Giliran Brazil Serukan Militer Rusia Angkat Kaki dari Venezuela
Jum'at, 29 Maret 2019 - 06:06 WIB
Giliran Brazil Serukan Militer Rusia Angkat Kaki dari Venezuela
A
A
A
BRASILIA - Menteri Luar Negeri Brazil, Ernesto Araujo, menyatakan militer Rusia harus meninggalkan Venezuela jika tujuan mereka adalah mempertahankan pemerintahan sayap kiri negara itu dalam kekuasaan. Pernyataan ini seolah mengulang permintaan yang sama oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dalam sebuah wawancara, Araujo mengatakan ia berharap Rusia akan mengakui bahwa menopang Presiden Nicolas Maduro hanya akan memperdalam keruntuhan ekonomi dan masyarakat Venezuela, dan bahwa satu-satunya jalan keluar dari krisis adalah mengadakan pemilu di bawah pemerintahan sementara yang dipimpin oleh pemimpin oposisi Juan Guaido.
"Jika ide mereka adalah mempertahankan Maduro lebih lama, itu berarti lebih banyak orang kelaparan dan melarikan diri dari negara itu, lebih banyak tragedi kemanusiaan di Venezuela," kata Araujo.
"Apa pun yang berkontribusi pada kelanjutan penderitaan rakyat Venezuela harus dihapus," sambungnya seperti dikutip dari The Globe and Mail, Jumat (29/3/2019).
Menurut Araujo kehadiran tentara Rusia di Venezuela merupakan tanda kelemahan Maduro.
"Jika dia perlu membawa pasukan dari luar negeri, jelas bahwa pasukan bersenjatanya tidak sepenuhnya bersamanya dan tidak mampu terus menekan rakyat Venezuela," ucapnya.
Dikatakan oleh Araujo, Brazil ingin membahas krisis Venezuela secara bilateral dengan Rusia dan China. Kedua negara itu adalah sekutu Brazil dalam kelompok ekonomi pasar berkembang terbesar BRICS. Brazil akan mencoba meyakinkan keduanya bahwa transisi diplomatik di negara penghasil minyak itu mungkin juga dalam kepentingan terbaik mereka.
"Dengan Kelompok Lima negara yang mengakui Guaido sebagai pemimpin sah Venezuela, Brazil kini fokus untuk membuat perwakilannya diakui di organisasi internasional, bukan Maduro," kata Araujo, seperti yang terjadi baru-baru ini di Inter-American Development Bank.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu meminta Rusia untuk menarik pasukannya dari Venezuela dan mengatakan bahwa "semua opsi" terbuka untuk mewujudkannya.
Baca juga: Trump: Pasukan Rusia Harus Keluar dari Venezuela
Presiden sayap kanan Brazil Jair Bolsonaro, yang pemerintahnya telah bergabung dengan operasi yang dipimpin AS untuk membawa bantuan kemanusiaan ke Venezuela, mengatakan angkatan bersenjata Brazil tidak berniat melakukan intervensi militer di negara tetangganya itu.
Kedatangan dua pesawat angkatan udara Rusia di luar Caracas pada hari Sabtu diyakini membawa hampir 100 pasukan khusus Rusia dan personil keamanan siber telah meningkatkan krisis politik di Venezuela.
Baca juga: Bawa Tentara, Dua Pesawat Rusia Mendarat di Venezuela
Rusia mengatakan bahwa mereka adalah "spesialis" yang dikirim ke Venezuela berdasarkan perjanjian kerja sama militer dan akan tetap berada di sana selama diperlukan.
Baca juga: Rusia Sebut Pasukannya Berada di Venezuela Selama Diperlukan
Dalam sebuah wawancara, Araujo mengatakan ia berharap Rusia akan mengakui bahwa menopang Presiden Nicolas Maduro hanya akan memperdalam keruntuhan ekonomi dan masyarakat Venezuela, dan bahwa satu-satunya jalan keluar dari krisis adalah mengadakan pemilu di bawah pemerintahan sementara yang dipimpin oleh pemimpin oposisi Juan Guaido.
"Jika ide mereka adalah mempertahankan Maduro lebih lama, itu berarti lebih banyak orang kelaparan dan melarikan diri dari negara itu, lebih banyak tragedi kemanusiaan di Venezuela," kata Araujo.
"Apa pun yang berkontribusi pada kelanjutan penderitaan rakyat Venezuela harus dihapus," sambungnya seperti dikutip dari The Globe and Mail, Jumat (29/3/2019).
Menurut Araujo kehadiran tentara Rusia di Venezuela merupakan tanda kelemahan Maduro.
"Jika dia perlu membawa pasukan dari luar negeri, jelas bahwa pasukan bersenjatanya tidak sepenuhnya bersamanya dan tidak mampu terus menekan rakyat Venezuela," ucapnya.
Dikatakan oleh Araujo, Brazil ingin membahas krisis Venezuela secara bilateral dengan Rusia dan China. Kedua negara itu adalah sekutu Brazil dalam kelompok ekonomi pasar berkembang terbesar BRICS. Brazil akan mencoba meyakinkan keduanya bahwa transisi diplomatik di negara penghasil minyak itu mungkin juga dalam kepentingan terbaik mereka.
"Dengan Kelompok Lima negara yang mengakui Guaido sebagai pemimpin sah Venezuela, Brazil kini fokus untuk membuat perwakilannya diakui di organisasi internasional, bukan Maduro," kata Araujo, seperti yang terjadi baru-baru ini di Inter-American Development Bank.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu meminta Rusia untuk menarik pasukannya dari Venezuela dan mengatakan bahwa "semua opsi" terbuka untuk mewujudkannya.
Baca juga: Trump: Pasukan Rusia Harus Keluar dari Venezuela
Presiden sayap kanan Brazil Jair Bolsonaro, yang pemerintahnya telah bergabung dengan operasi yang dipimpin AS untuk membawa bantuan kemanusiaan ke Venezuela, mengatakan angkatan bersenjata Brazil tidak berniat melakukan intervensi militer di negara tetangganya itu.
Kedatangan dua pesawat angkatan udara Rusia di luar Caracas pada hari Sabtu diyakini membawa hampir 100 pasukan khusus Rusia dan personil keamanan siber telah meningkatkan krisis politik di Venezuela.
Baca juga: Bawa Tentara, Dua Pesawat Rusia Mendarat di Venezuela
Rusia mengatakan bahwa mereka adalah "spesialis" yang dikirim ke Venezuela berdasarkan perjanjian kerja sama militer dan akan tetap berada di sana selama diperlukan.
Baca juga: Rusia Sebut Pasukannya Berada di Venezuela Selama Diperlukan
(ian)