Annan-Assad sepakat damaikan Suriah
Selasa, 10 Juli 2012 - 10:08 WIB
Annan-Assad sepakat damaikan Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan dan Presiden Suriah Bashar al-Assad menyepakati perdamaian dengan oposisi bersenjata.
Presiden Suriah Bashar al-Assad pada menyetujui saran Kofi Annan untuk menempuh pendekatan damai guna mengakhiri konflik Suriah. Annan telah merekomendasikan Dewan Keamanan PBB untuk memantau gencatan senjata di Suriah dengan fokus pada mediasi politik.
"Kami membahas perlunya upaya damai untuk mengakhiri kekerasan di Suriah. Kami sepakat melakukan pendekatan damai dengan dengan kelompok pemberontak Suriah," ujar Annan setelah pembicaraan dengan Assad di Damaskus pada hari Senin lalu 9 Juli, seperti dikutip dari Aljazeera, Selasa (10/7/2012).
Sementara Menteri Luar Negeri Suriah, Jihad Makdissi menggambarkan telah memberikan masukan yang bersifat konstruktif bagi Pemerintah Suriah. pembicaraan akan fokus kepada enam rencana perdamaian yang dimediasi Annan pada awal tahun 2012.
Pertemuan itu digelar setelah Annan menyatakan bahwa rencana untuk mengakhiri kekerasan di Suriah melalui enam poin rencana perdamaian telah gagal. Sebelumnya, sebuah pertemuan internasional mendesak untuk dilaksanakannya pemerintahan transisi Suriah.
Kelompok oposisi meminta agar Assad dan sekutunya tidak dilibatkan dalam pemerintahan transisi, tetapi Presiden Suriah itu menyatakan tidak akan turun dari jabatannya. Sejumlah oposisi Suriah telah menuntut adanya intervensi militer asing untuk menurunkan pemerintah Assad.
Assad justru menuduh Amerika Serikat (AS) berupaya membuat kondisi Suriah tidak stabil, dengan memberikan perlindungan politik kepada kelompok pemberontak di negaranya. Presiden Assad mengatakan enam poin rencana perdamaian Annan merupakan langkah baik, namun dirusak oleh sejumlah negara, termasuk AS.
"Banyak negara tidak ingin rencana ini sukses jadi mereka menawarkan dukungan politik untuk kelompok teroris di Suriah dengan senjata dan uang," kata Assad.
Menurut Assad, Arab Saudi dan Qatar memasok persenjataan bagi kelompok teroris di negaranya, sedangkan Turki memberikan dukungan logistik. Namun, Assad yakin mayoritas masyarakat Suriah mendukungnya.
Sementara itu, kekerasan di Suriah meningkat, sekitar 11 orang dilaporkan tewas hingga hari Minggu 8 Juli 2012. Menurut Komite Koordinator Lokal LCC, sebuah jaringan aktivis di dalam Suriah.
Sekitar 15.000 orang tewas sejak pecahnya protes anti pemerintah yang telah berlangsung lebih dari setahun.
Presiden Suriah Bashar al-Assad pada menyetujui saran Kofi Annan untuk menempuh pendekatan damai guna mengakhiri konflik Suriah. Annan telah merekomendasikan Dewan Keamanan PBB untuk memantau gencatan senjata di Suriah dengan fokus pada mediasi politik.
"Kami membahas perlunya upaya damai untuk mengakhiri kekerasan di Suriah. Kami sepakat melakukan pendekatan damai dengan dengan kelompok pemberontak Suriah," ujar Annan setelah pembicaraan dengan Assad di Damaskus pada hari Senin lalu 9 Juli, seperti dikutip dari Aljazeera, Selasa (10/7/2012).
Sementara Menteri Luar Negeri Suriah, Jihad Makdissi menggambarkan telah memberikan masukan yang bersifat konstruktif bagi Pemerintah Suriah. pembicaraan akan fokus kepada enam rencana perdamaian yang dimediasi Annan pada awal tahun 2012.
Pertemuan itu digelar setelah Annan menyatakan bahwa rencana untuk mengakhiri kekerasan di Suriah melalui enam poin rencana perdamaian telah gagal. Sebelumnya, sebuah pertemuan internasional mendesak untuk dilaksanakannya pemerintahan transisi Suriah.
Kelompok oposisi meminta agar Assad dan sekutunya tidak dilibatkan dalam pemerintahan transisi, tetapi Presiden Suriah itu menyatakan tidak akan turun dari jabatannya. Sejumlah oposisi Suriah telah menuntut adanya intervensi militer asing untuk menurunkan pemerintah Assad.
Assad justru menuduh Amerika Serikat (AS) berupaya membuat kondisi Suriah tidak stabil, dengan memberikan perlindungan politik kepada kelompok pemberontak di negaranya. Presiden Assad mengatakan enam poin rencana perdamaian Annan merupakan langkah baik, namun dirusak oleh sejumlah negara, termasuk AS.
"Banyak negara tidak ingin rencana ini sukses jadi mereka menawarkan dukungan politik untuk kelompok teroris di Suriah dengan senjata dan uang," kata Assad.
Menurut Assad, Arab Saudi dan Qatar memasok persenjataan bagi kelompok teroris di negaranya, sedangkan Turki memberikan dukungan logistik. Namun, Assad yakin mayoritas masyarakat Suriah mendukungnya.
Sementara itu, kekerasan di Suriah meningkat, sekitar 11 orang dilaporkan tewas hingga hari Minggu 8 Juli 2012. Menurut Komite Koordinator Lokal LCC, sebuah jaringan aktivis di dalam Suriah.
Sekitar 15.000 orang tewas sejak pecahnya protes anti pemerintah yang telah berlangsung lebih dari setahun.
()