Mantan Investigator PBB: Erdogan Harus Diadili Terkait Suriah
Minggu, 27 Oktober 2019 - 06:30 WIB
Mantan Investigator PBB: Erdogan Harus Diadili Terkait Suriah
A
A
A
ZURICH - Mantan jaksa dan investigator Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Carla del Ponte menyatakan Presiden Turki Tayyip Erdogan harus diinvestigasi dan didakwa atas kejahatan perang terkait serangan militer di Suriah.
Del Ponte merupakan mantan anggota Komisi Penyelidikan PBB di Suriah. Dia menyatakan intervensi Turki melanggar hukum internasional dan memicu kembali konflik di Suriah.Turki menyatakan serangan itu murni menargetkan milisi Kurdi YPG yang dianggap sebagai kelompok teroris.
"Bagi Erdogan dapat menginvasi wilayah Suriah untuk menghancurkan Kurdi itu luar biasa," kata del Ponte yang juga mantan jaksa agung Swiss yang mengadili kejahatan perang di Rwanda dan bekas Yugoslavia.
Dia menambahkan, "Investigasi harus dibuka terhadap dia dan dia harus didakwa dengan kejahatan perang. Dia tidak boleh diizinkan lepas dengan gratis."
Turki telah menghentikan serangan militer pekan lalu setelah Amerika Serikat (AS) memediasi gencatan senjata. Erdogan kemudian membuat kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin agar pasukan Rusia dan Suriah membersihkan milisi YPG di wilayah perbatasan Suriah-Turki.
Mulai Selasa (29/10), pasukan Rusia dan Turki akan mulai berpatroli di wilayah sepanjang radius 10 km di Suriah timur laut. Wilayah itu pernah ditempati oleh pasukan AS dan milisi Kurdi.
Del Ponte merupakan mantan anggota Komisi Penyelidikan PBB di Suriah. Dia menyatakan intervensi Turki melanggar hukum internasional dan memicu kembali konflik di Suriah.Turki menyatakan serangan itu murni menargetkan milisi Kurdi YPG yang dianggap sebagai kelompok teroris.
"Bagi Erdogan dapat menginvasi wilayah Suriah untuk menghancurkan Kurdi itu luar biasa," kata del Ponte yang juga mantan jaksa agung Swiss yang mengadili kejahatan perang di Rwanda dan bekas Yugoslavia.
Dia menambahkan, "Investigasi harus dibuka terhadap dia dan dia harus didakwa dengan kejahatan perang. Dia tidak boleh diizinkan lepas dengan gratis."
Turki telah menghentikan serangan militer pekan lalu setelah Amerika Serikat (AS) memediasi gencatan senjata. Erdogan kemudian membuat kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin agar pasukan Rusia dan Suriah membersihkan milisi YPG di wilayah perbatasan Suriah-Turki.
Mulai Selasa (29/10), pasukan Rusia dan Turki akan mulai berpatroli di wilayah sepanjang radius 10 km di Suriah timur laut. Wilayah itu pernah ditempati oleh pasukan AS dan milisi Kurdi.
(sfn)