Keluarga Korban Lion Air JT610 Gugat Boeing

Jum'at, 16 November 2018 - 08:05 WIB
Keluarga Korban Lion...
Keluarga Korban Lion Air JT610 Gugat Boeing
A A A
WASHINGTON - Orang tua dari korban pesawat Lion Air JT 610, Rio Nanda Putrama, mengajukan gugatan terhadap Boeing atas dugaan desain tidak aman dari pesawat Boeing 737 Max 8. Pesawat Lion Air JT 610 jatuh di perairan Tanjung Karawang bulan lalu dan menewaskan selurug 189 penumpang. Menurut pengacara keluarga, Putrama terbang ke Pangkal Pinang untuk menikah.

Gugatan itu diajukan pada Kamis di Pengadilan Sirkuit Cook County, Illinois, lokasi di mana Boeing berkantor pusat. Gugatan tersebut difokuskan pada fitur keamanan baru yang dapat menyebabkan pesawat 737 Max 8 "auto-dive" dalam situasi tertentu.

Gugatan tersebut menuding ini adalah perubahan dari desain Boeing 737 sebelumnya dan perusahaan gagal menginformasikan perubahan tersebut.

"Tidak ada waktu yang relevan sebelum kecelakaan apakah Boeing secara memadai memperingatkan Lion Air atau pilotnya mengenai kondisi tidak aman yang disebabkan oleh desain 'auto-diving' baru," bunyi gugatan itu seperti dikutip dari CNN, Jumat (16/11/2018).

Ini adalah permasalahan terbaru yang menimpa Boeing. Sebelumnya, perusahaan tersebut telah menghadapi tekanan pasca terjadinya kecelakaan tersebut.

Pada hari Rabu, seorang pejabat top Lion Air bergabung dengan kelompok pilot Amerika Serikat (AS) yang menuduh perusahaan itu gagal memperingatkan pilot tentang potensi bahaya dari fitur keamanan baru yang terlibat dalam kecelakaan itu.

Direktur Operasional Lion Air, Zwingli Silalahi mengatakan, panduan manual tersebut tidak memberi tahu pilot bahwa dalam situasi tertentu, stall-prevention system pesawat dapat secara otomatis memicu respons, seperti menurunkan hidung pesawat, untuk mencegah atau keluar dari sebuah kondisi stall.

"Kami tidak memiliki itu di manual Boeing 737 MAX 8. Itulah mengapa kami tidak memiliki pelatihan khusus untuk situasi khusus itu," kata Zwingli.

Penyelidik sedang memeriksa apakah sebuah sensor di luar pesawat mengirimkan data yang salah yang dapat memicu stall-prevention system.

Klaim maskapai itu muncul setelah Boeing dituduh oleh Asosiasi Pilot American Airlines, APA, merahasiakan informasi tentang potensi bahaya fitur baru pesawat itu. Pada hari Kamis, American Airlines mendukung klaim pilot mereka.

Lion Air JT 610 jatuh tak lama setelah lepas landas dari ibukota Indonesia Jakarta pada 29 Oktober. Penyidik ​​yakin pesawat MAX 8 mungkin telah mengalami masalah dengan beberapa sensor.

Boeing mengatakan pekan lalu bahwa buletin keamanan yang dikeluarkan untuk operator pesawat yang disebarkan pasca kecelakaan itu hanya dimaksudkan untuk memperkuat prosedur yang ada. Baik Lion Air dan APA menolak pernyataan perusahaan.

"Mereka (Boeing) tidak memberikan kami semua info yang kami andalkan ketika kami menerbangkan pesawat," kata Kapten Dennis Tajer, juru bicara grup APA, kepada CNN pada hari Selasa.

"Buletin ini tidak menegaskan kembali, buletin itu mencerahkan dan menambahkan info baru," imbuhnya.APA mengatakan sementara tidak ada masalah keamanan segera tentang MAX 8 pesawat. "Fakta bahwa ini belum diberitahu kepada kami sebelum seruan dipertanyakan info apa yang harus pilot ketahui tentang pesawat ini," kata APA.
Zwingli menambahkan bahwa buletin keamanan Boeing tidak menyarankan pelatihan tambahan untuk pilot yang mengoperasikan pesawat itu.

"Kami tidak menerima informasi apa pun dari Boeing atau dari regulator tentang pelatihan tambahan untuk pilot kami," katanya.Zwingli mengatakan bahwa jika hasil investigasi yang sedang berlangsung - yang dilakukan oleh Komisi Transportasi Nasional Indonesia, Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS dan Boeing - menemukan bahwa pelatihan tambahan diperlukan, pilot Lion Air akan melakukannya.

Pada hari Rabu, juru bicara Boeing mengatakan dalam email bahwa perusahaan tidak dapat mendiskusikan secara spesifik penyelidikan yang sedang berlangsung.

"Perusahaan telah memberikan dua pembaruan untuk operator kami di seluruh dunia yang menekankan kembali prosedur yang ada untuk situasi ini," kata juru bicara Boeing.

"Kami yakin akan (fitur) keselamatan dari 737 MAX. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami dan merupakan nilai inti bagi semua orang di Boeing," tegas juru bicara itu.

Kepala Direktorat Kelaikan Udara dan Operasi Pesawat Udara (DOAAO) di Kementerian Transportasi Indonesia mengatakan kepada CNN pada hari Rabu bahwa badan itu sedang dalam proses diskusi intensif tentang pelatihan tambahan untuk pilot yang menerbangkan pesawat MAX 8, tetapi tidak merinci apa saja yang akan melibatkan pelatihan tambahan.
(ian)
Berita Terkait
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Khawatir Agresivitas...
Khawatir Agresivitas China, Amerika Serikat Dekati Indonesia
Amerika Serikat Dukung...
Amerika Serikat Dukung Indonesia Jadi Anggota FATF
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Amerika Serikat Vs Indonesia
BRICS Menambah Indonesia,...
BRICS Menambah Indonesia, Waspadai Ancaman Amerika Serikat
Berita Terkini
Pemimpin Tertinggi Iran...
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Peringatkan Perpecahan setelah Kekalahan Musuh di Medan Perang
1 jam yang lalu
Pesawat Nirawak Ukraina...
Pesawat Nirawak Ukraina Serang Crimea, 4 Orang Tewas, 10 Luka
2 jam yang lalu
706 Paus dan Lumba-lumba...
706 Paus dan Lumba-lumba Dibantai, Laut Ini Berubah Jadi Perairan Darah
3 jam yang lalu
Rusia Ancam Armenia:...
Rusia Ancam Armenia: Tak Lagi Dipasok Minyak Murah Jika Nekat Gabung Uni Eropa!
4 jam yang lalu
AS Hendak Kerahkan Senjata...
AS Hendak Kerahkan Senjata Nuklir ke Lebih Banyak Negara NATO, Bisa Bikin Rusia Murka
5 jam yang lalu
6 Jet Tempur Canggih...
6 Jet Tempur Canggih yang Bakal Panaskan Langit ASEAN: F-35 Singapura hingga Rafale Indonesia
5 jam yang lalu
Infografis
Ngonten di Depan Rumah...
Ngonten di Depan Rumah Korban Kebakaran LA, Uya Kuya Bakal Diperiksa MKD
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved