Trump Didesak Pulangkan Kapal Perang AS yang Ditangkap Korut
Minggu, 23 September 2018 - 02:06 WIB
Trump Didesak Pulangkan Kapal Perang AS yang Ditangkap Korut
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Donald John Trump didesak untuk memulangkan kapal perang USS Pueblo yang ditangkap pasukan Korea Utara (Korut) 50 tahun lalu. Desakan disampaikan para kru kapal tersebut.
Desakan muncul setelah kedua negara sedang bernegosiasi untuk denuklirisasi Korea Utara. Trump sudah melakukan pertemuan bersejarah dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura beberapa waktu lalu. Keduanya juga ingin melakukan pertemuan lanjutan untuk memuluskan denuklirisasi.
"Para kru dari USS Pueblo ingin mendapatkan kapal kami kembali," kata Ron Berens, kepala juru mudi kapal USS Pueblo saat kapal itu diserang jet tempur dan kapal militer Pyongyang pada 23 Januari 1968.
Pada tanggal itu jet tempur MiG dan kapal patroli militer Korut menembaki kapal perang Amerika yang menjalankan misi mata-mata. Penangkapan itu merupakan yang pertama sejak Perang 1812.
"Kami ingin mereka mengirimkannya ke Danau Pueblo," kata Bob Hill, pelaut yang bertugas di dek kapal USS Pueblo saat usianya 19 tahun. Dia merupakan salah satu kru termuda kala itu.
Satu awak tewas, 82 lainnya ditawan selama 11 bulan di penjara Korea Utara setelah serangan tersebut. Mereka mengalami penyiksaan berjam-jam sekitar 10 hari setelah berangkat dari Jepang untuk misi spionase terhadap Uni Soviet dan Korea Utara.
"Tidak ada apa pun dalam buku-buku sejarah saat ini tentang Pueblo," kata Berens dalam wawancara dengan Fox News selama pertemuan dengan sekitar 40 anggota awak USS Pueblo yang masih hidup pada peringatan 50 tahun penangkapan mereka minggu ini di Pueblo, Colorado, yang dilansir Minggu (23/9/2018).
Saat ini, USS Pueblo tetap menjadi kapal Angkatan Laut AS yang dipajang di Sungai Potong di Ibu Kota Korea Utara, Pyongyang. Di sungai itulah, kapal mata-mata Amerika menjadi tuan rumah ribuan pengunjung setiap tahun.
Insiden mematikan terjadi setahun kemudian ketika MiG-21 Korea Utara menembak jatuh pesawat pengintai Angkatan Laut AS yang menewaskan 31 tentara Amerika.
Desakan muncul setelah kedua negara sedang bernegosiasi untuk denuklirisasi Korea Utara. Trump sudah melakukan pertemuan bersejarah dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura beberapa waktu lalu. Keduanya juga ingin melakukan pertemuan lanjutan untuk memuluskan denuklirisasi.
"Para kru dari USS Pueblo ingin mendapatkan kapal kami kembali," kata Ron Berens, kepala juru mudi kapal USS Pueblo saat kapal itu diserang jet tempur dan kapal militer Pyongyang pada 23 Januari 1968.
Pada tanggal itu jet tempur MiG dan kapal patroli militer Korut menembaki kapal perang Amerika yang menjalankan misi mata-mata. Penangkapan itu merupakan yang pertama sejak Perang 1812.
"Kami ingin mereka mengirimkannya ke Danau Pueblo," kata Bob Hill, pelaut yang bertugas di dek kapal USS Pueblo saat usianya 19 tahun. Dia merupakan salah satu kru termuda kala itu.
Satu awak tewas, 82 lainnya ditawan selama 11 bulan di penjara Korea Utara setelah serangan tersebut. Mereka mengalami penyiksaan berjam-jam sekitar 10 hari setelah berangkat dari Jepang untuk misi spionase terhadap Uni Soviet dan Korea Utara.
"Tidak ada apa pun dalam buku-buku sejarah saat ini tentang Pueblo," kata Berens dalam wawancara dengan Fox News selama pertemuan dengan sekitar 40 anggota awak USS Pueblo yang masih hidup pada peringatan 50 tahun penangkapan mereka minggu ini di Pueblo, Colorado, yang dilansir Minggu (23/9/2018).
Saat ini, USS Pueblo tetap menjadi kapal Angkatan Laut AS yang dipajang di Sungai Potong di Ibu Kota Korea Utara, Pyongyang. Di sungai itulah, kapal mata-mata Amerika menjadi tuan rumah ribuan pengunjung setiap tahun.
Insiden mematikan terjadi setahun kemudian ketika MiG-21 Korea Utara menembak jatuh pesawat pengintai Angkatan Laut AS yang menewaskan 31 tentara Amerika.
(mas)