Duterte Minta Maaf karena Sebut Obama 'Anak Pelacur'
Senin, 03 September 2018 - 14:05 WIB
Duterte Minta Maaf karena Sebut Obama 'Anak Pelacur'
A
A
A
TEL AVIV - Presiden Filipina Rodrigo Duterte meminta maaf atas makian yang dia buat untuk mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, pada tahun 2016. Kala itu, dia menyebut Obama dengan sebutan "anak pelacur" karena Washington mengkritik perang anti-narkoba di Filipina.
Permintaan maaf itu disampaikan saat dia berada Israel dalam kunjungan kenegeraan. Kunjungannya sempat jadi sorotan media internasional karena dia berkomentar yang menyinggung umat Yahudi. Dia pernah menyatakan bahwa dia akan senang membantai para pecandu narkoba seperti Adolf Hitler membantai orang-orang Yahudi.
"Akan tepat juga untuk mengatakan saat ini, Obama, Anda seorang sipil, saya minta maaf karena mengucapkan kata-kata itu," kata Duterte, mengacu pada makian kasarnya terhadap mantan Presiden AS tersebut, seperti dikutip Sputnik, Senin (3/9/2018).
Pada saat yang sama, dia menggambarkan Obama sebagai sosok yang "dingin". Dia menambahkan bahwa presiden AS saat ini, Donald Trump, adalah teman baiknya.
Pada 2016, Duterte memperingatkan Obama untuk tidak mempertanyakan kebijakannya tentang pembunuhan di luar proses hukum terkait dengan perang terhadap kejahatan narkoba.
"Anda (Obama) harus menghormati. Jangan hanya membuang pertanyaan dan pernyataan. Anak pelacur, saya akan mengutuk Anda di forum itu," kata Duterte, mengacu pada forum KTT ASEAN di Laos yang akan dia hadiri.
Pemimpin Filipina ini juga bicara soal leluconnya tentang pemerkosaan dalam pidatonya di kotanya, Davao City, yang memicu kecaman dari kelompok pembela hak-hak perempuan. Dia tetap membela diri atas lelucon tersebut.Lelucon itu dia buat saat mengomentari data kepolisian yang menyebut Davao City berada di peringkat pertama dalam jumlah kasus pemerkosaan terbanyak di Filipina.
"Mereka mengatakan bahwa Davao memiliki banyak kasus perkosaan. Selama ada banyak wanita cantik, ada banyak kasus perkosaan juga," kata Duterte.
"Tidak ada yang setuju untuk melakukannya pada percobaan pertama. Itu adalah pemerkosaan. Bahkan ketika mereka berada di dalam bioskop, dia (wanita cantik) akan memicunya," ujarnya.
"Tidak, tidak. Ada begitu banyak wanita cantik. Tapi jika Anda kebetulan duduk di samping seseorang yang ompong, apakah Anda masih ingin melakukan itu?," imbuh Duterte.
Data Kepolisian Filipina menunjukkan Davao City memang menempati peringkat pertama dalam kasus pemerkosaan, yakni ada 42 kasus. Kemudian diikuti Quezon City dengan 41 kasus, Manila 32 kasus, Cagayan de Oro City 24 kasus, dan Zamboanga City 21 kasus.
Kepala Polisi Davao City, Inspektur Senior Alexander Tag, mengonfirmasi laporan tersebut. Menurutnya, kasus pemerkosaan yang tercatat terjadi di dalam rumah pribadi, di mana pengawasan polisi menjadi lemah.
Meski komentar Duterte itu sebagai candaan, namun Gabriela Women's Party yang dikenal sebagai partai pembela hak-hak perempuan, mengecamnya.
"Presiden Duterte mengirimkan lagi pesan yang sangat berbahaya dan terdistorsi dalam pernyataan pemerkosaan terakhirnya, bahwa kecantikan wanita adalah penyebab pemerkosaan," kata partai tersebut dalam sebuah pernyataan.
"Dengan mengatakan bahwa banyak perempuan di Davao diperkosa karena mereka cantik, Presiden Duterte menggugat wanita, memalsukan pemerkosaan sebagai sesuatu yang bisa dibanggakan dan menjatuhkan hak-hak perempuan di Davao," lanjut partai tersebut.
