Turki Kirim Sinyal Tunda Pengiriman S-400 Rusia

Rabu, 29 Mei 2019 - 08:34 WIB
Turki Kirim Sinyal Tunda...
Turki Kirim Sinyal Tunda Pengiriman S-400 Rusia
A A A
ANKARA - Pejabat militer senior Turki mengatakan kemungkinan ada penundaan pengiriman sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. Pembelian S-400 Rusia ini mengancam memperburuk ketegangan antara Ankara dan pemerintahan Trump.

"Itu mungkin tidak terjadi pada bulan Juni tetapi itu akan datang dalam beberapa bulan mendatang," ujar Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar kepada televisi Haberturk pada Senin malam.

"Prosesnya sudah dimulai," imbuhnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (29/5/2019).

Menurut Turki, pengiriman baterai rudal S-400 pada awalnya dijadwalkan pada bulan Juli sampai Rusia menawarkan untuk memajukannya satu bulan. Para pejabat Turki pekan lalu mengatakan mereka bekerja dengan Washington untuk menentukan tanggal kemungkinan kunjungan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang kemungkinan akan terjadi pada bulan Juli.

Akar tidak mengatakan apakah penundaan yang dia harapkan disebabkan oleh alasan teknis atau bertujuan menunda pertemuan dengan AS. Dia mengatakan Turki akan menyelesaikan evaluasi proposal AS terbaru untuk menjual sistem pertahanan udara Patriot pada Oktober atau November.

Seorang pejabat tinggi pemerintah Turki, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa tidak ada perubahan pada jadwal yang telah disepakati sebelumnya untuk rudal S-400, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

AS awal bulan ini meminta Ankara untuk menunda pengiriman sistem menjadi tahun 2020. Tetapi pejabat Turki, yang dipimpin oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan, telah berjanji untuk terus maju meskipun berisiko tinggi dijatuhi sanksi oleh AS yang dapat menjerumuskan negara itu ke dalam gejolak ekonomi baru.

AS menentang Turki untuk membeli rudal S-400 karena dinilai dapat mengumpulkan informasi intelijen tentang kemampuan siluman dari pesawat tempur F-35 generasi berikutnya dan telah mengancam sanksi terhadap Turki. Turki juga diperingatkan bisa dikeluarkan dari program pengembangan jet tempur.

Ketika AS terakhir menjatuhkan sanksi kepada beberapa anggota pemerintah Turki, atas penangkapan seorang pastor Amerika, hal itu menambah masalah yang sudah menghantui ekonomi bangsa. Penurunan nilai mata uang yang terjadi selanjutnya mempercepat resesi pertama negara itu dalam satu dekade.

AS sendiri sebelumnya telah menolak keras menjual rudal Patriot dan berbagi teknologinya kepada Turki selama bertahun-tahun. Pada bulan Desember, Departemen Luar Negeri AS memberi tahu Kongres bahwa mereka mengusulkan untuk mengizinkan penjualan. Ini sebuah langkah yang tampaknya dirancang untuk membuat Erdogan membatalkan kesepakatan S-400 dengan Rusia.
(ian)
Berita Terkait
Kecil Kemungkinan Turki...
Kecil Kemungkinan Turki Jual S-400 Rusia ke AS
Menlu AS Desak Turki...
Menlu AS Desak Turki Buang S-400 Rusia
Disuruh Buang S-400...
Disuruh Buang S-400 Rusia, Ini Jawaban Turki
AS Nilai Keberadaan...
AS Nilai Keberadaan S-400 Rusia Ganggu Hubungan dengan Turki
Moskow Larang Turki...
Moskow Larang Turki Jual Sistem Rudal S-400 Rusia ke AS
AS Bersiap Sanksi Turki...
AS Bersiap Sanksi Turki Atas Pembelian S-400 Rusia
Berita Terkini
AS Hendak Kerahkan Senjata...
AS Hendak Kerahkan Senjata Nuklir ke Lebih Banyak Negara NATO, Bisa Bikin Rusia Murka
53 menit yang lalu
6 Jet Tempur Canggih...
6 Jet Tempur Canggih yang Bakal Panaskan Langit ASEAN: F-35 Singapura hingga Rafale Indonesia
1 jam yang lalu
Bos NATO: Ukraina Menang...
Bos NATO: Ukraina Menang Perang, Rusia Semakin Putus Asa!
2 jam yang lalu
Trump Akui Mendamprat...
Trump Akui Mendamprat Netanyahu dengan Makian Kasar: 'Saya Sedikit Terganggu...'
3 jam yang lalu
Meski AS-Iran Musuh...
Meski AS-Iran Musuh Bebuyutan, Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei
4 jam yang lalu
Kim Jong-un Janji Tingkatkan...
Kim Jong-un Janji Tingkatkan Bom Nuklir Secara Eksponensial, Sebut Musuh Korut Sangat Ganas
4 jam yang lalu
Infografis
5 Kapal Selam Serang...
5 Kapal Selam Serang Terbaik, AS dan Rusia Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved