AS Menahan Bantuan Keamanan Rp1,5 Triliun untuk Lebanon
Jum'at, 01 November 2019 - 14:46 WIB
AS Menahan Bantuan Keamanan Rp1,5 Triliun untuk Lebanon
A
A
A
BEIRUT - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menahan bantuan keamanan senilai USD105 juta (Rp1,5 triliun) untuk Lebanon. Kabar ini muncul dua hari setelah pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad al-Hariri.
"Departemen Luar Negeri (Deplu) AS menjelaskan pada Kongres bahwa kantor anggaran Gedung Putih dan Dewan Keamanan Nasional memutuskan menahan bantuan militer asing," ungkap dua pejabat AS secara anonim, dilansir Reuters.
Para pejabat tidak menjelaskan mengapa bantuan itu diblokir. Salah satu sumber menjelaskan, Deplu AS tidak memberi alasan tentang keputusan itu pada Kongres. Deplu AS juga menolak berkomentar.
Pemerintah berupaya meminta persetujuan untuk bantuan itu mulai Mei, dengan alasan bantua nitu penting bagi Lebanon agar dapat melindungi perbatasannya. Lebanon merupakan mitra penting AS di Timur Tengah yang penuh gejolak.
Bantuan itu termasuk dalam bentuk kaca mata visi malam dan persenjataan yang digunakan untuk keamanan perbatasan.
Meski demikian, AS berulang kali mengungkapkan kekhawatiran tentang semakin menguatnya pengaruh Hezbollah dalam pemerintahan Lebanon. Hezbollah merupakan kelompok Syiah yang didukung Iran dan termasuk dalam daftar organisasi teroris oleh AS.
Setelah pengunduran diri Hariri pada pekan lalu karena unjuk rasa yang terus meluas, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Mike Pompeo mendorong para pemimpin politik membantu membentuk pemerintahan baru untuk memenuhi tuntutan rakyat dan menyerukan diakhirinya wabah korupsi.
"Departemen Luar Negeri (Deplu) AS menjelaskan pada Kongres bahwa kantor anggaran Gedung Putih dan Dewan Keamanan Nasional memutuskan menahan bantuan militer asing," ungkap dua pejabat AS secara anonim, dilansir Reuters.
Para pejabat tidak menjelaskan mengapa bantuan itu diblokir. Salah satu sumber menjelaskan, Deplu AS tidak memberi alasan tentang keputusan itu pada Kongres. Deplu AS juga menolak berkomentar.
Pemerintah berupaya meminta persetujuan untuk bantuan itu mulai Mei, dengan alasan bantua nitu penting bagi Lebanon agar dapat melindungi perbatasannya. Lebanon merupakan mitra penting AS di Timur Tengah yang penuh gejolak.
Bantuan itu termasuk dalam bentuk kaca mata visi malam dan persenjataan yang digunakan untuk keamanan perbatasan.
Meski demikian, AS berulang kali mengungkapkan kekhawatiran tentang semakin menguatnya pengaruh Hezbollah dalam pemerintahan Lebanon. Hezbollah merupakan kelompok Syiah yang didukung Iran dan termasuk dalam daftar organisasi teroris oleh AS.
Setelah pengunduran diri Hariri pada pekan lalu karena unjuk rasa yang terus meluas, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Mike Pompeo mendorong para pemimpin politik membantu membentuk pemerintahan baru untuk memenuhi tuntutan rakyat dan menyerukan diakhirinya wabah korupsi.
(sfn)