Rusia Sebut Barat Perlakukan Teroris Suriah seperti Bayi Tak Bersalah

Jum'at, 30 Agustus 2019 - 16:49 WIB
Rusia Sebut Barat Perlakukan...
Rusia Sebut Barat Perlakukan Teroris Suriah seperti Bayi Tak Bersalah
A A A
NEW YORK - Moskow melalui Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Dmitry Polyanskiy, mengecam negara-negara Barat yang menyerukan penghentian aksi bersenjata setiap kali pasukan Suriah merebut wilayah dan memukul mundur kelompok teroris.

"Rekan-rekan Barat kami menguatkan erangan dan seruan mereka untuk menghentikan aksi bersenjata, seolah-olah melupakan keputusan bersama kami untuk memerangi terorisme dengan cara yang tak kenal kompromi," katanya.

"Kemudian, seperti yang Anda lihat hari ini, teroris (seperti) menjadi bayi yang tidak bersalah. Konsensus yang mendukung sebuah Suriah baru yang damai yang dimiliki oleh orang-orang Suriah daripada anak didik dan tentara bayaran Barat sudah ada. Teroris dan mereka yang mendukungnya bukanlah orang-orang yang memegang inisiatif," ujar Polyanskiy seperti dikutip Sputniknews, Jumat (30/8/2019).

Koordinator Politik Inggris untuk PBB, Stephen Hickey, sebelumnya mengklaim pada hari Kamis selama pertemuan DK PBB bahwa masih ada lebih banyak bayi daripada teroris di Idlib.

Konflik bersenjata di Suriah telah berlangsung sejak 2011. Pada Agustus 2015, Presiden Suriah Bashar al-Assad meminta bantuan militer Rusia dalam menghadapi pasukan oposisi bersenjata, termasuk sejumlah organisasi teroris.

Pasukan pemerintah Assad telah mendapatkan kembali kendali atas sebagian besar wilayah dan menyatakan kemenangan atas kelompok teroris Daesh atau ISIS. Kendati demikian, beberapa bagian dari provinsi Idlib masih dikendalikan kelompok teroris seperti Jabhat al-Nusra.

Pada awal Agustus, gencatan senjata yang telah lama dibahas diberlakukan di Idlib. Para pemimpin militer Suriah mengatakan akan melanjutkan operasi militernya di Suriah barat laut jika Turki gagal melaksanakan kewajibannya berdasarkan perjanjian Turki-Rusia pada September 2018 yang dicapai di Sochi.

Tiga hari kemudian, pada 5 Agustus, pasukan pemerintah Suriah melanjutkan operasi karena ketidakpatuhan militan dengan perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh Rusia dan Turki.

Rusia, Turki dan Iran adalah penjamin gencatan senjata di Suriah yang terkena dampak konflik. Rusia melakukan operasi kemanusiaan di seluruh negeri secara teratur dan membantu Damaskus dalam menyediakan jalan yang aman bagi kembalinya para pengungsi Suriah.
(mas)
Berita Terkait
Agen-agen Ukraina Bersekutu...
Agen-agen Ukraina Bersekutu dengan Al-Qaeda di Suriah
Sekutu AS Tuduh Turki...
Sekutu AS Tuduh Turki Beri Zona Aman untuk ISIS
Intelijen AS dan Inggris...
Intelijen AS dan Inggris Minta ISIS Serang Pangkalan Militer Rusia di Suriah
Benarkah Al Qaeda Didanai...
Benarkah Al Qaeda Didanai Israel? Ini Penjelasannya
Profil Ahmed al-Sharaa,...
Profil Ahmed al-Sharaa, Pemimpin De Facto Suriah yang Dulunya Komandan Al Qaeda
Pemimpin ISIS Abu al-Hasan...
Pemimpin ISIS Abu al-Hasan Tewas dalam Pertempuran
Berita Terkini
Trump Telah Teken Nota...
Trump Telah Teken Nota Kesepahaman AS-Iran, Ini Rincian 14 Poinnya
44 menit yang lalu
Langka, Trump Bela Hak...
Langka, Trump Bela Hak Iran Memiliki Rudal Balistik
1 jam yang lalu
Serangan Israel ke Lebanon...
Serangan Israel ke Lebanon Bisa Gagalkan Perdamaian AS dan Iran, Ini 3 Alasannya
3 jam yang lalu
4 Alasan Iran Mampu...
4 Alasan Iran Mampu Memberikan Pukulan Telak ke Amerika Serikat dan Israel
4 jam yang lalu
Mengapa Kekejaman Israel...
Mengapa Kekejaman Israel di Lebanon Bisa Picu Pembalasan dari Iran?
5 jam yang lalu
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
6 jam yang lalu
Infografis
Penyebab Jerman Tak...
Penyebab Jerman Tak Siap Hadapi Perang Dunia III Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved