Tak Hanya 'Hadiah Natal' Korut, Militer AS Juga Melacak Santa Klaus

Selasa, 24 Desember 2019 - 16:39 WIB
Tak Hanya Hadiah Natal...
Tak Hanya 'Hadiah Natal' Korut, Militer AS Juga Melacak Santa Klaus
A A A
DENVER - Natal tahun ini membuat militer Amerika Serikat (AS) siaga. Pasalnya, Korea Utara (Korut) mengancam akan mengirimkan 'Hadiah Natal' kepada AS. Sementara Komando Pertahanan Aerospace Amerika Utara (NORAD) waspada terhadap tanda-tanda peluncuran rudal Korut, badan itu juga melacak sosok legendaris yang memberikan hadiah kepada anak-anak di seluruh dunia, Santa Klaus.

Berbasis di Colorado Springs, Colorado, NORAD adalah gabungan komando militer AS dan Kanada yang misinya adalah untuk mengeluarkan peringatan serta kontrol kedirgantaraan dan maritim di seluruh Amerika Utara.

Selama lebih dari enam dekade, badan ini juga menawarkan pelacakan animasi real-time Santa Klaus, juga dikenal sebagai Kris Kringle, ketika kereta luncur bertenaga rusa itu melintasi dunia memberikan hadiah kepada anak-anak.

"Karena NORAD melakukan misi utamanya untuk membela Amerika Utara dari ancaman, kami bangga melanjutkan tradisi melacak perjalanan Santa di seluruh dunia," kata NORAD dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari Reuters, Selasa (24/12/2019).

Agensi itu mengatakan situs pelacakan NORAD di www.noradsanta.org dikunjungi hampir 15 juta pengunjung yang unik dari 200 lebih negara dan wilayah di seluruh dunia.

NORAD dalam beberapa tahun terakhir telah melacak uji coba rudal jarak jauh Korut. Pyongyang sebelumnya telah memperingatkan Washington awal bulan ini tentang kemungkinan "hadiah Natal." Itu terjadi setelah pemimpin Korut, Kim Jong-un, memberi AS batas waktu hingga akhir tahun untuk mengusulkan konsesi baru dalam pembicaraan mengenai persenjataan nuklir negaranya dan mengurangi ketegangan di antara dua musuh lama. (Baca: Korut: Terserah Amerika Serikat Mau Hadiah Natal Apa? )

Menurut situsnya, tradisi melacak Santa yang dilakukan NORAD dimulai pada tahun 1955. Ketika itu sebuah department store Colorado Springs salah mencetak nomor telepon ke Kutub Utara dalam sebuah iklan surat kabar.

Telepon pertama datang dari seorang gadis kecil dan diterima oleh ke Kolonel Angkatan Udara AS Harry Shoup, direktur NORAD yang saat itu dikenal sebagai Komando Pertahanan Udara Kontinental.

Sang kolonel kemudian meyakinkan gadis itu bahwa Santa Klaus sedang dalam perjalanan, dan ketika lebih banyak anak-anak menelepon pusat komando itu, militer menambahkan tugas baru pada misi pertahanannya.

Berganti nama menjadi NORAD tiga tahun kemudian sebagai badan gabungan Kanada dan AS, misi pelacakan Santa Klaus terus berlangsung tanpa gangguan sejak itu. Pengamat Santa sekarang dapat melacak keberadaannya melalui akun Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube NORAD.
(ian)
Berita Terkait
China Tuding Amerika...
China Tuding Amerika Serikat Kacaukan Semenanjung Korea
5 Rudal Korea Utara...
5 Rudal Korea Utara yang Ditakuti Amerika Serikat
Korea Utara Marah Korea...
Korea Utara Marah Korea Selatan dan Amerika Serikat Mulai Latihan Militer
Korut Ancam Akhiri Amerika...
Korut Ancam Akhiri Amerika Serikat dengan Senjata Nuklir
Amerika Serikat Prediksi...
Amerika Serikat Prediksi Korea Utara Siap Tes Nuklir Bulan Ini
5 Negara Sahabat China,...
5 Negara Sahabat China, 3 di Antaranya Musuh Amerika Serikat
Berita Terkini
4 Fakta Serangan Iran...
4 Fakta Serangan Iran ke Pangkalan Militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania
34 menit yang lalu
Israel Serang Kota di...
Israel Serang Kota di Lebanon yang Namanya Disebut dalam Alkitab
1 jam yang lalu
Rudal Iran Serang Hanggar...
Rudal Iran Serang Hanggar F-35 di Pangkalan Udara AS di Yordania, Kuwait dan Bahrain Waspada
2 jam yang lalu
China Luncurkan Alat...
China Luncurkan Alat Pelacak Kapal Selam Nuklir, Bakal Ubah Perang Masa Depan
3 jam yang lalu
Drone Iran Gempur Armada...
Drone Iran Gempur Armada Kelima AS di Bahrain
4 jam yang lalu
Suara Ledakan Terdengar...
Suara Ledakan Terdengar di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, Iran Segera Balas Serangan AS
5 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved