Sekjen PBB Khawatir 'Peti Mati' Nuklir di Pasifik Bocor

Jum'at, 17 Mei 2019 - 04:48 WIB
Sekjen PBB Khawatir...
Sekjen PBB Khawatir 'Peti Mati' Nuklir di Pasifik Bocor
A A A
SUVA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, khawatir kubah beton penampung limbah tes bom nuklir di Pasifik bocor. Kubah yang dia gambarkan sebagai "peti mati" nuklir itu berisiko mengeluarkan bahan radioaktif yang bisa menjadi bencana mengerikan.

Berbicara kepada pelajar di Fiji pada hari Kamis, Guterres mengatakan kubah beton di Enewetak Atoll, Kepulauan Marshall adalah warisan dari uji coba bom nuklir era Perang Dingin di Pasifik.

"Pasifik menjadi korban di masa lalu seperti yang kita semua tahu," kata Guterres, merujuk pada ledakan nuklir yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Prancis di wilayah tersebut.

Di Marshalls, banyak penduduk pulau dievakuasi secara paksa dari tanah leluhur dan dimukimkan kembali. Ribuan warga lainnya terkena dampak radioaktif.

Tes senjata nuklir di wilayah itu termasuk bom hidrogen "Bravo" tahun 1954, bom terkuat yang pernah diledakkan oleh AS. Kekuatan bom Bravo itu sekitar 1.000 kali lebih besar dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.

Guterres, yang sedang melakukan perjalanan ke Pasifik Selatan untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu perubahan iklim, mengatakan penduduk kepulauan Pasifik masih membutuhkan bantuan untuk menghadapi dampak dari uji coba senjata nuklir.

"Konsekuensi dari ini sangat dramatis, dalam kaitannya dengan kesehatan, dalam kaitannya dengan keracunan air di beberapa daerah," katanya.

"Saya baru saja bersama presiden Kepulauan Marshall (Hilda Heine), yang sangat khawatir karena ada risiko bocornya bahan radioaktif yang terkandung dalam semacam peti mati di daerah itu," ujarnya, seperti dikutip Sputnik, Jumat (17/5/2019).

"Peti mati" nuklir tersebut dibangun pada akhir 1970-an di Pulau Runit, bagian dari Enewetak Atoll, sebagai tempat pembuangan limbah dari uji coba bom nuklir.

Tanah yang tercemar radioaktif dan abu dari ledakan bom nuklir berada kawah dan ditutup dengan kubah beton setebal 45 cm.

Kubah beton yang sudah tua itu dikhawatirkan pecah jika terkena topan tropis.
(mas)
Berita Terkait
Rusia ingin PBB Menekan...
Rusia ingin PBB Menekan Amerika Serikat dalam Masalah Ini
5 Negara yang Punya...
5 Negara yang Punya Hak Veto PBB, Semua Utamakan Kepentingan Sendiri
Perintah Amerika, Otoritas...
Perintah Amerika, Otoritas Fiji Sita Kapal Pesiar Milik Miliarder Rusia Sulaeman Kerimov
Sejarah Terbentuknya...
Sejarah Terbentuknya DK PBB, Lembaga yang Menjamin Perdamaian dan Keamanan Internasional
AS Tolak Perpanjang...
AS Tolak Perpanjang Visa Diplomat, Rusia Mengadu ke PBB
AS Menang Kasus Penyitaan...
AS Menang Kasus Penyitaan Superyacht Rusia di Fiji, Langsung Dibawa Berlayar
Berita Terkini
Beberapa Personel Militer...
Beberapa Personel Militer Kuwait Terluka dalam Serangan Iran
5 jam yang lalu
Kelompok Perlawanan...
Kelompok Perlawanan Irak Tawarkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Pembunuhan Trump
6 jam yang lalu
Menlu Iran: Israel Gunakan...
Menlu Iran: Israel Gunakan Uang Pajak AS untuk Bungkam Kritikus AS
7 jam yang lalu
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
8 jam yang lalu
Yaman Memanas, Houthi...
Yaman Memanas, Houthi Ancam Serang Fasilitas Minyak di Arab Saudi
9 jam yang lalu
7 Tempat Penyimpanan...
7 Tempat Penyimpanan Emas Terbesar di Dunia, Ada yang Dijaga di Bawah Tanah hingga Benteng Super Ketat
10 jam yang lalu
Infografis
Sepasang Pesawat Pengebom...
Sepasang Pesawat Pengebom Nuklir AS Berkeliaran di Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved