembicaraan dengan AS. Menurutnya pembicaraan kedua Kuba dengan AS bisa terjadi selama percakapan tersebut seimbang.
"Kapan saja mereka memiliki niat mengadakan pembicaraan, maka Kuba siap mengatur saluran diplomatik dengan mereka. Jika mereka menginginkan pembicaraan maka kami akan siap," ungkap Castro seperti diberitakan dalam Newsday, Jumat (27/7/2012).
Sebelumnya, Castro menuduh kelompok oposisi Kuba bersekongkol dengan AS untuk mengulingkan kekuasaan pemerintah Kuba dengan melakukan pembunuhan berencana terhadap Oswalo Paya, pembangkang Kuba.
"Beberapa kelompok kecil di Kuba mencoba melakukan sesuatu yang tidak berarti, mencoba meletakan sebuah dasar dan berharap suatu hari nanti sesuatu yang terjadi di Libya akan terjadi di Kuba, dan kini mereka sedang mencoba hal tersebut di Suriah," ungkapnya.
Seperti diketahui, selama lima dekade, Kuba dan AS mempertahankan api permusuhan mereka, selama itu mereka sama sekali tidak menjalin hubungan diplomatik. AS mengembargo perdagangan dan perjalanan wisata ke Kuba. AS ngotot menuntut reformasi dan memperbaiki tingkat Hak Asasi Manusia (HAM) dari pemerintah Kuba.
()