Sejumlah Negara Manfaatkan Teknologi untuk Mengawasi Pasien Corona

Senin, 30 Maret 2020 - 09:25 WIB
Sejumlah Negara Manfaatkan...
Sejumlah Negara Manfaatkan Teknologi untuk Mengawasi Pasien Corona
A A A
MOSKOW - Rusia di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin memelopori teknologi untuk memperkuat pemerintahannya. Tahun lalu pemimpin Rusia itu menyetujui penciptaan “kedaulatan” bagi internet Rusia sehingga bisa membentengi pengaruh dari seluruh dunia. Hal serupa kini juga dilakukan di saat pandemi virus corona atau Covid-19 merebak ke seluruh penjuru dunia.

Otoritas Rusia memiliki kesempatan untuk menguji kekuatan dan teknologi barunya dengan momen Covid-19. Itu memicu kekhawatiran aktivis liberal yang mengkritik pemerintahan Putin bisa saja meningkatkan kemampuan untuk pengawasan bagi seluruh warganya.

Apalagi, peralatan teknologi yang menjadi andalan untuk digunakan dalam penanganan wabah virus corona adalah sistem pengenalan wajah secara masif. Sistem yang sudah dikenalkan kepada publik pada awal tahun ini, sistem pengawasan tersebut sebenarnya ditentang banyak kalangan karena banyak gugatan hukum ke pemerintah. Namun, wabah virus corona justru memberikan kesempatan bagi Putin untuk meningkatkan sistem tersebut dalam penanganan penyebaran virus mematikan itu.

Sebagai contoh, polisi Moskow mengklaim telah menangkap dan menjatuhkan denda bagi 200 orang yang melanggar kebijakan karantina dan isolasi diri dengan pengenalan wajah. Pasalnya, Moskow memiliki 170.000 sistem kamera yang mampu mendeteksi wajah warga Rusia. Laporan media Rusia menunjukkan, para pelanggar aturan yang didenda berada di luar rumah kurang dari satu menit sebelum tertangkap kamera. (Baca: Bantu Perangi Covid-19, Kuba Kirim Tenaga Kesehatan ke Sejumlah negara)

“Kita ingin memasang lebih banyak kamera seperti di pojok yang gelap atau sisi kiri jalanan,” kata Kepala Kepolisian Moskow Oleg Baranov, dilansir CNN. Dia mengungkapkan, saat ini polisi sedang memasang sebanyak 9.000 kamera tambahan.

Sistem pengawasan tersebut juga digunakan untuk menganalisis jejaring sosial orang yang menjadi pasien terinfeksi virus korona. Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin mengungkapkan, otoritasnya bisa melacak seorang perempuan China yang terbang ke kota itu dari Beijing dan kembali lagi ke China pada Februari lalu. Dari sistem tersebut, Sobyanin mengungkapkan, otoritas bisa melacak sopir taksi yang mengantarkan perempuan tersebut ke bandara, teman yang ditemuinya di blok apartemen, dan mengumpulkan data sebanyak 600 orang yang tinggal di apartemen perempuan China tersebut.

Dengan penggunaan sistem pelacakan lokasi, para pakar epidemiologi melihat itu sebagai hal penting untuk melokalisir wabah corona. Namun, Rusia melakukan pendekatan yang berbeda. Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin memerintahkan Kementerian Komunikasi untuk menggunakan sistem pelacak yang diambil dari data perusahaan telekomunikasi untuk orang tertentu.

Bukan hanya Rusia saja yang memanfaatkan teknologi dalam penanganan virus corona. Di Israel, lembaga keamanan Shin Bet mengubah program pengawasan keamanan menjadi pengawasan pergerakan pasien virus corona atau orang yang diduga bisa menjadi penyebar virus tersebut. Mekanisme kerjanya sama seperti Rusia di mana data kartu kredit dan telepon dimanfaatkan untuk pemetaan. Nantinya, para pejabat kesehatan akan mengarantina orang yang pernah bertemu dengan penderita virus corona. Shin Bet menyatakan mereka membantu otoritas kesehatan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi lebih dari 500 penduduk Israel yang terinfeksi virus corona.

Di Korea Selatan (Korsel), pemerintah juga menggunakan data transaksi kartu kredit dan geolokasi serta rekaman pemantauan untuk memberikan informasi detail tentang pasien corona. Mereka bisa mendapatkan peta dan orang yang pernah berhubungan dengan si pasien. (Baca juga: India Sulap Gerbong Kereta Jadi Bangsal Isolasi Virus Corona)

Reuters melaporkan perusahaan telekomunikasi di Uni Eropa (UE) juga telah berbagai data dengan otoritas kesehatan di Italia, Jerman, dan Austria untuk memonitor orang untuk melakukan jaga jarak. Di Amerika Serikat (AS), dilaporkan Washington Post, pemerintah menggunakan data yang disediakan perusahaan teknologi untuk penanganan wabah virus corona.

Meski demikian, penggunaan teknologi pengenalan wajah di Rusia tetap menjadi polemik. “Perbedaan terletak pada negara yang memiliki budaya privasi yang tinggi dan keterbatasan dalam penggunaan data,” kata Sarkis Darbinyan, pengacara Roskomsvoboda, lembaga nirlaba yang melacak kebebasan daring di Rusia. Dia mengungkapkan, hal paling menakutkan adalah ketika epidemi berakhir pada suatu hari nanti, tapi kebijakan tersebut akan terus dilanjutkan. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Berita Terkait
Virus Corona di Italia...
Virus Corona di Italia Terus Menyebar
Menteri Kebudayaan Rusia...
Menteri Kebudayaan Rusia Positif Idap Virus Corona
Laboratorium Virus Wuhan...
Laboratorium Virus Wuhan Punya 3 Jenis Virus Corona
Tambah 6.000 Kasus,...
Tambah 6.000 Kasus, Infeksi Covid-19 di Rusia Lampaui China
Puluhan Tentara Rusia...
Puluhan Tentara Rusia Jadi Relawan Vaksin Virus Corona
Terungkap, China Sempat...
Terungkap, China Sempat Tunda Rilis Informasi Virus Corona
Berita Terkini
Trump Akan Palaki Kapal...
Trump Akan Palaki Kapal yang Lewat Selat Hormuz, Bagaimana Aturan Hukum Internasional?
1 jam yang lalu
Agen Mossad Pernah Temui...
Agen Mossad Pernah Temui Mahmoud Ahmadinejad di Budapest, Ada Apa Gerangan?
2 jam yang lalu
Inggris Semakin Ditekan...
Inggris Semakin Ditekan untuk Kembalikan 31 Ton Emas Venezuela
2 jam yang lalu
Apa Itu Gunung Pickaxe?...
Apa Itu Gunung Pickaxe? Lokasi Penyimpanan Senjata Nuklir Iran yang Akan Dihancurkan Trump
3 jam yang lalu
Norwegia Diam-diam Gunakan...
Norwegia Diam-diam Gunakan Pengaruhnya untuk Dorong Penangguhan Israel dari FIFA
3 jam yang lalu
TV Iran Rayakan Kematian...
TV Iran Rayakan Kematian Mendadak Senator AS Pro-Israel: 'Dikirim ke Neraka'
4 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved