Bela Demonstran, 9.000 Siswa Seluruh Hong Kong Boikot Sekolah
Senin, 02 September 2019 - 15:39 WIB
Bela Demonstran, 9.000 Siswa Seluruh Hong Kong Boikot Sekolah
A
A
A
HONG KONG - Ribuan siswa sekolah menengah dan mahasiwa di seluruh kota Hong Kong, China, memboikot kampus-kampus mereka pada hari pertama tahun ajaran baru, Senin (2/9/2019). Mereka beraksi di luar kampus masing-masing sebagai dukungan untuk demonstran pro-demokrasi.
Para demonstran dilaporkan kembali beraksi dengan mengganggu jaringan transportasi umum. Polisi antihuru-hara berpatroli di berbagai stasiun jaringan angkutan massal wilayah itu ketika para pengunjuk rasa menutup pintu-pintu kereta api.
Aksi para demonstran menyebabkan penundaan jadwal kereta dan membuat jam sibuk pagi hari menjadi kacau. Polisi menangkap setidaknya satu kelompok pengunjuk rasa.
Penyelenggara aksi pelajar dan mahasiswa memboikot kampus memperkirakan setidaknya 9.000 siswa yang berasal dari sekitar 200 sekolah berpartisipasi dalam boikot kelas. Aksi boikot direncanakan berlangsung hingga Selasa dan berlanjut selama seminggu sampai tuntutan para pemrotes terpenuhi.
Para siswa sekolah menengah terlihat berlutut, berpegangan tangan, dan bernyanyi dalam guyuran hujan di luar sekolah mereka. Di Kowloon, lusinan siswa dan alumni berdiri di luar sekolah menengah Kristen, Ying Wa College, pada pukul 07.00 pagi.
"Bebaskan Hong Kong! Demokrasi sekarang!," teriak para siswa mengenakan seragam sekolah, topeng dan kacamata, seperti dikutip The Guardian. Mereka berencana untuk memboikot upacara pembukaan tahun ajaran baru.
Beberapa siswa melukis satu sisi kacamata mereka dengan warna merah. Itu sebagai dukungan pada seorang wanita yang mengalami kebutaan satu mata ketika ikut demo. Salah satu siswa memegang tanda kuning dengan kutipan ayat Alkitab. "Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena (tempat) mereka adalah kerajaan surga," bunyi kutipan pada tanda kuning tersebut.
“Kami bersedia menyerahkan martabat kami hanya untuk meminta masyarakat yang berubah," kata Thomas Loh, salah satu siswa yang membantu mengatur boikot kelas di sekolahnya.
Selama 13 minggu terakhir, pengunjuk rasa telah turun ke jalan untuk menuntut penarikan resmi rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang saat ini statusnya ditangguhkan pemerintah Hong Kong. Jika disahkan menjadi undang-undang, aturan itu akan memungkinkan ekstradisi seorang tersangka yang diburu Beijing ke China untuk diadili dan dihukum di sana.
Seiring berlarut-larutnya protes, para demonstran menyuarakan tuntutan lain termasuk melembagakan reformasi demokratis dan melakukan penyelidikan independen terhadap perilaku brutal polisi.
Pada hari Minggu, para demonstran berusaha untuk mengepung bandara, yang memicu respons cepat dari polisi antihuru-hara. Pada hari Sabtu, polisi antihuru-hara menyerbu stasiun metro dan menyerang demonstran yang terperangkap dengan pentungan.
Beberapa editorial di media pemerintah China pada hari Senin mengecam ulah para demonstran sebagai aksi "gila dan ganas" karena membawa "bencana" pada ekonomi Hong Kong. Editorial di situs web kantor berita pemerintah, Xinhua, memperingatkan akhir riwayat bagi mereka yang berusaha mengganggu Hong Kong.
Para demonstran dilaporkan kembali beraksi dengan mengganggu jaringan transportasi umum. Polisi antihuru-hara berpatroli di berbagai stasiun jaringan angkutan massal wilayah itu ketika para pengunjuk rasa menutup pintu-pintu kereta api.
Aksi para demonstran menyebabkan penundaan jadwal kereta dan membuat jam sibuk pagi hari menjadi kacau. Polisi menangkap setidaknya satu kelompok pengunjuk rasa.
Penyelenggara aksi pelajar dan mahasiswa memboikot kampus memperkirakan setidaknya 9.000 siswa yang berasal dari sekitar 200 sekolah berpartisipasi dalam boikot kelas. Aksi boikot direncanakan berlangsung hingga Selasa dan berlanjut selama seminggu sampai tuntutan para pemrotes terpenuhi.
Para siswa sekolah menengah terlihat berlutut, berpegangan tangan, dan bernyanyi dalam guyuran hujan di luar sekolah mereka. Di Kowloon, lusinan siswa dan alumni berdiri di luar sekolah menengah Kristen, Ying Wa College, pada pukul 07.00 pagi.
"Bebaskan Hong Kong! Demokrasi sekarang!," teriak para siswa mengenakan seragam sekolah, topeng dan kacamata, seperti dikutip The Guardian. Mereka berencana untuk memboikot upacara pembukaan tahun ajaran baru.
Beberapa siswa melukis satu sisi kacamata mereka dengan warna merah. Itu sebagai dukungan pada seorang wanita yang mengalami kebutaan satu mata ketika ikut demo. Salah satu siswa memegang tanda kuning dengan kutipan ayat Alkitab. "Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena (tempat) mereka adalah kerajaan surga," bunyi kutipan pada tanda kuning tersebut.
“Kami bersedia menyerahkan martabat kami hanya untuk meminta masyarakat yang berubah," kata Thomas Loh, salah satu siswa yang membantu mengatur boikot kelas di sekolahnya.
Selama 13 minggu terakhir, pengunjuk rasa telah turun ke jalan untuk menuntut penarikan resmi rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang saat ini statusnya ditangguhkan pemerintah Hong Kong. Jika disahkan menjadi undang-undang, aturan itu akan memungkinkan ekstradisi seorang tersangka yang diburu Beijing ke China untuk diadili dan dihukum di sana.
Seiring berlarut-larutnya protes, para demonstran menyuarakan tuntutan lain termasuk melembagakan reformasi demokratis dan melakukan penyelidikan independen terhadap perilaku brutal polisi.
Pada hari Minggu, para demonstran berusaha untuk mengepung bandara, yang memicu respons cepat dari polisi antihuru-hara. Pada hari Sabtu, polisi antihuru-hara menyerbu stasiun metro dan menyerang demonstran yang terperangkap dengan pentungan.
Beberapa editorial di media pemerintah China pada hari Senin mengecam ulah para demonstran sebagai aksi "gila dan ganas" karena membawa "bencana" pada ekonomi Hong Kong. Editorial di situs web kantor berita pemerintah, Xinhua, memperingatkan akhir riwayat bagi mereka yang berusaha mengganggu Hong Kong.
(mas)