PBB Desak Rusia dan Turki Redam Ketegangan di Idlib
Kamis, 20 Februari 2020 - 19:03 WIB
PBB Desak Rusia dan Turki Redam Ketegangan di Idlib
A
A
A
NEW YORK - Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen telah meminta Moskow dan Ankara untuk mengurangi ketegangan di provinsi Idlib. Pernyataan ini datang setelah Presiden Turki, Tayyip Erdogan mengancam akan melakukan operasi besaran-besaran di Idlib.
"Turki dan Rusia, sebagai sponsor pengaturan de-eskalasi Idlib, dapat dan harus memainkan peran kunci dalam menemukan cara untuk mengurangi eskalasi situasi sekarang," kata Pedersen saat berbicara di Dewan Keamanan (DK) PBB.
"Saya tidak dapat melaporkan kemajuan apa pun dalam mengakhiri kekerasan saat ini di barat laut atau dalam menemukan kembali proses politik," sambungnya, seperti dilansir PressTV pada Kamis (20/2/2020).
Dia lalu menuturkan bahwa delegasi Rusia dan Turki telah bertemu secara intensif dalam beberapa hari terakhir dan komunikasi juga telah dialakukan pemimpin kedua negara mengenai hal ini.
"Namun, belum ada pemahaman yang muncul. Sebaliknya, pernyataan publik dari berbagai tempat, Suriah dan internasional, menunjukkan bahaya eskalasi lebih lanjut," ungkapnya.
Sebelumnya, Erdogan mengancam akan melancarkan operasi dalam waktu dekat di Provinsi Idlib jika Damaskus menolak mundur dari wilayah yang menjadi basis militer Ankara tersebut.
"Seperti operasi kami sebelumnya, kami mengatakan operasi kami mungkin terjadi tiba-tiba suatu malam," kata Erdogan, merujuk pada tiga serangan lintas-batas yang sejauh ini telah dilakukan negaranya di Suriah utara.
"Turki dan Rusia, sebagai sponsor pengaturan de-eskalasi Idlib, dapat dan harus memainkan peran kunci dalam menemukan cara untuk mengurangi eskalasi situasi sekarang," kata Pedersen saat berbicara di Dewan Keamanan (DK) PBB.
"Saya tidak dapat melaporkan kemajuan apa pun dalam mengakhiri kekerasan saat ini di barat laut atau dalam menemukan kembali proses politik," sambungnya, seperti dilansir PressTV pada Kamis (20/2/2020).
Dia lalu menuturkan bahwa delegasi Rusia dan Turki telah bertemu secara intensif dalam beberapa hari terakhir dan komunikasi juga telah dialakukan pemimpin kedua negara mengenai hal ini.
"Namun, belum ada pemahaman yang muncul. Sebaliknya, pernyataan publik dari berbagai tempat, Suriah dan internasional, menunjukkan bahaya eskalasi lebih lanjut," ungkapnya.
Sebelumnya, Erdogan mengancam akan melancarkan operasi dalam waktu dekat di Provinsi Idlib jika Damaskus menolak mundur dari wilayah yang menjadi basis militer Ankara tersebut.
"Seperti operasi kami sebelumnya, kami mengatakan operasi kami mungkin terjadi tiba-tiba suatu malam," kata Erdogan, merujuk pada tiga serangan lintas-batas yang sejauh ini telah dilakukan negaranya di Suriah utara.
(esn)