Prancis Mengaku Belum Siap Kurangi Persediaan Senjata Nuklir
Minggu, 09 Februari 2020 - 14:24 WIB
Prancis Mengaku Belum Siap Kurangi Persediaan Senjata Nuklir
A
A
A
PARIS - Prancis tidak siap untuk mengurangi persenjataan nuklirnya secara sepihak tanpa jaminan dari negara lain. Hal itu disampaikan langsung oleh Presiden Prancis, Emanuel Macron.
"Perlucutan senjata nuklir secara sepihak seperti kami akan membuat kami dan mitra kami rentan menghadapi tekanan dan pemerasan. Saya menolak prospek ini," kata Macron saat berbicara di Ecole Militaire di Paris.
Macron, seperti dilansir Tass pada Minggu (9/2/2020), kemudian mengatakan bahwa persenjataan nuklir Prancis tidak dapat dibandingkan dengan persenjataan Amerika Serikat (AS) dan Rusia.
"Dalam mengejar perdamaian, Prancis mengikuti logika perlucutan senjata atas nama keamanan dan stabilitas global," ungkapnya.
"Ini menunjukkan hasil yang unik, setelah membongkar semua komponen nuklir dari darat-ke-darat, pusat pengujian, perusahaan yang memproduksi bahan fisil untuk senjata, dan juga telah mengurangi arsenalnya, yang sekarang termasuk kurang dari 300 hulu ledak," ujar Macron.
Macron, sebelumnya menekankan perlunya negara-negara Eropa untuk membuat agenda internasional dalam bidang pengendalian senjata. Macron mencatat bahwa dia berharap akan memiliki diskusi internasional yang diperluas tentang Perjanjian Pasukan Nuklir Jangka Menengah (INF) yang baru, yang akan mencakup negara-negara lain selain AS dan Rusia.
Dia juga menekankan pentingnya memperpanjang Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis baru atau "New START" setelah 2021 dan juga mencatat bahwa perjanjian yang ada tentang non-proliferasi senjata nuklir adalah satu-satunya cara untuk mencegah perang nuklir.
"Perlucutan senjata nuklir secara sepihak seperti kami akan membuat kami dan mitra kami rentan menghadapi tekanan dan pemerasan. Saya menolak prospek ini," kata Macron saat berbicara di Ecole Militaire di Paris.
Macron, seperti dilansir Tass pada Minggu (9/2/2020), kemudian mengatakan bahwa persenjataan nuklir Prancis tidak dapat dibandingkan dengan persenjataan Amerika Serikat (AS) dan Rusia.
"Dalam mengejar perdamaian, Prancis mengikuti logika perlucutan senjata atas nama keamanan dan stabilitas global," ungkapnya.
"Ini menunjukkan hasil yang unik, setelah membongkar semua komponen nuklir dari darat-ke-darat, pusat pengujian, perusahaan yang memproduksi bahan fisil untuk senjata, dan juga telah mengurangi arsenalnya, yang sekarang termasuk kurang dari 300 hulu ledak," ujar Macron.
Macron, sebelumnya menekankan perlunya negara-negara Eropa untuk membuat agenda internasional dalam bidang pengendalian senjata. Macron mencatat bahwa dia berharap akan memiliki diskusi internasional yang diperluas tentang Perjanjian Pasukan Nuklir Jangka Menengah (INF) yang baru, yang akan mencakup negara-negara lain selain AS dan Rusia.
Dia juga menekankan pentingnya memperpanjang Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis baru atau "New START" setelah 2021 dan juga mencatat bahwa perjanjian yang ada tentang non-proliferasi senjata nuklir adalah satu-satunya cara untuk mencegah perang nuklir.
(esn)