Prefektur di Jepang Pertanyakan Perlunya Sistem Rudal Canggih AS
Senin, 25 Juni 2018 - 15:08 WIB
Prefektur di Jepang Pertanyakan Perlunya Sistem Rudal Canggih AS
A
A
A
TOKYO - Dua prefektur atau provinsi di Jepang mengungkapkan keengganannya menjadi tuan rumah untuk sistem rudal pertahanan Aegis Ashore buatan Amerika Serikat (AS). Mereka kini mempertanyakan perlunya sistem rudal canggih itu setelah ketegangan di Semenanjung Korea mereda.
Namun, pemerintah Perdana Menteri Shinzo Abe membela keputusan yang dikeluarkan bulan Desember 2017 soal pengerahan sistem rudal mahal itu. Keputusan tersebut dibuat dengan klaim perlindungan bagi seluruh wilayah Jepang dari potensi serangan rudal Korea utara (Korut).
Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan pada sidang Komite Audit Parlemen 18 Juni bahwa sistem rudal Aegis Ashore diperlukan sebagai pelindung bagi seluruh wilayah negara.
Menteri Pertahanan Hisunori Onodera pada pekan lalu mengunjungi prefektur Yamaguchi dan Akita, dua prefektur yang menjadi tempat latihan Angkatan Darat Pasukan Bela Diri (SDF) Jepang. Dua provinsi itu juga menjadi kandidat tuan rumah penempatan sistem rudal canggih AS.
Dalam pertemuannya di gedung pemerintahan Prefektur Yamaguchi, Onodera mencoba menyoroti perlunya sistem rudal Aegis Ashore.
"Ancaman dari Korea Utara tidak berubah sama sekali," katanya. "Korea Utara telah mengerahkan beberapa ratus rudal balistik yang mampu mencapai Jepang dan kemungkinan besar juga memiliki sejumlah hulu ledak nuklir," katanya lagi.
Namun, Gubernur Yamaguchi Tsugumasa Muraoka meminta Onodera untuk memberi penjelasan yang meyakinkan tentang mengapa sistem rudal Aegis Ashore masih diperlukan, mengingat perubahan situasi internasional sudah terjadi.
Suasana konfrontatif di Asia Timur telah bergeser ke dialog. Salah satunya adalah pertemuan bersejarah antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un di Singapura pada 12 Juni lalu.
Pertemuan itu berhasil meredam ketegangan, di mana Kim Jong-un komitmen untuk mewujudkan denuklirisasi. AS juga sepakat menangguhkan latihan perang gabungan dengan Korea Selatan yang selama ini dianggap sebagai latihan untuk menginvasi Pyongyang.
Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengumumkan pada 22 Juni lalu bahwa latihan evakuasi untuk mengantisipasi peluncuran rudal Korea Utara telah ditangguhkan untuk sementara waktu. Dia mengatakan, Jepang tidak lagi dalam situasi di mana serangan rudal musuh bisa datang kapan saja.
Gubernur Akita Norihisa Satake juga menuntut penjelasan lebih lanjut dari Onodera mengenai perlunya penyebaran sistem rudal Aegis. Menurutnya, pemerintah pusat telah tergesa-gesa untuk memutuskan rencana penempatan sistem rudal itu tanpa mempertimbangkan keprihatinan masyarakat setempat.
Kandidat lokasi penempatan sistem Aegis Ashore adalah area olahraga Araya yang terletak di dekat sekolah dan rumah pribadi di kota Akita.
Warga setempat telah menyuarakan keprihatinan bahwa pembangunan fasilitas tambahan untuk sistem pertahanan akan memperburuk lingkungan. Mereka juga khawatir bahwa gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh radar, komponen kunci sistem Aegis Ashore, dapat mengganggu kehidupan sehari-hari mereka.
Selain itu, mereka kesal karena Kementerian Pertahanan mengeluarkan pemberitahuan bagi warga agar menerima tawaran untuk studi lokal di daerah itu sehari sebelum Onodera mengunjungi Akita.
Satake memberitahu Onodera bahwa pemerintah Prefektur Akita belum menyetujui pengerahan sistem rudal Aegis Ashore.
"Akan sangat mengecewakan jika pemerintah pusat memutuskan untuk mendorong ke depan tanpa menciptakan situasi yang meyakinkan berdasarkan penjelasan yang lebih spesifik setelah pertimbangan tambahan diberikan dari perspektif multifaset," kata Gubernur Satake, yang dikutip Asahi, Senin (25/6/2018).
Onodera mengatakan kepada wartawan bahwa dia memahami perlunya penjelasan lebih lanjut untuk meyakinkan kedua pemerintah lokal.
Pemerintah pusat mengatakan sistem Aegis diperlukan tidak hanya untuk keamanan nasional tetapi juga perspektif kebijakan luar negeri.
Para perwira tinggi maritim SDF sebelumnya mengatakan bahwa menyebarkan sistem Aegis Ashore akan memungkinkan empat kapal perusak Aegis MSDF digunakan untuk tugas-tugas lain selain hanya berlayar di Laut Jepang untuk menjaga potensi peluncuran rudal.
Menurut seorang pejabat tinggi Kementerian Pertahanan Jepang membeli sistem Aegis Ashore buatan Lockheed Martin, yang menelan biaya sekitar 100 miliar yen (USD913 juta) per unit, akan menenangkan pemerintahan Donald Trump.
"Jika kami mengakuisisi sistem Aegis Ashore, Trump akan sangat puas," kata pejabat yang berbicara dalam kondisi anonim tersebut.
Namun, pemerintah Perdana Menteri Shinzo Abe membela keputusan yang dikeluarkan bulan Desember 2017 soal pengerahan sistem rudal mahal itu. Keputusan tersebut dibuat dengan klaim perlindungan bagi seluruh wilayah Jepang dari potensi serangan rudal Korea utara (Korut).
Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan pada sidang Komite Audit Parlemen 18 Juni bahwa sistem rudal Aegis Ashore diperlukan sebagai pelindung bagi seluruh wilayah negara.
Menteri Pertahanan Hisunori Onodera pada pekan lalu mengunjungi prefektur Yamaguchi dan Akita, dua prefektur yang menjadi tempat latihan Angkatan Darat Pasukan Bela Diri (SDF) Jepang. Dua provinsi itu juga menjadi kandidat tuan rumah penempatan sistem rudal canggih AS.
Dalam pertemuannya di gedung pemerintahan Prefektur Yamaguchi, Onodera mencoba menyoroti perlunya sistem rudal Aegis Ashore.
"Ancaman dari Korea Utara tidak berubah sama sekali," katanya. "Korea Utara telah mengerahkan beberapa ratus rudal balistik yang mampu mencapai Jepang dan kemungkinan besar juga memiliki sejumlah hulu ledak nuklir," katanya lagi.
Namun, Gubernur Yamaguchi Tsugumasa Muraoka meminta Onodera untuk memberi penjelasan yang meyakinkan tentang mengapa sistem rudal Aegis Ashore masih diperlukan, mengingat perubahan situasi internasional sudah terjadi.
Suasana konfrontatif di Asia Timur telah bergeser ke dialog. Salah satunya adalah pertemuan bersejarah antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un di Singapura pada 12 Juni lalu.
Pertemuan itu berhasil meredam ketegangan, di mana Kim Jong-un komitmen untuk mewujudkan denuklirisasi. AS juga sepakat menangguhkan latihan perang gabungan dengan Korea Selatan yang selama ini dianggap sebagai latihan untuk menginvasi Pyongyang.
Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengumumkan pada 22 Juni lalu bahwa latihan evakuasi untuk mengantisipasi peluncuran rudal Korea Utara telah ditangguhkan untuk sementara waktu. Dia mengatakan, Jepang tidak lagi dalam situasi di mana serangan rudal musuh bisa datang kapan saja.
Gubernur Akita Norihisa Satake juga menuntut penjelasan lebih lanjut dari Onodera mengenai perlunya penyebaran sistem rudal Aegis. Menurutnya, pemerintah pusat telah tergesa-gesa untuk memutuskan rencana penempatan sistem rudal itu tanpa mempertimbangkan keprihatinan masyarakat setempat.
Kandidat lokasi penempatan sistem Aegis Ashore adalah area olahraga Araya yang terletak di dekat sekolah dan rumah pribadi di kota Akita.
Warga setempat telah menyuarakan keprihatinan bahwa pembangunan fasilitas tambahan untuk sistem pertahanan akan memperburuk lingkungan. Mereka juga khawatir bahwa gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh radar, komponen kunci sistem Aegis Ashore, dapat mengganggu kehidupan sehari-hari mereka.
Selain itu, mereka kesal karena Kementerian Pertahanan mengeluarkan pemberitahuan bagi warga agar menerima tawaran untuk studi lokal di daerah itu sehari sebelum Onodera mengunjungi Akita.
Satake memberitahu Onodera bahwa pemerintah Prefektur Akita belum menyetujui pengerahan sistem rudal Aegis Ashore.
"Akan sangat mengecewakan jika pemerintah pusat memutuskan untuk mendorong ke depan tanpa menciptakan situasi yang meyakinkan berdasarkan penjelasan yang lebih spesifik setelah pertimbangan tambahan diberikan dari perspektif multifaset," kata Gubernur Satake, yang dikutip Asahi, Senin (25/6/2018).
Onodera mengatakan kepada wartawan bahwa dia memahami perlunya penjelasan lebih lanjut untuk meyakinkan kedua pemerintah lokal.
Pemerintah pusat mengatakan sistem Aegis diperlukan tidak hanya untuk keamanan nasional tetapi juga perspektif kebijakan luar negeri.
Para perwira tinggi maritim SDF sebelumnya mengatakan bahwa menyebarkan sistem Aegis Ashore akan memungkinkan empat kapal perusak Aegis MSDF digunakan untuk tugas-tugas lain selain hanya berlayar di Laut Jepang untuk menjaga potensi peluncuran rudal.
Menurut seorang pejabat tinggi Kementerian Pertahanan Jepang membeli sistem Aegis Ashore buatan Lockheed Martin, yang menelan biaya sekitar 100 miliar yen (USD913 juta) per unit, akan menenangkan pemerintahan Donald Trump.
"Jika kami mengakuisisi sistem Aegis Ashore, Trump akan sangat puas," kata pejabat yang berbicara dalam kondisi anonim tersebut.
(mas)