Iran Punya Lumba-lumba Komunis untuk Ledakkan Kapal Musuh

Sabtu, 11 Januari 2020 - 16:54 WIB
Iran Punya Lumba-lumba...
Iran Punya Lumba-lumba Komunis untuk Ledakkan Kapal Musuh
A A A
TEHERAN - Sebuah laporan media Rusia mengungkap bahwa Iran memiliki armada lumba-lumba warisan rezim komunis Soviet yang dilatih untuk meledakkan kapal musuh dalam misi serangan bunuh diri Kamikaze-style.

Skuadron akuatik "tentara bayaran" mamalia itu masih hidup dan siap untuk "menombak" kapal-kapal musuh di Teluk Persia. Pasukan lumba-lumba militer itu awalnya dilatih oleh Uni Soviet di Rusia. Namun, akhirnya dibeli oleh Republik Islam Iran pada tahun 2000.

Selama dilatih Rusia, pasukan bawah air itu mampu membedakan antara kapal selam Moskow dan Washington dengan suara dari sistem propulsi bawah air mereka.

Mereka telah dilatih untuk berenang mendekati kapal-kapal musuh dengan ranjau peledak diikat pada tubuh mereka.

Pengalihan kepemilikan ke Iran terjadi ketika dana proyek Rusia habis dan pelatih lumba-lumba, Boris Zhurid, membawanya pasukan mamalia laut itu sendirian.

Para pembunuh yang sangat terlatih itu pernah dipaksa tampil untuk para turis di sebuah pertunjukan lumba-lumba di Sevastopol, tetapi Zhurid akhirnya kehabisan uang dan makanan ketika pada bulan-bulan musim dingin yang kejam membuat orang-orang tak tertarik dengan pertunjukan tersebut.

Putus asa karena tidak tahan melihat pasukan lumba-lumba kesayangannya menderita, Zhurid menjualnya ke Iran.

Tindakan Zhurid pernah diprotes Amerika Serikat (AS). Namun, Zhurid mengatakan kepada surat kabar Rusia, Komsomolskaya Pravda; "Saya siap untuk pergi menghadap Allah, atau bahkan pada iblis, selama hewan-hewan saya akan baik-baik saja."

"Jika saya sadis, maka saya bisa tetap di Sevastopol," paparnya. "Tapi saya tidak tahan melihat hewan saya kelaparan. Kami kehabisan obat, yang biayanya ribuan dolar, dan tidak punya lagi ikan atau suplemen makanan," keluhnya.

Laporan lain dari Military.com pada Sabtu (11/1/2020) menyatakan bahwa unit lumba-lumba itu awalnya dipindahkan dari sebuah pangkalan di wilayah Pasifik Rusia ke Sevastopol Semenanjung Crimea pada 1991, tahun ketika Uni Soviet runtuh.

Tetapi pasukan mamalia laut itu dipindahkan lagi dari Laut Hitam ke Teluk Persia setelah Iran membayarnya.

BBC pernah melaporkan pada tahun 2000 bahwa Lembaga Konservasi Paus dan Lumba-Lumba telah melakukan penelitian yang menemukan beberapa lumba-lumba militer bekas Soviet telah dijual ke akuarium di seluruh dunia. Sedihnya, banyak makhluk cerdas itu disimpan dalam kondisi yang buruk dan mati saat melakukan perjalanan.

Tetapi Zhurid mengatakan kepada Komsomolskaya Pravda bahwa Iran telah membangun oseanarium baru untuk hewan kesayangannya.
(mas)
Berita Terkait
Intip Kehebatan Dena,...
Intip Kehebatan Dena, Penjaga Laut Iran yang Ditakuti
AS Bantah Lakukan Operasi...
AS Bantah Lakukan Operasi di Perairan Teritorial Rusia
Kapal Perang Rusia Kejar...
Kapal Perang Rusia Kejar Kapal Selam AS di Tengah Ketegangan Atas Ukraina
Militer AS Rampas Kapal...
Militer AS Rampas Kapal Tanker Minyak Rusia, Mengapa Kapal Selam Moskow Tak Beraksi?
AS Kuntit Kapal Perang...
AS Kuntit Kapal Perang dan Kapal Selam Nuklir Rusia di Karibia
Dari Kapal Induk hingga...
Dari Kapal Induk hingga Kapal Selam Nuklir, Segini Total Armada Tempur Amerika Serikat
Berita Terkini
Promosikan Startup ke...
Promosikan Startup ke Dunia, Indonesia Gabung London Tech Week
42 menit yang lalu
Tak Ingin Bernasib seperti...
Tak Ingin Bernasib seperti Ukraina, Polandia Operasikan Jet Tempur Siluman
50 menit yang lalu
AS Klaim Tembak Jatuh...
AS Klaim Tembak Jatuh Banyak Drone Iran
2 jam yang lalu
Tak Ingin Terus Jadi...
Tak Ingin Terus Jadi Target Rudal Iran, UEA Bayar Rp53 Triliun ke Teheran
2 jam yang lalu
Dunia Segara Akan Dengar...
Dunia Segara Akan Dengar Gema Kemenangan Iran
3 jam yang lalu
Hamas Peringatkan Israel...
Hamas Peringatkan Israel Perluas Garis Kuning Gaza untuk Gagalkan Perundingan Gencatan Senjata
4 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved