Assad Mengaku Tak Ingin Bermusuhan dengan Turki
Jum'at, 01 November 2019 - 14:21 WIB
Assad Mengaku Tak Ingin Bermusuhan dengan Turki
A
A
A
DAMASKUS - Presiden Suriah, Bashar al-Assad mengatakan, dia tidak ingin membuat Turki menjadi musuh mereka, meskipun invasi yang terakhir telah menyebabkan konfrontasi antara pasukan mereka. Assad meminta Rusia dan Iran untuk membantu meredam ketegangan Suriah dan Turki.
Assad mengatakan, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan sendiri adalah "musuh" karena kebijakan yang bermusuhan dengan Suriah dan ditentang oleh sebagian besar elit politik negaranya.
"Tetapi kita harus memastikan bahwa kita tidak mengubah Turki menjadi musuh dan inilah peran teman-teman, seperti Rusia dan Iran," ucap Assad dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Al Arabiya pada Jumat (1/11/2019).
Seperti diketahui, Turki melancarkan operasi militer di timur laut Suriah. Target utama operasi tersebut adalah milisi Kurdi Suriah dan juga pasukan ISIS.
Merasa dikhianati oleh Amerika Serikat (AS), yang memutuskan menarik pasukan mereka dari Suriah, para milisi Kurdi meminta bantuan kepada Damaskus. Milisi Kurdi menandatangani kesepakatan yang ditengahi Rusia dengan pemerintah Suriah, di mana Kurdi mengizinkan Damaskus untuk mengerahkan pasukan di sepanjang perbatasan dengan Turki untuk mencegah agresi Ankara.
Sebuah nota kesepahaman 10 poin antara Turki dan Rusia mengakhiri serangan Suriah, tetapi Ankara terus mengancam untuk melanjutkan operasi jika ketentuan-ketentuan kesepakatan itu tidak dihormati.
Assad mengatakan, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan sendiri adalah "musuh" karena kebijakan yang bermusuhan dengan Suriah dan ditentang oleh sebagian besar elit politik negaranya.
"Tetapi kita harus memastikan bahwa kita tidak mengubah Turki menjadi musuh dan inilah peran teman-teman, seperti Rusia dan Iran," ucap Assad dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Al Arabiya pada Jumat (1/11/2019).
Seperti diketahui, Turki melancarkan operasi militer di timur laut Suriah. Target utama operasi tersebut adalah milisi Kurdi Suriah dan juga pasukan ISIS.
Merasa dikhianati oleh Amerika Serikat (AS), yang memutuskan menarik pasukan mereka dari Suriah, para milisi Kurdi meminta bantuan kepada Damaskus. Milisi Kurdi menandatangani kesepakatan yang ditengahi Rusia dengan pemerintah Suriah, di mana Kurdi mengizinkan Damaskus untuk mengerahkan pasukan di sepanjang perbatasan dengan Turki untuk mencegah agresi Ankara.
Sebuah nota kesepahaman 10 poin antara Turki dan Rusia mengakhiri serangan Suriah, tetapi Ankara terus mengancam untuk melanjutkan operasi jika ketentuan-ketentuan kesepakatan itu tidak dihormati.
(esn)