Hindari Serangan Turki, 100 Ribu Warga Suriah Mengungsi
Selasa, 15 Oktober 2019 - 00:24 WIB
Hindari Serangan Turki, 100 Ribu Warga Suriah Mengungsi
A
A
A
DAMASKUS - PBB menuturkan, sekitar 100 ribu orang telah meninggalkan rumah mereka di timur laut Suriah untuk menghindari serangan Turki. PBB juga menyebut, semakin banyak yang tinggal di tempat penampungan dan sekolah.
Turki dan pasukan sekutu Suriahnya pada hari Rabu lalu melancarkan serangan militer lintas perbatasan yang mematikan terhadap daerah-daerah yang dikuasai SDF. Serangan itu telah mengakibatkan tembakan artileri yang terjadi di dekat sejumlah fasilitas penting, termasuk beberapa penjara di mana ribuan tersangka ISIS ditahan.
Dalam sebuah pernyataan, PBB menuturkan bahwa pemerintah otonomi Kurdi di timur laut Suriah mulai mengevakuasi sebuah kamp yang menampung 7.000 orang terlantar untuk melindungi mereka dari serangan Turki.
"Kamp Mabroka, 12 km selatan perbatasan, dihantam oleh penembakan yang merupakan ancaman langsung terhadap kehidupan lebih dari 7.000 orang terlantar," bunyi pernyataan tersebut, seperti dilansir Russia Today pada Selasa (15/10/2019).
Warga sipil, papar PBB, akan dipindahkan ke sebuah kamp yang dikenal sebagai Arisha, yang terletak lebih jauh ke selatan di wilayah yang belum menjadi sasaran Turki.
Sementara itu, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan, ancaman sanksi dan embargo senjata oleh Barat tidak akan menghentikan serangan militer terhadap milisi
Turki dan pasukan sekutu Suriahnya pada hari Rabu lalu melancarkan serangan militer lintas perbatasan yang mematikan terhadap daerah-daerah yang dikuasai SDF. Serangan itu telah mengakibatkan tembakan artileri yang terjadi di dekat sejumlah fasilitas penting, termasuk beberapa penjara di mana ribuan tersangka ISIS ditahan.
Dalam sebuah pernyataan, PBB menuturkan bahwa pemerintah otonomi Kurdi di timur laut Suriah mulai mengevakuasi sebuah kamp yang menampung 7.000 orang terlantar untuk melindungi mereka dari serangan Turki.
"Kamp Mabroka, 12 km selatan perbatasan, dihantam oleh penembakan yang merupakan ancaman langsung terhadap kehidupan lebih dari 7.000 orang terlantar," bunyi pernyataan tersebut, seperti dilansir Russia Today pada Selasa (15/10/2019).
Warga sipil, papar PBB, akan dipindahkan ke sebuah kamp yang dikenal sebagai Arisha, yang terletak lebih jauh ke selatan di wilayah yang belum menjadi sasaran Turki.
Sementara itu, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan, ancaman sanksi dan embargo senjata oleh Barat tidak akan menghentikan serangan militer terhadap milisi
(esn)