Sarat Materi Jihad, Kurikulum Sekolah Palestina Dianggap Lebih Radikal

Rabu, 04 September 2019 - 23:12 WIB
Sarat Materi Jihad,...
Sarat Materi Jihad, Kurikulum Sekolah Palestina Dianggap Lebih Radikal
A A A
RAMALLAH - Sebuah lembaga penelitian internasional menilai kurikulum sekolah Otoritas Palestina saat ini lebih radikal dari kurikulum sebelumnya. Alasannya, materi kurikulum dibebani dengan ide-ide kemartiran dan jihad.

Penilaian itu disampaikan oleh IMPACT-se, sebuah lembaga penelitian dan kebijakan yang menganalisis bagaimana buku teks diukur dengan standar UNESCO untuk penerimaan, perdamaian dan toleransi.

Menurut IMPACT-se, kurikulum sekolah Otoritas Palestina mendorong anak-anak untuk mati syahid, dan bahkan menghitung para martir dalam soal matematika seperti anak-anak menghitung apel.

"Melihat buku-buku pelajaran di Timur Tengah, kami telah melihat peningkatan," kata CEO IMPACT-se, Marcus Sheff, kepada Fox News.

"Itu benar untuk kurikulum Yordania, kurikulum Tunisia memiliki standar yang baik dan kami melihat peningkatan di Mesir," ujarnya.

"Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya dari kurikulum Palestina," papar Sheff. "Kurikulum baru yang direformasi diberlakukan antara 2016 dan 2019 dan lebih radikal dari kurikulum yang datang sebelumnya."

Dia menambahkan bahwa kurikulum saat ini mendorong anak-anak sekolah untuk mengorbankan diri mereka sendiri. "Konten yang berkaitan dengan perdamaian dengan Israel telah sengaja dikeluarkan dari kurikulum," imbuh Sheff, yang dilansir Rabu (4/9/2019).

Sheff mengatakan kepada Fox News bahwa penelitian lembaganya menemukan bahwa studi sosial, sejarah dan buku teks Arab di Otoritas Palestina untuk kelas 2 sampai 12 terdapat "konten yang bermasalah".

Dia menambahkan bahwa lembaga itu juga menemukan konten yang bermasalah dalam sains."Termasuk mengajar matematika dengan bertanya orang-orang muda melakukan penambahan (jumlah) para martir dalam Intifada Pertama dan Intifada Kedua dan bertanya kepada mereka berapa banyak martir, daripada menggunakan penghitungan apel," kata Sheff.

Intifada Pertama adalah pemberontakan Palestina terhadap pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza yang dimulai pada Desember 1987 dan mengakibatkan kematian lebih dari 2.000 orang. Intifada Kedua dimulai pada September 2000 dengan seruan untuk melakukan kekerasan setelah kunjungan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon ke Temple Mount, sebuah situs suci untuk umat Yahudi dan Muslim di Yerusalem. Lebih dari 4.000 orang terbunuh dalam minggu-minggu berikutnya setelah para pemimpin Palestina melepaskan gelombang bom bunuh diri yang mematikan.

Tahun lalu, Parlemen Eropa mengesahkan undang-undang yang ditujukan untuk mencegah konten kebencian dalam materi pendidikan Palestina.

IMPACT-se dan organisasi lain juga menyajikan contoh konten anti-Israel dan anti-Yahudi di buku teks Palestina bulan lalu dalam sesi ke-99 Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial (CERD) di Swiss.

"Untuk pertama kalinya sebuah komite PBB meminta Palestina untuk menghentikan pidato kebencian setelah IMPACT-se mempresentasikan kepada komite (CERD) anti-Semitisme dan kebencian dalam buku-buku teks Palestina," kata Sheff, merujuk pada sebuah laporan yang dikeluarkan oleh CERD pekan lalu.

Sheff juga mencatat bahwa undang-undang yang diperkenalkan di Amerika Serikat pada bulan April tahun ini memiliki tujuan untuk mencegah kebencian dalam kurikulum sekolah.

"Legislasi yang diloloskan Komite Urusan Luar Negeri House, HR2343, adalah kesempatan bagi Kongres AS untuk menambahkan suaranya kepada Parlemen Eropa dan PBB dalam menuntut agar kebencian dalam kurikulum dihapus sekali dan untuk semua," kata Sheff.

Sheff mengatakan IMPACT-se akan terus mempresentasikan temuannya kepada Kongres AS, PBB dan legislator di seluruh dunia."Khususnya negara-negara donor yang mendanai Kementerian Pendidikan Palestina," ujarnya.

Dia mengatakan lembaganya akan terus menuntut agar kurikulumnya diubah."Anak-anak Palestina diajari bahwa cara untuk menyelesaikan konflik adalah melalui penciptaan perdamaian dan bukan perang berkelanjutan," katanya.

Baik Kementerian Pendidikan Palestina maupun misi Palestina di PBB tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Fox News.
(mas)
Berita Terkait
Alasan Amerika Serikat...
Alasan Amerika Serikat Tak Mengakui Palestina sebagai Negara Merdeka
Sidang PBB Bahas Konflik...
Sidang PBB Bahas Konflik Palestina
Pakar HAM PBB Kecam...
Pakar HAM PBB Kecam Rencana Aneksasi Israel dan Dukungan AS
Amerika Serikat Desak...
Amerika Serikat Desak Pemimpin Palestina Diganti, PLO Tak Terima
AS Edarkan Rancangan...
AS Edarkan Rancangan Resolusi PBB Hak Israel Membela Diri
Gunakan Hak Veto, AS...
Gunakan Hak Veto, AS Gagalkan Palestina Jadi Anggota PBB
Berita Terkini
375 Kg Emas Disita Terkait...
375 Kg Emas Disita Terkait Korupsi Wakil Menteri
21 menit yang lalu
Pakar Militer Ini Prediksi...
Pakar Militer Ini Prediksi Serangan AS Tak Mampu Lumpuhkan Militer Iran yang Menguasai Selat Hormuz
38 menit yang lalu
Eks Komandan IRGC: Iran...
Eks Komandan IRGC: Iran Mampu Membunuh Trump di Dalam Gedung Putih
55 menit yang lalu
AS Bombardir Iran Pagi...
AS Bombardir Iran Pagi Ini usai Trump Janji Serang Teheran Sangat Keras
1 jam yang lalu
Beberapa Jam Meninggal...
Beberapa Jam Meninggal setelah Berkunjung ke Ukraina, Siapa Lindsey Graham?
1 jam yang lalu
Perang Timur Tengah...
Perang Timur Tengah Bak Neraka: Iran Melawan AS, Arab Saudi Melawan Houthi Yaman
2 jam yang lalu
Infografis
20 Negara yang Pernah...
20 Negara yang Pernah Dijajah Alexander Agung, dari Pakistan hingga Palestina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved