Pemerintahan China dan Jepang Perkuat Kerja Sama Ekonomi

Jum'at, 26 Oktober 2018 - 09:33 WIB
Pemerintahan China dan...
Pemerintahan China dan Jepang Perkuat Kerja Sama Ekonomi
A A A
BEIJING - Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe tiba di Beijing, kemarin, untuk konferensi tingkat tinggi (KTT) resmi pertama dengan pemimpin China dalam tujuh tahun terakhir.

Dua negara yang selama ini menjadi pesaing itu berupaya membangun kerja sama menghadapi konflik dagang dengan Amerika Serikat (AS). Lawatan tiga hari Abe itu diperkirakan akan memperkuat kerja sama antara dua ekonomi terbesar di Asia tersebut.

Kunjungan ini juga akan memperkuat kepercayaan yang sempat melemah sejak keduanya memulihkan hubungan diplomatik pada 1972. “Jepang dan China memainkan peran yang sangat diperlukan dalam pembangunan ekonomi tidak hanya Asia, tapi dunia,” kata Abe dalam pidato di Beijing setelah dia tiba dari Jepang dikutip kantor berita Reuters.

Tahun lalu, China meningkatkan kedekatan dengan Jepang dan negara lain saat menghadapi konflik dagang dengan AS. Adapun Jepang berupaya menjalin hubungan ekonomi lebih dekat dengan Beijing tanpa mengecewakan aliansi keamanan utamanya, AS.

Saat ini China dan Jepang juga memiliki masalah perdagangan dengan AS. Abe kembali berkuasa pada 2012 saat hubungan China-Jepang memburuk akibat konflik di kepulauan Laut China Selatan. Abe telah bertemu Presiden China Xi Jinping beberapa kali sejak percakapan pertama pada 2014 di sela konferensi regional di Beijing.

Namun, pertemuan dengan Xi pada hari ini akan menjadi KTT skala penuh antara kedua ne gara sejak 2011. “Melalui kunjungan ini, saya ingin meningkatkan hubungan antara dua negara ke level baru,” ujar Abe menjelang penerbangan ke China.

Bendera kedua negara berjajar di Changan Avenue, jalan raya yang membelah jantung Beijing dekat Lapangan Tiananmen. Kedua negara akan menandatangani sekitar 50 memorandum of understanding (MoU) proyek selama kunjungan Abe, menurut draf yang diperoleh Reuters.

Berbagai proyek itu mulai dari bidang energi dan layanan kesehatan hingga keuangan dan automotif. Jepang juga berharap ada kemajuan dalam penerapan kesepakatan 2008 tentang pengembangan ladang gas bersama di perairan konflik. Tokyo juga ingin Beijing melonggarkan batasan impor untuk produk dari wilayah yang terkena dampak bencana nuklir Fukushima 2011.

China mungkin berharap Abe membuat pernyataan positif tentang inisiatif Belt and Road atau Jalur Sutra Baru untuk mendanai dan membangun jalur transportasi serta perdagangan di lebih dari 60 negara. Proyek Belt and Road mendapat kritik karena dianggap membuat negara-negara miskin terlilit utang melalui proyek-proyek besar yang tidak layak secara ekonomi.

China menolak kritik tersebut. Para pejabat pertahanan Jepang juga khawatir dengan dampak militer dari Jalur Sutra Baru itu. Di sisi lain, Tokyo mendorong Strategi Pasifik Bebas dan Terbuka untuk mempromosikan perdagangan dan infrastruktur di Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Jepang ingin memastikan setiap proyek bersama dengan China berjalan transparan, terbuka, dan sehat secara fiskal.

Kedua negara memiliki sejarah konflik di masa perang. China sering mengkritik Jepang tidak sepenuhnya meminta maaf atas pendudukan di sebagian wilayah China dan selama Perang Dunia II.

“Hanya melihat bagaimana bendera dua negara dipasang berdampingan di Changan Avenue membuat saya tidak nyaman. Agresi masa perang Jerman masih terasa sangat menyakitkan,” ungkap seorang pengguna platform mikroblog Weibo China.

Beberapa orang lainnya mendorong agar hati-hati dengan kunjungan Abe karena Jepang dianggap sebagai tetangga berwajah dua. Meski demikian, ada juga harapan agar kedua pemimpin negara dapat lebih sering berkunjung.

“Jika Xi berjanji datang ke Jepang tahun depan, itu akan jadi sangat besar,” kata Kiyoyuki Seguchi, direktur riset di Canon Institute for Global Studies di Tokyo. “Jika itu terwujud, perbaikan hubungan Jepang dan China akan semakin cepat,” kata Seguchi.

Jepang merupakan aliansi dekat AS setelah Perang Dunia II. AS dan China saat ini sedang melancarkan perang dagang dengan saling menerapkan tarif untuk produk-produk dari negara lain. Perang tarif ini membuat banyak pihak khawatir karena dapat mempengaruhi perekonomian dunia.
(don)
Berita Terkait
Anggap China Jadi Ancaman,...
Anggap China Jadi Ancaman, Menhan Jepang: Kita Hadapi Tantangan Baru
Jepang Sebut Niat Militer...
Jepang Sebut Niat Militer China Tidak Jelas, Timbulkan Ancaman Serius
Sanae Takaichi Menang,...
Sanae Takaichi Menang, China Meradang, Ada Apa Gerangan?
China Bebaskan Tersangka...
China Bebaskan Tersangka Mata-mata Jepang dari Penjara
Silakan Pilih: China...
Silakan Pilih: China dan Jepang Ultimatum Warga Negara Ganda
Ribut dengan China,...
Ribut dengan China, Jepang Siap Kerahkan Rudal ke Dekat Taiwan
Berita Terkini
Selain Memaki, Trump...
Selain Memaki, Trump Juga Disebut Ancam Netanyahu via Istrinya atas Rencana Israel di Lebanon
7 menit yang lalu
AS Bohong, Kapal Induk...
AS Bohong, Kapal Induk Gerald R Ford Ternyata Rusak Parah saat Perang Lawan Iran, Ini Buktinya!
39 menit yang lalu
Zelensky Tantang Putin...
Zelensky Tantang Putin Bertemu Tatap Muka, Kremlin: Datanglah ke Moskow!
1 jam yang lalu
Sinifikasi Agama di...
Sinifikasi Agama di China Menguat, Gereja Katolik Patriotik Jadi Sorotan
1 jam yang lalu
AS Batal Kirim Rudal...
AS Batal Kirim Rudal Tomahawk ke Jerman Diduga Khawatir dengan Pembalasan Rusia
2 jam yang lalu
Pemimpin Hizbullah Kecam...
Pemimpin Hizbullah Kecam Negosiasi Lebanon-Israel, Dianggap Tidak Tahu Malu
11 jam yang lalu
Infografis
China Dilanda Gelombang...
China Dilanda Gelombang PHK dan Gejolak Sosial
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved