Taliban Terbang ke Rusia untuk Pembicaraan Damai Afghanistan
Rabu, 22 Agustus 2018 - 17:34 WIB
Taliban Terbang ke Rusia untuk Pembicaraan Damai Afghanistan
A
A
A
MOSKOW - Perwakilan Taliban akan ambil bagian dalam pembicaraan di Moskow bulan mengenai masa depan Afghanistan. Hal itu dikatakan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.
"Tanggapan awal positif - mereka berencana untuk ambil bagian dalam pertemuan ini. Saya berharap itu akan produktif," katanya seperti dikutip dari South China Morning Post, Rabu (22/8/2018).
Lavrov berharap akan terjadi negosiasi produktif pada pembicaraan yang akan menyatukan selusin kelompok termasuk sejumlah negara kelas berat Asia macam China, Iran, dan Pakistan. Pembicaraan itu direncanakan akan digelar mulai tanggal 4 September mendatang.
Taliban tidak secara resmi mengomentari pernyataan Moskow, tetapi seorang anggota senior kelompok itu mengkonfirmasi kepada Associater Press bahwa mereka akan mengirim delegasi demi menemukan perdamaian di Afghanistan.
Ia juga mengatakan Taliban berencana untuk mengirim perwakilan ke negara-negara di kawasan itu, termasuk Pakistan dan China, untuk membuat mereka percaya diri dan mengatasi kekhawatirannya.
Pembicaraan di Moskow akan menjadi partisipasi publik pertama Taliban di sebuah forum regional sejak mereka digulingkan dari kekuasaan di Afghanistan setelah serangan 11 September di Amerika. Mereka diundang ke putaran pembicaraan sebelumnya di Rusia tapi tidak hadir.
Pembicaraan ini datang setelah gelombang kekerasan yang intens, tetapi juga di tengah meningkatnya penjangkauan diplomatik kelompok pemberontak itu dan serangkaian desakan perdamaian dari pemerintah Afghanistan.
Gencatan senjata pada bulan Juni, selama liburan Idul Fitri, menunjukkan antusias publik yang besar untuk mengakhiri perang.
Ini juga menunjukkan Taliban memiliki komando dan kontrol atas ribuan militan yang tersebar di seluruh negeri.
Presiden Ashraf Ghani, yang membuat tawaran pertama untuk menghentikan pertempuran itu, menyerukan gencatan senjata kembali untuk liburan Idul Adha minggu ini.
Taliban belum merespon secara resmi dan Ibu Kota Kabul dihujani roket pada hari Selasa ketika Ghani berpidato tentang perdamaian. Namun, The Wall Street Journal melaporkan bahwa mereka berencana menandai gencatan senjata tidak resmi.
Pengumuman dari Moskow muncul setelah kesibukan aktivitas diplomatik lainnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, Taliban mengirim delegasi resmi ke Uzbekistan dan Indonesia, dan mengadakan pembicaraan dengan para diplomat AS di Qatar, di mana sayap politik militan memiliki basis tidak resmi.
Kedua belah pihak mungkin memiliki lebih banyak keinginan untuk berbicara sekarang daripada yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu, ketika pasukan pimpinan AS bersikeras mereka dapat menghancurkan Taliban dan para militan beralasan bahwa mereka memiliki kesabaran dan semangat untuk melawan pasukan asing sampai mereka menyerah.
Dalam beberapa tahun terakhir Taliban telah membuat keuntungan di daerah pedesaan di sekitar Afghanistan dan telah merebut beberapa kota, tetapi dukungan udara AS dan dukungan militer lainnya telah memastikan mereka tidak dapat merebut dan menguasai pusat kota.
Para militan menolak bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan, yang mereka kecam sebagai boneka, dan bersikeras bahwa mereka hanya akan berusaha untuk menengahi perdamaian secara langsung dengan Washington. Pertemuan di Moskow dapat menawarkan platform publik yang langka bagi pemerintah Afghanistan dan para pemimpin senior Taliban untuk berinteraksi secara langsung.
Taliban sejatinya dilarang di Rusia karena dianggap sebagai organisasi teroris. Moskow mengatakan pihaknya mempertahankan kontak hanya karena masalah keamanan.
