Prancis Bekukan Aset Intelijen Iran karena Terlibat Rencana Pemboman

Rabu, 03 Oktober 2018 - 06:59 WIB
Prancis Bekukan Aset...
Prancis Bekukan Aset Intelijen Iran karena Terlibat Rencana Pemboman
A A A
PARIS - Prancis menyatakan dinas intelijen Iran terkait dengan rencana pemboman terhadap pertemuan kelompok oposisi Teheran di dekat Paris Juni lalu. Imbasnya, aset-aset Kementerian Intelijen rezim Teheran yang ada di Paris dibekukan.

Rencana serangan bom itu telah digagalkan otoritas keamanan Paris. "Sebuah plot ekstrem semacam itu di wilayah Prancis tidak bisa dilepaskan tanpa tanggapan," bunyi pernyataan gabungan Kementeri Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan Prancis pada hari Selasa.

"Prancis telah mengambil tindakan preventif, proporsional dan terarah," lanjut pernyataan tersebut. "Dalam mengambil keputusan ini, Prancis menegaskan kembali tekadnya untuk memerangi terorisme, terutama di wilayahnya sendiri."

Meski demikian, Paris menegaskan tindakan tegasnya, tidak seperti yang dilakukan Amerika Serikat yang menghukum Teheran karena tindakan permusuhan. Paris tetap ingin mempertahankan kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Prancis, Inggris, Jerman dan China) meski Washington sudah hengkang dari perjanjian tersebut.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qasemi membantah bahwa Iran telah terlibat dalam rencana pemboman di dekat Paris. Bantahan ini dirilis kantor berita negara Iran, IRNA, Rabu (3/10/2018).

Menurut pemerintah Prancis, aset dua warga Iran yang diduga berada di belakang plot pemboman resmi dibekukan. Salah satu dari mereka adalah mantan diplomat Iran di Wina, Assadollah Asadi. Sedangkan tersangka kedua Saeid Hashemi Moghadam, tanpa disebutkan latar belakangnya.

Media Prancis melaporkan bahwa Moghadam adalah pejabat senior di Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran.

Ada beberapa orang yang ditahan pada saat rencana pemboman itu digagalkan. Dalam kasus ini, polisi Prancis dan polisi Belgia menangkap dua warga Belgia-Iran atas tuduhan mempersiapkan diri untuk pergi ke Prancis guna melakukan pemboman terhadap acara pertemuan kelompok oposisi Teheran.

Mereka ditemukan dengan bahan peledak buatan sendiri di mobil mereka. Asadi ditangkap oleh polisi Jerman dan seorang pria keempat ditahan di Paris.

Sanksi yang diumumkan hari Selasa tidak ditujukan pada salah satu dari dua orang yang dituduh sebagai calon eksekutor rencana pemboman.

Rencana pemboman itum, menurut Prancis, untuk menggagalkan acara pertemuan pada 30 Juni di Villepinte yang digelar Dewan Nasional Perlawanan Iran, sebuah kelompok oposisi Teheran yang berbasis di Paris yang didominasi oleh Mujahidin el Khalq atau MEK. Ada 25.000 orang di acara tersebut.
(mas)
Berita Terkait
Prancis Minta Iran Kooperatif...
Prancis Minta Iran Kooperatif Saat Pertemuan di Wina
Presiden Prancis: Pembicaraan...
Presiden Prancis: Pembicaraan Nuklir Iran Perlu Dipercepat
Prancis Peringatkan...
Prancis Peringatkan Iran: Jangan Bersikap Palsu dalam Negosiasi Nuklir
Prancis: Hanya Tersisa...
Prancis: Hanya Tersisa Beberapa Pekan untuk Selamatkan Kesepakatan Nuklir Iran
Luncurkan Rudal Balistik,...
Luncurkan Rudal Balistik, Prancis Tuding Iran Langgar Resolusi DK PBB
Turis Prancis Dipenjara...
Turis Prancis Dipenjara di Iran Atas Tuduhan Mata-mata
Berita Terkini
Hizbullah Puji Aksi...
Hizbullah Puji Aksi Iran dan Houthi Hadapi Israel untuk Bela Rakyat Lebanon
2 jam yang lalu
Jaksa ICC Karim Khan...
Jaksa ICC Karim Khan Diskors karena Tuduhan Pelanggaran Etika
3 jam yang lalu
Iran akan Bangun PLTN...
Iran akan Bangun PLTN di 5 Lokasi Pesisir
4 jam yang lalu
Iran Ungkap Sabuk Keamanan...
Iran Ungkap Sabuk Keamanan Perlawanan Baru Membentang dari Selat Hormuz hingga Bab al-Mandab
5 jam yang lalu
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
6 jam yang lalu
AS Tidak Cegat Rudal...
AS Tidak Cegat Rudal Iran yang Ditembakkan ke Israel
7 jam yang lalu
Infografis
Israel Siap Serang Iran...
Israel Siap Serang Iran Sendirian, Update Rencana Serangan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved