Palestina Sebut Rencana Perdamaian AS Tidak Berguna
Rabu, 25 Juli 2018 - 14:33 WIB
Palestina Sebut Rencana Perdamaian AS Tidak Berguna
A
A
A
NEW YORK - Duta Besar Palestina untuk PBB menyatakan bahwa rencana perdamaian Israel-Palestina yang diusung Amerika Serikat (AS) tidak berguna. Pasalnya, rencana itu mengabaikan masalah Yerusalem dan pengungsi.
"Kami tidak tertarik dengan apa yang akan mereka usulkan karena Yerusalem sudah tidak ada, para pengungsi tidak ada," kata Riyad Mansour di markas besar PBB di New York.
Mansour menambahkan bahwa Badan Bantuan dan Pekerja PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) sedang dihancurkan meskipun pemotongan dana AS, permukiman Yahudi kurang dapat diterima dan solusi dua negara memudar.
"Jika Anda memiliki perilaku seperti itu yang ditunjukkan oleh pemerintahan AS, apa yang tersisa di atas meja?" cetusnya.
"Itu sebabnya kami tidak ingin terlibat dalam sesuatu yang tidak berguna karena semua hal yang telah mereka umumkan secara sepihak adalah hal-hal yang tidak akan membuka jalan bagi perdamaian dan kemajuan," tambahnya seperti dikutip dari Anadolu, Rabu (25/7/2018).
Pengakuan Trump pada bulan Desember bahwa Yerusalem Ibu Kota Israel secara luas dilihat telah meremehkan rencana lama yang mendukung proses perdamaian Palestina-Israel.
Status kota yang diperebutkan secara luas dianggap sebagai masalah terakhir dalam pembicaraan tersebut, dan pengumuman Trump menggemparkan pemimpin Palestina. Mereka terus menolak peran AS dalam menengahi pembicaraan dan menolak untuk kembali bernegosiasi.
Palestina memandang Yerusalem Timur - yang diduduki oleh Israel sejak 1967 - sebagai ibu kota negara Palestina merdeka.
Awal tahun ini, AS menangguhkan lebih dari setengah dari pendanaannya untuk UNRWA. Wahsington menahan USD65 juta dari USD125 juta dalam bentuk dana tahunan setelah Palestina menolak peran AS dalam setiap pembicaraan damai.
UNRWA menghadapi kekurangan dana yang mengancam penghentian pembukaan sekolah pada bulan September menyusul keputusan AS untuk menghentikan sebagian pendanaannya.
"Kami tidak tertarik dengan apa yang akan mereka usulkan karena Yerusalem sudah tidak ada, para pengungsi tidak ada," kata Riyad Mansour di markas besar PBB di New York.
Mansour menambahkan bahwa Badan Bantuan dan Pekerja PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) sedang dihancurkan meskipun pemotongan dana AS, permukiman Yahudi kurang dapat diterima dan solusi dua negara memudar.
"Jika Anda memiliki perilaku seperti itu yang ditunjukkan oleh pemerintahan AS, apa yang tersisa di atas meja?" cetusnya.
"Itu sebabnya kami tidak ingin terlibat dalam sesuatu yang tidak berguna karena semua hal yang telah mereka umumkan secara sepihak adalah hal-hal yang tidak akan membuka jalan bagi perdamaian dan kemajuan," tambahnya seperti dikutip dari Anadolu, Rabu (25/7/2018).
Pengakuan Trump pada bulan Desember bahwa Yerusalem Ibu Kota Israel secara luas dilihat telah meremehkan rencana lama yang mendukung proses perdamaian Palestina-Israel.
Status kota yang diperebutkan secara luas dianggap sebagai masalah terakhir dalam pembicaraan tersebut, dan pengumuman Trump menggemparkan pemimpin Palestina. Mereka terus menolak peran AS dalam menengahi pembicaraan dan menolak untuk kembali bernegosiasi.
Palestina memandang Yerusalem Timur - yang diduduki oleh Israel sejak 1967 - sebagai ibu kota negara Palestina merdeka.
Awal tahun ini, AS menangguhkan lebih dari setengah dari pendanaannya untuk UNRWA. Wahsington menahan USD65 juta dari USD125 juta dalam bentuk dana tahunan setelah Palestina menolak peran AS dalam setiap pembicaraan damai.
UNRWA menghadapi kekurangan dana yang mengancam penghentian pembukaan sekolah pada bulan September menyusul keputusan AS untuk menghentikan sebagian pendanaannya.
(ian)