Muslim NZ Tolak Klaim Bahwa Mossad Dalang Teror Christchurch
Sabtu, 30 Maret 2019 - 08:24 WIB
Muslim NZ Tolak Klaim Bahwa Mossad Dalang Teror Christchurch
A
A
A
CHRISTCHURCH - Federasi Asosiasi Islam Selandia Baru (New Zealand/NZ) menolak klaim ketua masjid terkemuka di negara itu bahwa badan intelijen Israel, Mossad, mendalangi serangan teroris di Christchurch. Serangan terhadap dua masjid pada 15 Maret lalu menewaskan 50 orang.
Klaim itu awalnya disampaikan Ketua Masjid E Umar Mt Roskill, Ahmed Bhamji, dalam sebuah pidato di pertemuan umum pada 23 Maret.
Presiden Asosiasi Islam Selandia Baru, Mustafa Farouk, menolak klaim tersebut. "Komentar baru-baru ini oleh seorang individu tidak mewakili pandangan Muslim Selandia Baru," kata Farouk, dalam sebuah pernyataan, Sabtu (30/3/2019).
Serangan teroris di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood pada 15 Maret dilakukan oleh Brenton Harrisoan Tarrant, 28, pria bersenjata dari Australia yang mengampanyekan supremasi kulit putih.
Dalam pidatonya, Bhamji mengklaim Mossad terlibat dalam serangan mengerikan itu. "Saya berdiri di sini dan saya mengatakan saya memiliki kecurigaan yang sangat, sangat kuat bahwa ada beberapa kelompok di belakangnya dan saya tidak takut untuk mengatakan bahwa saya merasa Mossad berada di balik ini," kata dalam pidato, yang rekaman videonya telah menyebar.
"Dan bukan hanya mereka. Ada beberapa rumah bisnis, juga, yang ada di sekitar...Anda tahu, rumah bisnis Zionis yang ada di belakangnya," lanjut dia.
Komunitas Yahudi di Selandia Baru dan Komisi HAM nasional mengutuk pernyataan itu. Kedua asosiasi itu menyampaikan sikapnya pada hari Sabtu di sebuah pertemuan umum di Auckland yang diselenggarakan oleh kelompok Love Aotearoa Hate Racism dan disiarkan langsung di laman Facebook Apna TV.
"Teori konspirasi ini adalah kebohongan yang berbahaya," kata juru bicara Dewan Yahudi Selandia Baru Juliet Moses kepada Newshub. "Mereka menempatkan komunitas Yahudi dalam risiko, pada saat masalah keamanan meningkat."
"Teori konspirasi—khususnya gagasan bahwa orang Yahudi (baik melalui negara Yahudi atau bukan) adalah pengendali kekuatan jahat di dunia—adalah inti dari anti-Semitisme," ujar Musa.
"Prasangka terhadap orang Yahudi tidak memiliki tempat di Selandia Baru. Kita harus mengutuk rasisme, kebencian, dan anti-Semitisme kapan pun kita melihatnya," imbuh Komisi HAM Selandia Baru.
Klaim itu awalnya disampaikan Ketua Masjid E Umar Mt Roskill, Ahmed Bhamji, dalam sebuah pidato di pertemuan umum pada 23 Maret.
Presiden Asosiasi Islam Selandia Baru, Mustafa Farouk, menolak klaim tersebut. "Komentar baru-baru ini oleh seorang individu tidak mewakili pandangan Muslim Selandia Baru," kata Farouk, dalam sebuah pernyataan, Sabtu (30/3/2019).
Serangan teroris di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood pada 15 Maret dilakukan oleh Brenton Harrisoan Tarrant, 28, pria bersenjata dari Australia yang mengampanyekan supremasi kulit putih.
Dalam pidatonya, Bhamji mengklaim Mossad terlibat dalam serangan mengerikan itu. "Saya berdiri di sini dan saya mengatakan saya memiliki kecurigaan yang sangat, sangat kuat bahwa ada beberapa kelompok di belakangnya dan saya tidak takut untuk mengatakan bahwa saya merasa Mossad berada di balik ini," kata dalam pidato, yang rekaman videonya telah menyebar.
"Dan bukan hanya mereka. Ada beberapa rumah bisnis, juga, yang ada di sekitar...Anda tahu, rumah bisnis Zionis yang ada di belakangnya," lanjut dia.
Komunitas Yahudi di Selandia Baru dan Komisi HAM nasional mengutuk pernyataan itu. Kedua asosiasi itu menyampaikan sikapnya pada hari Sabtu di sebuah pertemuan umum di Auckland yang diselenggarakan oleh kelompok Love Aotearoa Hate Racism dan disiarkan langsung di laman Facebook Apna TV.
"Teori konspirasi ini adalah kebohongan yang berbahaya," kata juru bicara Dewan Yahudi Selandia Baru Juliet Moses kepada Newshub. "Mereka menempatkan komunitas Yahudi dalam risiko, pada saat masalah keamanan meningkat."
"Teori konspirasi—khususnya gagasan bahwa orang Yahudi (baik melalui negara Yahudi atau bukan) adalah pengendali kekuatan jahat di dunia—adalah inti dari anti-Semitisme," ujar Musa.
"Prasangka terhadap orang Yahudi tidak memiliki tempat di Selandia Baru. Kita harus mengutuk rasisme, kebencian, dan anti-Semitisme kapan pun kita melihatnya," imbuh Komisi HAM Selandia Baru.
(mas)