DPR AS Sahkan RUU untuk Membuka Kembali Pemerintah

Sabtu, 26 Januari 2019 - 07:48 WIB
DPR AS Sahkan RUU untuk...
DPR AS Sahkan RUU untuk Membuka Kembali Pemerintah
A A A
WASHINGTON - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama Senat Amerika Serikat (AS) meloloskan RUU Pengeluaran Negara untuk mengakhiri penutupan sebagian pemerintah saat ini. Namun, RUU Pengeluaran Negara itu tidak termasukan dana USD5,7 miliar yang diminta oleh Presiden Donald Trump untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan selatan AS sesuai dengan janjinya selama kampanye pilpres lalu.

Menurut Roll Call, DPR dan Senat juga mengesahkan ukuran pengeluaran Homeland Security yang akan memungkinkan pembentukan komite konferensi untuk memperdebatkan pendanaan untuk keamanan perbatasan.

"Saya berharap pengalaman 35 hari terakhir telah mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh mengulangi mematikan pemerintah ini lagi," kata Ketua Minoritas DPR Steny Hoyer seperti dikutip dari Sputnik, Sabtu (26/1/2019).

Perkembangan terakhir terjadi setelah Trump mengumumkan bahwa kesepakatan telah dibuat sebelumnya pada hari Jumat yang akan menyediakan dana hingga 15 Februari.

"Saya akan memastikan bahwa semua karyawan menerima pembayaran kembali mereka dengan sangat cepat atau sesegera mungkin," kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih.

Selain itu, ia mengancam akan menggunakan kekuatan darurat jika ia gagal mendapatkan "kesepakatan yang adil" mengenai dana untuk tembok perbatasannya.

Mengutip dokumen internal, CNN melaporkan bahwa Gedung Putih telah mulai menyiapkan rancangan deklarasi jika Trump memilih untuk menyatakan darurat nasional untuk mulai membangun tembok di perbatasan selatan, yang ditekankan Trump akan membantu mengekang imigrasi ilegal dan masuknya obat-obatan. Dokumen-dokumen yang diperoleh menunjukkan bahwa dana berjumlah USD 7 miliar telah diidentifikasi dan dapat ditarik dari proyek lain dalam peristiwa semacam itu.

Baca: Gedung Putih Dilaporkan Siapkan Draft Keadaan Darurat Nasional

Penutupan pemerintah AS yang dimulai pada 22 Desember 2018 adalah yang terpanjang dalam sejarah AS, jauh melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh pemerintahan Clinton dalam 21 hari. Sekitar 800 ribu pekerja federal dipaksa untuk cuti, sementara ribuan lainnya tetap bekerja tanpa dibayar.
(ian)
Berita Terkait
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Sekitar 1,3 Juta Anggota...
Sekitar 1,3 Juta Anggota Militer AS Tidak Digaji Akibat Penutupan Pemerintah
Dampak Penutupan Pemerintah...
Dampak Penutupan Pemerintah AS Jauh Lebih Parah dari Perkirakan
Di Mana Donald Trump...
Di Mana Donald Trump ketika Rumor Kematiannya Viral di Media Sosial?
Warga Naturalisasi Tentukan...
Warga Naturalisasi Tentukan Hasil Pemilu Amerika Serikat
Pemungutan Suara Pemilihan...
Pemungutan Suara Pemilihan Presiden Amerika Serikat di California
Berita Terkini
Hamas Ungkap Pertemuan...
Hamas Ungkap Pertemuan di Kairo Bahas Penerapan Gencatan Senjata Gaza
1 jam yang lalu
Ilmuwan Bikin Roti dengan...
Ilmuwan Bikin Roti dengan Ragi dari Kulit Mumi Berusia 5.300 Tahun
2 jam yang lalu
AS Pertimbangkan Gunakan...
AS Pertimbangkan Gunakan Aset Iran untuk Biaya Rekonstruksi Negara-negara Teluk
3 jam yang lalu
Israel Bunuh 3 Tentara...
Israel Bunuh 3 Tentara Lebanon, Presiden Aoun Murka
3 jam yang lalu
AS Curigai Zionis, Pentagon...
AS Curigai Zionis, Pentagon Naikkan Tingkat Ancaman Spionase Israel Jadi Kritis
4 jam yang lalu
Paus Leo Tegaskan Kriteria...
Paus Leo Tegaskan Kriteria untuk Perang yang Adil Tidak Ada dalam Serangan AS-Israel di Iran
6 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved