Krisis Akut di Suriah Paksa Putin-Erdogan Bertemu
Kamis, 05 Maret 2020 - 23:56 WIB
Krisis Akut di Suriah Paksa Putin-Erdogan Bertemu
A
A
A
MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan melakukan pertemuan membahas krisis yang terjadi di Idlib, Suriah.
Dalam pertemuan itu, Putin mengatakan kepada Erdogan bahwa puluhan tentara Turki tewas dalam serangan udara Suriah karena tidak ada yang tahu mereka ada di sana. Ia pun menekankan bahwa krisis di provinsi Idlib, Suriah begitu mengerikan sehingga diperlukan percakapan pribadi antara kedua pemimpin.
Putin juga menyampaikan belasungkawa kepada Erdogan atas kematian 34 tentara Turki dalam sebuah serangan udara minggu lalu di Idlib.
"Sayangnya, seperti yang sudah saya katakan dalam percakapan telepon, tidak ada seorang pun, termasuk pasukan Suriah, yang tahu tentang lokasi mereka," Putin menegaskan seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (5/3/2020).
Dikaitkan dengan militer Suriah, serangan udara itu mendorong Turki untuk mengerahkan ribuan tentara, tank, dan drone ke Idlib, provinsi terakhir di Suriah yang masih berada di tangan militan anti-pemerintah.
Tentara Turki juga menyatakan aset militer Suriah sebagai target yang sah. Seperti yang diakui Putin dalam pertemuan itu, situasi di Idlib mencapai titik didihnya.
"Sekarang situasi di zona terkenal di Idlib telah menjadi sangat suram yang tentunya membutuhkan percakapan pribadi kami," ujar Putin.
"Kami perlu berbicara melalui seluruh situasi saat ini sehingga itu tidak akan terulang dan tidak akan merusak hubungan kami," Putin menekankan.
Rusia, kata Putin, menghargai hubungannya dengan Turki.
Pada gilirannya, Erdogan memuji pentingnya pertemuan ini karena seluruh dunia memiliki perhatian pada Moskow.
"Langkah-langkah yang akan diambil hari ini dan keputusan kita (buat) pasti akan memudahkan situasi," ucap Erdogan.
Sementara pertemuan yang ditunggu-tunggu itu dimulai dengan mulus, perkembangan di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. Ketika Ankara menuntut agar Rusia menekan Presiden Bashar Assad untuk menghentikan permusuhan di Idlib, Moskow menuduh Turki gagal menindaklanjuti janjinya untuk membersihkan zona de-eskalasi kelompok militan.
Namun demikian, baik Moskow maupun Ankara menetapkan harapan yang tinggi untuk pertemuan di Moskow.
Dalam pertemuan itu, Putin mengatakan kepada Erdogan bahwa puluhan tentara Turki tewas dalam serangan udara Suriah karena tidak ada yang tahu mereka ada di sana. Ia pun menekankan bahwa krisis di provinsi Idlib, Suriah begitu mengerikan sehingga diperlukan percakapan pribadi antara kedua pemimpin.
Putin juga menyampaikan belasungkawa kepada Erdogan atas kematian 34 tentara Turki dalam sebuah serangan udara minggu lalu di Idlib.
"Sayangnya, seperti yang sudah saya katakan dalam percakapan telepon, tidak ada seorang pun, termasuk pasukan Suriah, yang tahu tentang lokasi mereka," Putin menegaskan seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (5/3/2020).
Dikaitkan dengan militer Suriah, serangan udara itu mendorong Turki untuk mengerahkan ribuan tentara, tank, dan drone ke Idlib, provinsi terakhir di Suriah yang masih berada di tangan militan anti-pemerintah.
Tentara Turki juga menyatakan aset militer Suriah sebagai target yang sah. Seperti yang diakui Putin dalam pertemuan itu, situasi di Idlib mencapai titik didihnya.
"Sekarang situasi di zona terkenal di Idlib telah menjadi sangat suram yang tentunya membutuhkan percakapan pribadi kami," ujar Putin.
"Kami perlu berbicara melalui seluruh situasi saat ini sehingga itu tidak akan terulang dan tidak akan merusak hubungan kami," Putin menekankan.
Rusia, kata Putin, menghargai hubungannya dengan Turki.
Pada gilirannya, Erdogan memuji pentingnya pertemuan ini karena seluruh dunia memiliki perhatian pada Moskow.
"Langkah-langkah yang akan diambil hari ini dan keputusan kita (buat) pasti akan memudahkan situasi," ucap Erdogan.
Sementara pertemuan yang ditunggu-tunggu itu dimulai dengan mulus, perkembangan di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. Ketika Ankara menuntut agar Rusia menekan Presiden Bashar Assad untuk menghentikan permusuhan di Idlib, Moskow menuduh Turki gagal menindaklanjuti janjinya untuk membersihkan zona de-eskalasi kelompok militan.
Namun demikian, baik Moskow maupun Ankara menetapkan harapan yang tinggi untuk pertemuan di Moskow.
(ian)