Hizbullah: Pasukan AS Tidak Akan Aman
Sabtu, 11 Januari 2020 - 02:44 WIB
Hizbullah: Pasukan AS Tidak Akan Aman
A
A
A
BEIRUT - Dengan latar belakang pembunuhan terhadap jenderal Iran Qassem Soleimani dan pemimpin milisi Irak pro Teheran Abu Mahdi al-Mundis, pasukan Amerika Serikat (AS) tidak akan aman jika mereka bertahan di Asia Barat. Peringatakan itu dilontarkan seorang pejabat kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon.
“Pemerintah Amerika yang arogan harus tahu bahwa terorisme terhadap rakyat di wilayah itu serta pembunuhan terhadap Soleimani dan Muhandis tidak akan mengimbangi frustrasi dan kegagalan yang menumpuk di sana. Negara itu telah kehilangan prestise, dan kepercayaan sekutu-sekutunya tidak akan pulih," kata Wakil Presiden Dewan Eksekutif Hizbullah, Sheikh Ali Damoush.
“Sumbu perlawanan tidak akan diteror, melainkan akan berusaha untuk melepaskan topeng dari wajah AS di antara orang-orang di wilayah tersebut. Darah Soleimani dan Muhandis akan membuka cakrawala baru ke sumbu resistensi untuk mengamankan lebih banyak kemenangan, yang akan diselesaikan dengan penarikan penuh pasukan Amerika dari wilayah tersebut," imbuhnya seperti dilansir dari kantor berita Iran, Press TV, Sabtu (11/1/2020).
Damoush lantas memuji Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) karena menembakkan peluru kendali balistik ke pangkalan militer AS di Irak barat daya sebagai balasan atas pembunuhan tersebut.
Ulama Libanon itu melanjutkan dengan mengatakan bahwa wilayah itu sekarang dibagi menjadi dua sumbu: poros kejahatan yang dipelopori oleh AS dan poros perlawanan yang dipimpin oleh Iran.
“Konflik di wilayah ini menjadi sangat jelas dan pihaknya terpisah dengan tegas. Tidak ada ambiguitas di dalamnya sebagaimana tujuannya telah menjadi sangat jelas, yaitu kehadiran militer AS di wilayah tersebut. Kehadiran seperti itu tidak akan aman bagi mereka lagi,” ujar Damoush.
Ia lantas menyebut massa yang menyemut dalam upacara pemakaman untuk Jenderal Soleimani, komandan Pasukan Qud dari IRGC, dan Abu Mahdi, yang merupakan komandan kedua dari Unit Mobilisasi Populer Irak (PMU), di seluruh kota-kota Irak dan Iran serta di tempat lain mengirim pesan yang jelas bahwa orang-orang di wilayah tersebut siap untuk berkorban.
“Pemerintah Amerika yang arogan harus tahu bahwa terorisme terhadap rakyat di wilayah itu serta pembunuhan terhadap Soleimani dan Muhandis tidak akan mengimbangi frustrasi dan kegagalan yang menumpuk di sana. Negara itu telah kehilangan prestise, dan kepercayaan sekutu-sekutunya tidak akan pulih," kata Wakil Presiden Dewan Eksekutif Hizbullah, Sheikh Ali Damoush.
“Sumbu perlawanan tidak akan diteror, melainkan akan berusaha untuk melepaskan topeng dari wajah AS di antara orang-orang di wilayah tersebut. Darah Soleimani dan Muhandis akan membuka cakrawala baru ke sumbu resistensi untuk mengamankan lebih banyak kemenangan, yang akan diselesaikan dengan penarikan penuh pasukan Amerika dari wilayah tersebut," imbuhnya seperti dilansir dari kantor berita Iran, Press TV, Sabtu (11/1/2020).
Damoush lantas memuji Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) karena menembakkan peluru kendali balistik ke pangkalan militer AS di Irak barat daya sebagai balasan atas pembunuhan tersebut.
Ulama Libanon itu melanjutkan dengan mengatakan bahwa wilayah itu sekarang dibagi menjadi dua sumbu: poros kejahatan yang dipelopori oleh AS dan poros perlawanan yang dipimpin oleh Iran.
“Konflik di wilayah ini menjadi sangat jelas dan pihaknya terpisah dengan tegas. Tidak ada ambiguitas di dalamnya sebagaimana tujuannya telah menjadi sangat jelas, yaitu kehadiran militer AS di wilayah tersebut. Kehadiran seperti itu tidak akan aman bagi mereka lagi,” ujar Damoush.
Ia lantas menyebut massa yang menyemut dalam upacara pemakaman untuk Jenderal Soleimani, komandan Pasukan Qud dari IRGC, dan Abu Mahdi, yang merupakan komandan kedua dari Unit Mobilisasi Populer Irak (PMU), di seluruh kota-kota Irak dan Iran serta di tempat lain mengirim pesan yang jelas bahwa orang-orang di wilayah tersebut siap untuk berkorban.
(ian)