Abaikan PM Irak, Ribuan Warga Terus Banjiri Lapangan Baghdad
Senin, 04 November 2019 - 16:17 WIB
Abaikan PM Irak, Ribuan Warga Terus Banjiri Lapangan Baghdad
A
A
A
BAGHDAD - Ribuan pengunjuk rasa anti-pemerintah berkumpul di pusat Baghdad pada Senin (4/11). Mereka mengabaikan himbauan Perdana Menteri (PM) Adel Abdul Mahdi agar demonstran berhenti berunjuk rasa karena merugikan ekonomi hingga miliaran dolar serta mengganggu kehidupan sehari-hari.
Demonstran memecah hampir dua tahun kondisi yang relatif stabil di Irak sejak 1 Oktober lalu. Lebih dari 250 orang telah tewas sejak unjuk rasa pecah di negara itu.
Meski Irak kaya minyak, banyak warga hidup miskin dengan akses terbatas pada air bersih, listrik, layanan kesehatan atau pendidikan.
"Pemuda hidup dalam kesulitan ekonomi, ledakan bom, tekanan. Kami ingin membongkar elit politik ini seluruhnya. Kami ingin menghapus geng ini, kemudian mungkin kami dapat istirahat," tutur seorang demonstran yang meminta namanya tak diungkap. Dia telah menginap di Lapangan Tahrir Baghdad untuk mengikuti aksi ini.
PM Mahdi meminta pengunjuk rasa menghentikan aksinya yang dianggap telah mencapai tujuan dan merusak ekonomi.
PM Irak menyatakan bersedia mundur jika para politisi sepakat untuk penggantian dan menjanjikan reformasi. Namun pengunjuk rasa menganggap itu tidak cukup dan seluruh elit politik sekarang harus mundur.
Demonstran memecah hampir dua tahun kondisi yang relatif stabil di Irak sejak 1 Oktober lalu. Lebih dari 250 orang telah tewas sejak unjuk rasa pecah di negara itu.
Meski Irak kaya minyak, banyak warga hidup miskin dengan akses terbatas pada air bersih, listrik, layanan kesehatan atau pendidikan.
"Pemuda hidup dalam kesulitan ekonomi, ledakan bom, tekanan. Kami ingin membongkar elit politik ini seluruhnya. Kami ingin menghapus geng ini, kemudian mungkin kami dapat istirahat," tutur seorang demonstran yang meminta namanya tak diungkap. Dia telah menginap di Lapangan Tahrir Baghdad untuk mengikuti aksi ini.
PM Mahdi meminta pengunjuk rasa menghentikan aksinya yang dianggap telah mencapai tujuan dan merusak ekonomi.
PM Irak menyatakan bersedia mundur jika para politisi sepakat untuk penggantian dan menjanjikan reformasi. Namun pengunjuk rasa menganggap itu tidak cukup dan seluruh elit politik sekarang harus mundur.
(sfn)