"Kami tegaskan bahwa pemerkosaan adalah kejahatan yang dapat dihukum di bawah undang-undang kami, dan itu terjadi hanya karena mentalitas pemerkosa yang dilakukan oleh tidak kurang dari sosok Presiden. Kami sangat mengutuk tampilan kebencian terbaru yang flamboyan ini, yang menempatkan lebih banyak perempuan Filipina yang berisiko mengalami pemerkosaan," imbuh partai tersebut.
Permintaan maaf itu disampaikan saat dia berada Israel dalam kunjungan kenegeraan. Kunjungannya sempat jadi sorotan media internasional karena dia berkomentar yang menyinggung umat Yahudi. Dia pernah menyatakan bahwa dia akan senang membantai para pecandu narkoba seperti Adolf Hitler membantai orang-orang Yahudi.
"Akan tepat juga untuk mengatakan saat ini, Obama, Anda seorang sipil, saya minta maaf karena mengucapkan kata-kata itu," kata Duterte, mengacu pada makian kasarnya terhadap mantan Presiden AS tersebut, seperti dikutip Sputnik, Senin (3/9/2018).
Pada saat yang sama, dia menggambarkan Obama sebagai sosok yang "dingin". Dia menambahkan bahwa presiden AS saat ini, Donald Trump, adalah teman baiknya.
Pada 2016, Duterte memperingatkan Obama untuk tidak mempertanyakan kebijakannya tentang pembunuhan di luar proses hukum terkait dengan perang terhadap kejahatan narkoba.
"Anda (Obama) harus menghormati. Jangan hanya membuang pertanyaan dan pernyataan. Anak pelacur, saya akan mengutuk Anda di forum itu," kata Duterte, mengacu pada forum KTT ASEAN di Laos yang akan dia hadiri.
Pemimpin Filipina ini juga bicara soal leluconnya tentang pemerkosaan dalam pidatonya di kotanya, Davao City, yang memicu kecaman dari kelompok pembela hak-hak perempuan. Dia tetap membela diri atas lelucon tersebut.Lelucon itu dia buat saat mengomentari data kepolisian yang menyebut Davao City berada di peringkat pertama dalam jumlah kasus pemerkosaan terbanyak di Filipina.
"Mereka mengatakan bahwa Davao memiliki banyak kasus perkosaan. Selama ada banyak wanita cantik, ada banyak kasus perkosaan juga," kata Duterte.
"Tidak ada yang setuju untuk melakukannya pada percobaan pertama. Itu adalah pemerkosaan. Bahkan ketika mereka berada di dalam bioskop, dia (wanita cantik) akan memicunya," ujarnya.
"Tidak, tidak. Ada begitu banyak wanita cantik. Tapi jika Anda kebetulan duduk di samping seseorang yang ompong, apakah Anda masih ingin melakukan itu?," imbuh Duterte.
Data Kepolisian Filipina menunjukkan Davao City memang menempati peringkat pertama dalam kasus pemerkosaan, yakni ada 42 kasus. Kemudian diikuti Quezon City dengan 41 kasus, Manila 32 kasus, Cagayan de Oro City 24 kasus, dan Zamboanga City 21 kasus.
Kepala Polisi Davao City, Inspektur Senior Alexander Tag, mengonfirmasi laporan tersebut. Menurutnya, kasus pemerkosaan yang tercatat terjadi di dalam rumah pribadi, di mana pengawasan polisi menjadi lemah.
Meski komentar Duterte itu sebagai candaan, namun Gabriela Women's Party yang dikenal sebagai partai pembela hak-hak perempuan, mengecamnya.
"Presiden Duterte mengirimkan lagi pesan yang sangat berbahaya dan terdistorsi dalam pernyataan pemerkosaan terakhirnya, bahwa kecantikan wanita adalah penyebab pemerkosaan," kata partai tersebut dalam sebuah pernyataan.
"Dengan mengatakan bahwa banyak perempuan di Davao diperkosa karena mereka cantik, Presiden Duterte menggugat wanita, memalsukan pemerkosaan sebagai sesuatu yang bisa dibanggakan dan menjatuhkan hak-hak perempuan di Davao," lanjut partai tersebut.
"Kami tegaskan bahwa pemerkosaan adalah kejahatan yang dapat dihukum di bawah undang-undang kami, dan itu terjadi hanya karena mentalitas pemerkosa yang dilakukan oleh tidak kurang dari sosok Presiden. Kami sangat mengutuk tampilan kebencian terbaru yang flamboyan ini, yang menempatkan lebih banyak perempuan Filipina yang berisiko mengalami pemerkosaan," imbuh partai tersebut.
(mas)