Eks Tahanan Kamp Xinjiang: Tahanan Diperkosa, Jadi Eksperimen Medis

Rabu, 23 Oktober 2019 - 07:17 WIB
Eks Tahanan Kamp Xinjiang: Tahanan Diperkosa, Jadi Eksperimen Medis
Eks Tahanan Kamp Xinjiang: Tahanan Diperkosa, Jadi Eksperimen Medis
A A A
NUR SULTAN - Seorang wanita Muslim yang melarikan diri dari kamp "pendidikan ulang" di Xinjiang, China, mengatakan para tahanan diperkosa, disiksa, dijadikan eksperimen medis dan dipaksa makan daging babi.

Sayragul Sauytbay, seorang wanita Muslim China keturunan Kazakh, mengatakan dia ditahan di kamp tersebut pada November 2017. Guru berusia 43 tahun itu mengaku pernah dikawal oleh orang-orang bersenjata ke sebuah kamp, ​​di mana dia ditahan selama beberapa bulan.

Di kamp, dia diperintahkan untuk mengajar para tahanan. "Dilarang berbicara dengan para tahanan, dilarang tertawa, dilarang menangis dan dilarang menjawab pertanyaan dari siapa pun," katanya.

“Ada hampir 20 orang di ruangan seluas 16 meter persegi. Ada kamera di kamar mereka juga, dan juga di koridor. Setiap kamar memiliki ember plastik untuk toilet. Setiap tahanan diberi waktu dua menit sehari untuk menggunakan toilet, dan ember hanya dikosongkan sekali sehari," paparnya.

Sautybay mengatakan para wanita diperkosa secara sistematis dan dia dipaksa untuk menonton seorang wanita yang berulang kali diserang.

"Polisi memerintahkan dia untuk lepas jubah dan memerkosanya satu demi satu, di depan semua orang," katanya kepada Haaretz.

“Ketika mereka memerkosanya, mereka memeriksa untuk melihat bagaimana reaksi kami. Orang-orang yang memalingkan kepala atau memejamkan mata, dan mereka yang terlihat marah atau terkejut, dibawa pergi dan kami tidak pernah melihat mereka lagi," ujarnya.

"Itu mengerikan. Saya tidak akan pernah melupakan perasaan tidak berdaya, tidak bisa membantunya."

Dia menambahkan, "Setiap hari polisi membawa gadis-gadis cantik, dan mereka tidak kembali ke kamar sepanjang malam."

Laporan para aktivis kelompok HAM mengatakan China telah menahan lebih dari satu juta orang dari mayoritas etnik minoritas Muslim di provinsi Xinjiang sejak 2017.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1372 seconds (11.252#12.26)