Bela Permukiman Ilegal, AS Bikin Konflik Israel-Palestina Makin Runyam

Selasa, 19 November 2019 - 08:28 WIB
Bela Permukiman Ilegal,...
Bela Permukiman Ilegal, AS Bikin Konflik Israel-Palestina Makin Runyam
A A A
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Michael Pompeo telah mengumumkan perubahan kebijakan Washington terhadap permukiman Israel di Tepi Barat. Washington kini menganggap permukiman di tanah Palestina yang diduduki rezim Zionis itu sesuai hukum internasional.

Pompeo mengatakan AS tidak akan lagi mematuhi pendapat hukum Departemen Luar Negeri 1978 tentang penyelesaian wilayah tersebut. Dia bersikeras perubahan kebijakan yang menyakitkan Palestina ini tidak akan membuat Amerika diisolasi komunitas global.

Analis mengkritik langkah AS, dengan mengatakan keputusan itu akan membuat konflik Israel dan Palestina yang sudah lebih dari 70 tahun semakin runyam dan penyelesaian konflik menjadi lebih sulit.

"Dia dapat menyatakan bahwa malam adalah siang, tetapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa permukiman Israel tidak hanya ilegal menurut hukum internasional, tetapi juga merupakan hambatan besar bagi perdamaian dan stabilitas kawasan kita," kata Hagit Ofran dari kelompok Israel anti-permukiman Peace Now.

Pengumuman Pompeo menandai contoh besar ketiga di mana pemerintahan Trump berpihak pada Israel dan terhadap posisi Palestina dan Arab. (Baca: Bela Israel, AS Anggap Permukiman Tepi Barat Sesuai Hukum Internasional )

Pada 2017 Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan, pada 2018, Amerika Serikat secara resmi membuka kedutaan di sana. Padahal, kebijakan AS sebelumnya adalah bahwa status Yerusalem harus diputuskan oleh para pihak yang terlibat konflik.

Pada bulan Maret, Trump mengakui pencaplokan Dataran Tinggi Golan oleh Israel tahun 1981 dari Suriah yang memicu kemarahan Damaskus.

Sampai Senin malam, tidak ada negara lain yang mengikuti Amerika Serikat dengan menyatakan bahwa mereka telah berhenti memandang permukiman Israel di Tepi Barat sebagai pelanggaran hukum internasional.

Langkah pemerintah Trump diduga mungkin bertujuan untuk membantu Netanyahu ketika dia mencoba untuk tetap berkuasa. Setelah dua pemilu yang tidak meyakinkan tahun ini, Netanyahu dan saingannya Benjamin Gantz berjuang untuk membentuk koalisi yang berkuasa.

Martin Indyk, mantan negosiator perdamaian AS, menggambarkan keputusan pemerintah Trump sebagai "langkah yang serampangan".

“Mengapa menampar muka orang Palestina lagi? Mengapa mendorong gerakan permukiman/pencaplokan pada saat Gantz sedang berusaha membentuk pemerintahan?," tanya dia, seperti dikutip Reuters, Selasa (19/11/2019).
(mas)
Berita Terkait
Trump Lebih Suka Deal...
Trump Lebih Suka Deal dengan Musuh, AS Sedang Tinggalkan Israel?
Hubungan Trump-Netanyahu...
Hubungan Trump-Netanyahu Retak Makin Dalam, Keduanya Saling Frustrasi
3 Alasan Donald Trump...
3 Alasan Donald Trump Mengusir Para Simpatisan Palestina dari Amerika Serikat
Trump: Netanyahu Tak...
Trump: Netanyahu Tak Pernah Berniat Berdamai dengan Palestina
Kediaman Resmi Dubes...
Kediaman Resmi Dubes AS di Tel Aviv Dibeli Pendonor Pro-Israel
PM Israel Netanyahu...
PM Israel Netanyahu Melawan Seruan AS soal Pembentukan Negara Palestina
Berita Terkini
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
33 menit yang lalu
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
1 jam yang lalu
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Israel, IDF Bombardir Lebanon
1 jam yang lalu
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
2 jam yang lalu
Ini Gaun Emas Termahal...
Ini Gaun Emas Termahal di Dunia! Beratnya 10 Kg, Harganya Rp24 Miliar
3 jam yang lalu
4 Fakta Tempat Tinggal...
4 Fakta Tempat Tinggal Elon Musk, Rumah Sewa dan Ukurannya Mungil
4 jam yang lalu
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved