Diam-diam Senjata-senjata AS Tiba di Yaman

Rabu, 06 November 2019 - 23:57 WIB
Diam-diam Senjata-senjata...
Diam-diam Senjata-senjata AS Tiba di Yaman
A A A
SANAA - Sebuah rekaman video menunjukkan pembongkaran berbagai senjata buatan Amerika Serikat (AS) di pelabuhan Aden, Yaman, minggu lalu. Dalam rekaman itu terlihat kendaraan lapis baja Oshkosh buatan AS tengah di bongkar dari kargo di pelabuhan di wilayah yang dikendalikan oleh koalisi pimpinan Arab Saudi itu.

Rekaman video tersebut diperoleh dan telah diverifikasi oleh CNN. Beberapa saksi mengatakan kepada CNN bahwa pemerintah Yaman, yang didukung oleh koalisi pimpinan Saudi, telah menangkap dan memeriksa mereka yang dicurigai membocorkan aktivitas di pelabuhan kepada media.

Berpegang pada pengakuan whistleblower dan dokumen pelabuhan, CNN telah mengidentifikasi kapal yang membongkar persenjataan AS di Aden pekan lalu. Kapal itu bernama Bahri Hofuf dan terdaftar di Arab Saudi. Melihat data pelacakan kapal, lokasi terakhir yang dicatat kapal berada di pelabuhan Jeddah, Saudi, pada 17 September, sebelum berlayar ke Port Sudan dan tiba pada hari berikutnya.

Setelah itu, sistem pelacakan kapal dimatikan sebelum muncul lagi di Aden pada 29 Oktober.

Aliran senjata yang mengalir ke konflik di Yaman selama ini diseliputi misteri.

Pada bulan Februari, penyelidikan CNN mengungkapkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) - keduanya sekutu utama AS - telah mentransfer senjata buatan AS kepada para pejuang yang terkait dengan al-Qaeda dan faksi-faksi tempur lainnya di Yaman. Ini melanggar perjanjian keduanya dengan Washington.

Oshkosh Defense, produsen salah satu kendaraan lapis baja (MRAP) yang terlihat dalam pengiriman terbaru, mengatakan kepada CNN bahwa perusahaan itu secara ketat mengikuti semua undang-undang dan peraturan AS yang berkaitan dengan kontrol ekspor.

Bulan lalu, CNN mengungkapkan bahwa MRAP AS telah didistribusikan kepada kelompok-kelompok milisi termasuk separatis yang didukung UEA. Para separatis menggunakan peralatan ini dalam perang melawan pasukan pemerintah, yang juga dipersenjatai dengan senjata AS. Ini bertentangan dengan kesepakatan senjata.

Mengutip penyelidikan CNN, parlemen AS kemudian melarang penjualan senjata ke Arab Saudi dan UEA. Mereka mengeluarkan Resolusi Kekuatan Perang terhadap Presiden Donald Trump dalam upaya untuk mengakhiri konflik di Yaman. Namun resolusi ini kemudian di veto oleh Trump pada bulan April.

Trump kembali menggunakan hak vetonya pada akhir Juli untuk memblokir trio resolusi Kongres yang melarang penjualan senjata senilai USD8,1 miliar ke berbagai negara, termasuk Arab Saudi dan UEA. Trump berpendapat bahwa mempertahankan aliran senjata ke dua sekutu AS itu diperlukan, merujuk pada masalah keamanan nasional dan kekhawatiran terhadap agresi Iran.

Kesepakatan 2014 yang ditandatangani oleh UEA dengan AS bernilai USD2,5 miliar dan mengharuskan pengiriman 4.500 MRAP.

Di bawah perjanjian penjualan senjata UEA dan Arab Saudi dengan AS, MRAP buatan Amerika dianggap "teknologi berpemilik," yang seharusnya tidak dilepaskan oleh pihak mana pun dari pihaknya.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa pemerintah Amerika menanggapi semua tuduhan penyalahgunaan senjata dengan sangat serius. Namun ia bersikeras bahwa saat ini tidak ada larangan tentang penggunaan MRAP asal AS oleh pasukan koalisi Teluk di Yaman.

Pentagon pun memberikan tanggapannya melalui seorang juru bicaranya juru bicara Letkol Uriah L. Orlan

"Kami tidak dapat mengomentari potensi atau investigasi yang sedang berlangsung dari klaim pelanggaran penggunaan akhir," kata Orlan seperti dikutip dari media berbasis di AS itu, Kamis (6/11/2019).

Namun Orlan juga menegaskan kembali saat ini tidak ada larangan penggunaan MRAP AS di Yaman.

Sementara itu juru bicara koalisi Saudi, Kolonel Turk al-Maliki mengatakan informasi bahwa peralatan militer akan dikirim ke pihak ketiga tidak berdasar.

"Semua peralatan militer digunakan oleh pasukan Saudi sesuai dengan syarat dan ketentuan Penjualan Militer Asing (FMS) yang diadopsi oleh pemerintah AS dan sesuai dengan Undang-Undang Kontrol Ekspor Senjata," ujar Maliki.
(ian)
Berita Terkait
Arab Saudi dan Uni Emirat...
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dari Saudara Menjadi Rival...
8 Negara Mayoritas Muslim...
8 Negara Mayoritas Muslim yang Jadi Sekutu Amerika Serikat
Koalisi Arab Marah Houthi...
Koalisi Arab Marah Houthi Membajak Kapal Berbendera Uni Emirat Arab
Koalisi Saudi Gempur...
Koalisi Saudi Gempur Yaman Habis-habisan setelah Houthi Serang Abu Dhabi
Dikritik Arab Saudi,...
Dikritik Arab Saudi, UEA Tarik Pasukannya dari Yaman
Arab Saudi Kerahkan...
Arab Saudi Kerahkan Uang dan Pengaruh di Yaman setelah Mengusir UEA
Berita Terkini
Didanai Maroko, Nikah...
Didanai Maroko, Nikah Massal Digelar untuk 40 Warga Gaza Penyandang Disabilitas dan Cedera
11 menit yang lalu
Iran Ungkap Proyektil...
Iran Ungkap Proyektil AS Hantam Tongkang Kargo Iran di Lepas Pantai Oman
1 jam yang lalu
Iran Serang Pangkalan...
Iran Serang Pangkalan Yordania Markas Jet Tempur Siluman F-35, F-15, dan F-16 AS
2 jam yang lalu
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
3 jam yang lalu
AS Tolak Masuk Wasit...
AS Tolak Masuk Wasit Piala Dunia Omar Artan, Alasannya Terlibat Organisasi Teroris
5 jam yang lalu
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
8 jam yang lalu
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved