OPCW: Gas Klorin Digunakan dalam Serangan di Douma
Sabtu, 07 Juli 2018 - 00:49 WIB
OPCW: Gas Klorin Digunakan dalam Serangan di Douma
A
A
A
THE HAGUE - Analisis awal oleh pengawas senjata kimia dunia menemukan gas klorin digunakan dalam serangan di Douma Suriah pada bulan April lalu. Serangan yang menewaskan puluhan warga sipil itu memicu serangan udara oleh Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat (AS).
Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengirim misi pencari fakta ke Douma pada pertengahan April lalu, seminggu setelah serangan 7 April di kantong dekat Damaskus.
"Berbagai bahan kimia organik klorin ditemukan dalam sampel dari dua lokasi," kata laporan itu. Laporan itu juga menyebutkan tidak ditemukan adanya bukti penggunaan gas saraf seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (7/7/2018).
OPCW telah mendokumentasikan penggunaan sistematis amunisi terlarang dalam perang sipil Suriah, termasuk gas saraf sarin dan gas mustard sulfur. Laporan itu tidak menyalahkan salah satu pihak atas serangan tersebut.
Selama di Douma, para inspektur OPCW mengunjungi dua tempat di mana mereka mewawancarai para saksi dan mengambil sampel. Sampel itu kemudian dibagi di laboratorium mereka di Belanda dan diteruskan ke laboratorium nasional yang berafiliasi untuk diuji.
"Dua sampel yang diambil dari tabung gas di tempat kejadian dinyatakan positif mengandung klorin," kata laporan itu.
Washington dan pemerintah Barat lainnya menyalahkan pasukan pemerintah Suriah atas serangan di Douma.
Pemerintah Suriah menyangkal menggunakan senjata kimia selama perang sipil yang panjang di negara itu. Namun penyelidikan bersama sebelumnya dari PBB dan OPCW menemukan bahwa pemerintah Suriah menggunakan gas sarin dalam serangan April 2017, dan juga beberapa kali menggunakan klorin sebagai senjata.
Hasil penyelidikan ini juga menyalahkan militan Negara Islam (ISIS) untuk penggunaan gas mustard.
Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengirim misi pencari fakta ke Douma pada pertengahan April lalu, seminggu setelah serangan 7 April di kantong dekat Damaskus.
"Berbagai bahan kimia organik klorin ditemukan dalam sampel dari dua lokasi," kata laporan itu. Laporan itu juga menyebutkan tidak ditemukan adanya bukti penggunaan gas saraf seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (7/7/2018).
OPCW telah mendokumentasikan penggunaan sistematis amunisi terlarang dalam perang sipil Suriah, termasuk gas saraf sarin dan gas mustard sulfur. Laporan itu tidak menyalahkan salah satu pihak atas serangan tersebut.
Selama di Douma, para inspektur OPCW mengunjungi dua tempat di mana mereka mewawancarai para saksi dan mengambil sampel. Sampel itu kemudian dibagi di laboratorium mereka di Belanda dan diteruskan ke laboratorium nasional yang berafiliasi untuk diuji.
"Dua sampel yang diambil dari tabung gas di tempat kejadian dinyatakan positif mengandung klorin," kata laporan itu.
Washington dan pemerintah Barat lainnya menyalahkan pasukan pemerintah Suriah atas serangan di Douma.
Pemerintah Suriah menyangkal menggunakan senjata kimia selama perang sipil yang panjang di negara itu. Namun penyelidikan bersama sebelumnya dari PBB dan OPCW menemukan bahwa pemerintah Suriah menggunakan gas sarin dalam serangan April 2017, dan juga beberapa kali menggunakan klorin sebagai senjata.
Hasil penyelidikan ini juga menyalahkan militan Negara Islam (ISIS) untuk penggunaan gas mustard.
(ian)