Redam Virus Corona, Sejumlah Negara Berlakukan Jam Malam dan Tutup KA

Senin, 23 Maret 2020 - 06:27 WIB
Redam Virus Corona,...
Redam Virus Corona, Sejumlah Negara Berlakukan Jam Malam dan Tutup KA
A A A
SYDNEY - Jumlah kasus baru dan kematian akibat virus corona terus meningkat kendati berbagai langkah telah diberlakukan. Upaya alternatif untuk menghambat persebaran virus corona adalah pemberlakuan jam malam seperti yang dilakukan beberapa negara.

Di India lebih dari setengah miliar orang diminta mematuhi jam malam atau lockdown sebagian selama 14 jam. "Warga diminta untuk tetap tinggal di rumah dari pukul 07.00 hingga 21.00," kata Perdana Menteri India Narendra Modi.

Kebijakan ini harus dilakukan lantaran India sudah memiliki 315 kasus virus corona. Modi meminta masyarakat untuk menyukseskan jam malam sebagai kekuatan utama untuk memerangi virus corona. Menariknya, Modi pun meminta masyarakat untuk berdiri di balkon atau dekat jendela untuk bertepuk tangan atau membunyikan bel sebagai bentuk apresiasi bagi pekerja sanitasi dan tim medis.

Sebagai dampak dari pemberlakuan jam malam, sistem perkeretaapian ditutup mulai hari ini untuk mencegah persebaran virus corona yang sudah menyebar di Mumbai, kota paling padat di India. Hanya pekerja pemerintah yang diizinkan bepergian. Padahal 8 juta orang bergantung pada jaringan kereta tersebut setiap hari.

Beberapa negara bagian juga telah memberlakukan shutdown. Rajasthan memerintahkan penutupan kota itu hingga 31 Maret. Empat kota di Gujarat juga menerapkan aturan serupa hingga 25 Maret. India telah melarang semua orang dari berbagai negara lain masuk ke negara tersebut, termasuk Inggris dan negara Eropa lainnya. India juga sudah membatalkan sebagian besar visa masuk dari negara lain.

Selain India, Kuwait juga memberlakukan jam malam sebagian kemarin sebagai langkah untuk menangani virus corona. Jam malam itu diberlakukan pukul 17.00 hingga 04.00. "Bagi warga yang melanggar pemberlakuan jam malam akan didenda USD33.000," ungkap Deputi PM Kuwait Anas al-Saleh seperti dilansir Anadolu.

Saleh mengungkapkan, pemberlakuan jam malam merupakan upaya pencegahan terhadap persebaran virus corona. Selain itu Saleh menyatakan kabinet memutuskan untuk memperpanjang penghentian aktivitas pemerintah dan sektor swasta selama dua pekan ke depan. (Baca: New York Bersiap Jalani Lockdown)

Yordania juga memberlakukan jam malam sejak pukul 07.00 pada Sabtu lalu. Dimulainya jam malam itu dilakukan dengan membunyikan sirene di Amman, ibu kota Yordania.

Pada hari pertama pemberlakuan jam malam, sebanyak 400 orang ditangkap karena berada di luar rumah meskipun hendak membeli makanan. Pasalnya semua bisnis di Yordania ditutup, termasuk apotek dan supermarket. "Semua yang berada di luar rumah akan dihukum," kata Menteri Kehakiman Bassam Talhouni kepada al-Mamlaka.

Di Amerika Serikat (AS) jam malam diberlakukan di beberapa kota saja, termasuk Tucker, Atlanta. Kota itu memberlakukan jam malam sejak pukul 21.00 hingga 06.00. Warga hanya diperbolehkan keluar rumah untuk alasan kesehatan dan membeli makanan. "Sebagian besar toko tutup pukul 21.00," kata Wali Kota Tucker Frank Auman.

Selain jam malam, lockdown total juga tetap menjadi langkah favorit banyak negara. Seluruh negara bagian di Australia, terutama Sydney dan Melbourne, bersama juga Canberra, akan melakukan upaya lockdown dengan menutup semua layanan tidak penting selama 48 jam. Itu dilakukan karena kasus virus corona terus mengalami peningkatan di wilayah tersebut.

Baik Sydney, Melbourne maupun Canberra diperkirakan akan menutup klub malam dan restoran setelah pengumuman disampaikan negara bagian. Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengungkapkan, lockdown total mungkin akan diterapkan untuk mengatasi persebaran virus mematikan tersebut.

Italia Terparah

Perhatian dunia saat ini masih tertuju kepada Italia dengan jumlah korban yang terinfeksi virus corona terus bertambah. Data terakhir menunjukkan 800 orang meninggal pada Sabtu (21/3/2020) sehingga totalnya mencapai 4.825 orang. Kawasan Lombardy memberlakukan aturan khusus, yakni melarang aktivitas olahraga di luar rumah karena sebanyak 3.095 orang meninggal di teritori tersebut akibat virus corona. (Baca juga: WHO: Lockdown Saja Tidak Cukup untuk Hambat Penyebaran Covid-19)

PM Italia Giuseppe Conte memerintahkan segala aktivitas bisnis diminta untuk menutup semua operasional, kecuali suplai jaringan produk penting. Dia mengungkapkan, pusat perbelanjaan, apotek, kantor pos, dan bank tetap beroperasi serta transportasi publik juga tetap berjalan.“Kita akan memperlambat mesin produksi negara, tetapi kita tidak akan menghentikannya,” paparnya. Dia menggambarkan, situasi saat ini merupakan krisis paling sulit dalam periode pascaperang. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Berita Terkait
Laboratorium Virus Wuhan...
Laboratorium Virus Wuhan Punya 3 Jenis Virus Corona
Wabah Virus Corona di...
Wabah Virus Corona di Wuhan Diduga Terjadi Awal Agustus
Virus Corona di Italia...
Virus Corona di Italia Terus Menyebar
Ahli Virus Prancis:...
Ahli Virus Prancis: Virus Corona Bukan Produk Alam
Sebelum di Wuhan, Virus...
Sebelum di Wuhan, Virus Corona Ditemukan di Barcelona Maret 2019
Ini Kisah Zhang Jixian,...
Ini Kisah Zhang Jixian, Dokter yang Temukan Virus Corona di Wuhan
Berita Terkini
Dunia Segara Akan Dengar...
Dunia Segara Akan Dengar Gema Kemenangan Iran
47 menit yang lalu
Hamas Peringatkan Israel...
Hamas Peringatkan Israel Perluas Garis Kuning Gaza untuk Gagalkan Perundingan Gencatan Senjata
1 jam yang lalu
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
2 jam yang lalu
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
3 jam yang lalu
Presiden Asosiasi Sepak...
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Kecam AS Tunda Visa untuk Acara Piala Dunia
4 jam yang lalu
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
5 jam yang lalu
Infografis
Spanyol, Irlandia dan...
Spanyol, Irlandia dan Norwegia Segera Akui Negara Palestina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved