Etnis muslim Myanmar terus diserang
Jum'at, 20 Juli 2012 - 21:56 WIB
Etnis muslim Myanmar terus diserang
A
A
A
Sindonews.com – Kekerasan terus menghantui etnis minoritas Rohingya Muslim. Setidaknya 78 orang tewas di Myanmar selama enam minggu terakhir, setelah keadaan darurat diumumkan di bagian barat Rakhine. Ketegangan antara warga penganut Buddha Rakhines dan Muslim Rohingya meletus menjadi kekerasan komunal.
Amnesti International dan kelompok peneliti melaporkan, sejak keadaan darurat yang diberlakukan 10 Juni kekerasan masih terus meningkat. Kondisi Myanmar sekarang belum juga pulih, hak rakyat terabaikan.
“Kaum Muslim Rohingya telah menjadi berbagai sasaran serangan, seperti perusakan properti, pemerkosaan, dan pembunuhan oleh pasukan Buddha Rakhine dan petugas jasa keamanan negara,” ujar kepala kelompok peneliti Myanmar, Benjamin Zawacki, seperti dikutip VOA, Jumat (20/7/2012).
Zawacki menambahkan, ratusan Muslim telah ditahan menyusul penangkapan massal di wilayah Rohingya. Sebagian besar tahanan adalah pria dan anak laki-laki. Mereka menjadi target tahanan karena keyakinan yang dipercayai.
"Mereka ditahan secara diskriminatif atas dasar afiliasi agama dan etnis. Dalam pandangan Amnesti, mereka merupakan tahanan politik," tegas Zawacki.
Meski demikian, reformasi politik yang digaungkan Presiden Myanmar Thein Sein telah berusaha memperbaiki kondisi kemanusiaan di negara itu. Namun, selama setahun terakhir perhatian Pemerintah Myanmar hanya terbatas pada pusat-pusat politik dan ekonomi, tidak diperluas ke ranah etnis minoritas.
Amnesti International dan kelompok peneliti melaporkan, sejak keadaan darurat yang diberlakukan 10 Juni kekerasan masih terus meningkat. Kondisi Myanmar sekarang belum juga pulih, hak rakyat terabaikan.
“Kaum Muslim Rohingya telah menjadi berbagai sasaran serangan, seperti perusakan properti, pemerkosaan, dan pembunuhan oleh pasukan Buddha Rakhine dan petugas jasa keamanan negara,” ujar kepala kelompok peneliti Myanmar, Benjamin Zawacki, seperti dikutip VOA, Jumat (20/7/2012).
Zawacki menambahkan, ratusan Muslim telah ditahan menyusul penangkapan massal di wilayah Rohingya. Sebagian besar tahanan adalah pria dan anak laki-laki. Mereka menjadi target tahanan karena keyakinan yang dipercayai.
"Mereka ditahan secara diskriminatif atas dasar afiliasi agama dan etnis. Dalam pandangan Amnesti, mereka merupakan tahanan politik," tegas Zawacki.
Meski demikian, reformasi politik yang digaungkan Presiden Myanmar Thein Sein telah berusaha memperbaiki kondisi kemanusiaan di negara itu. Namun, selama setahun terakhir perhatian Pemerintah Myanmar hanya terbatas pada pusat-pusat politik dan ekonomi, tidak diperluas ke ranah etnis minoritas.
()