Moskow khawatir kelompok-kelompok radikal dapat menggunakan Afghanistan sebagai basis untuk menargetkan kepentingan Rusia atau membangun sel di negara-negara tetangga termasuk Tajikistan, di mana bulan lalu empat pengendara sepeda tewas dalam serangan yang diklaim oleh ISIS.
"Tanggapan awal positif - mereka berencana untuk ambil bagian dalam pertemuan ini. Saya berharap itu akan produktif," katanya seperti dikutip dari South China Morning Post, Rabu (22/8/2018).
Lavrov berharap akan terjadi negosiasi produktif pada pembicaraan yang akan menyatukan selusin kelompok termasuk sejumlah negara kelas berat Asia macam China, Iran, dan Pakistan. Pembicaraan itu direncanakan akan digelar mulai tanggal 4 September mendatang.
Taliban tidak secara resmi mengomentari pernyataan Moskow, tetapi seorang anggota senior kelompok itu mengkonfirmasi kepada Associater Press bahwa mereka akan mengirim delegasi demi menemukan perdamaian di Afghanistan.
Ia juga mengatakan Taliban berencana untuk mengirim perwakilan ke negara-negara di kawasan itu, termasuk Pakistan dan China, untuk membuat mereka percaya diri dan mengatasi kekhawatirannya.
Pembicaraan di Moskow akan menjadi partisipasi publik pertama Taliban di sebuah forum regional sejak mereka digulingkan dari kekuasaan di Afghanistan setelah serangan 11 September di Amerika. Mereka diundang ke putaran pembicaraan sebelumnya di Rusia tapi tidak hadir.
Pembicaraan ini datang setelah gelombang kekerasan yang intens, tetapi juga di tengah meningkatnya penjangkauan diplomatik kelompok pemberontak itu dan serangkaian desakan perdamaian dari pemerintah Afghanistan.
Gencatan senjata pada bulan Juni, selama liburan Idul Fitri, menunjukkan antusias publik yang besar untuk mengakhiri perang.
Ini juga menunjukkan Taliban memiliki komando dan kontrol atas ribuan militan yang tersebar di seluruh negeri.
Presiden Ashraf Ghani, yang membuat tawaran pertama untuk menghentikan pertempuran itu, menyerukan gencatan senjata kembali untuk liburan Idul Adha minggu ini.
Taliban belum merespon secara resmi dan Ibu Kota Kabul dihujani roket pada hari Selasa ketika Ghani berpidato tentang perdamaian. Namun, The Wall Street Journal melaporkan bahwa mereka berencana menandai gencatan senjata tidak resmi.
Pengumuman dari Moskow muncul setelah kesibukan aktivitas diplomatik lainnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, Taliban mengirim delegasi resmi ke Uzbekistan dan Indonesia, dan mengadakan pembicaraan dengan para diplomat AS di Qatar, di mana sayap politik militan memiliki basis tidak resmi.
Kedua belah pihak mungkin memiliki lebih banyak keinginan untuk berbicara sekarang daripada yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu, ketika pasukan pimpinan AS bersikeras mereka dapat menghancurkan Taliban dan para militan beralasan bahwa mereka memiliki kesabaran dan semangat untuk melawan pasukan asing sampai mereka menyerah.
Dalam beberapa tahun terakhir Taliban telah membuat keuntungan di daerah pedesaan di sekitar Afghanistan dan telah merebut beberapa kota, tetapi dukungan udara AS dan dukungan militer lainnya telah memastikan mereka tidak dapat merebut dan menguasai pusat kota.
Para militan menolak bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan, yang mereka kecam sebagai boneka, dan bersikeras bahwa mereka hanya akan berusaha untuk menengahi perdamaian secara langsung dengan Washington. Pertemuan di Moskow dapat menawarkan platform publik yang langka bagi pemerintah Afghanistan dan para pemimpin senior Taliban untuk berinteraksi secara langsung.
Taliban sejatinya dilarang di Rusia karena dianggap sebagai organisasi teroris. Moskow mengatakan pihaknya mempertahankan kontak hanya karena masalah keamanan.
Moskow khawatir kelompok-kelompok radikal dapat menggunakan Afghanistan sebagai basis untuk menargetkan kepentingan Rusia atau membangun sel di negara-negara tetangga termasuk Tajikistan, di mana bulan lalu empat pengendara sepeda tewas dalam serangan yang diklaim oleh ISIS.
(ian)