Suriah Tuntut Tentara AS Ditarik dari Pangkalan Al-Tanf
Minggu, 03 Juni 2018 - 10:05 WIB
Suriah Tuntut Tentara AS Ditarik dari Pangkalan Al-Tanf
A
A
A
DAMASKUS - Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Moallem, mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) harus mundur dari pangkalan al-Tanf di Suriah tenggara sebelum kesepakatan tercapai di bagian selatan negara itu.
"Jangan percaya pernyataan tentang kesepakatan di Suriah selatan kecuali AS menarik diri dari al-Tanf," kata al-Moallem.
"Kehadiran AS di Suriah tidak sah dan mereka harus menarik diri dari al-Tanf dan daerah lain di Suriah," imbuhnya seperti dikutip dari Xinhua, Minggu (3/6/2018).
Pernyataan al-Moallem datang sebagai tanggapan terhadap laporan terbaru dari kesepakatan yang didukung Rusia di Suriah selatan tentang penarikan pasukan yang didukung Iran dari daerah yang dekat dengan perbatasan Suriah dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Al-Moallem sendiri membantah klaim Israel soal keterlibatan pasukan Iran di Suriah. Ia mengatakan Iran hanya mengirim penasihat militer atas permintaan pemerintah Suriah.
Ia juga menyatakan terima kasih atas bantuan Iran melawan terorisme dukungan asing di Suriah sejak awal krisis.
Sehari sebelumnya, Duta Besar Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya mengatakan dia yakin sebuah kesepakatan telah dicapai mengenai penarikan pasukan Iran dari perbatasan antara Suriah dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
"Seperti yang saya pahami, kesepakatan tercapai," kata Nebenzya kepada wartawan di PBB.
"Saya tidak bisa menjawab jika itu sedang disadari, tetapi sejauh yang saya pahami, pihak-pihak yang terlibat dalam mencapai kesepakatan puas dengan apa yang telah mereka capai," tambahnya.
Israel dikatakan menjadi bagian dari perjanjian dengan Rusia.
Situasi di Suriah selatan telah menarik perhatian baru-baru ini ketika tentara Suriah sedang mempersiapkan serangan besar-besaran untuk mengusir pemberontak dari provinsi selatan Qunaitera dan Daraa di tengah pembicaraan perjanjian rekonsiliasi.
Sementara Israel telah lama menuntut penarikan pasukan Iran dari perbatasan selatan Suriah, dan meluncurkan beberapa serangan udara pada posisi militer Suriah dengan dalih bahwa pejuang Iran yang beroperasi di daerah itu.
Pemerintah Suriah berharap untuk memulihkan kehadiran militer di Daraa dan Qunaitera setelah evakuasi pemberontak, untuk mengontrol semua titik perbatasan antara Daraa dan Yordania serta daerah antara Quanitera dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, sementara mengaktifkan Perjanjian Pemulangan Pasukan tahun 1974 antara Suriah dan Israel.
"Jangan percaya pernyataan tentang kesepakatan di Suriah selatan kecuali AS menarik diri dari al-Tanf," kata al-Moallem.
"Kehadiran AS di Suriah tidak sah dan mereka harus menarik diri dari al-Tanf dan daerah lain di Suriah," imbuhnya seperti dikutip dari Xinhua, Minggu (3/6/2018).
Pernyataan al-Moallem datang sebagai tanggapan terhadap laporan terbaru dari kesepakatan yang didukung Rusia di Suriah selatan tentang penarikan pasukan yang didukung Iran dari daerah yang dekat dengan perbatasan Suriah dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Al-Moallem sendiri membantah klaim Israel soal keterlibatan pasukan Iran di Suriah. Ia mengatakan Iran hanya mengirim penasihat militer atas permintaan pemerintah Suriah.
Ia juga menyatakan terima kasih atas bantuan Iran melawan terorisme dukungan asing di Suriah sejak awal krisis.
Sehari sebelumnya, Duta Besar Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya mengatakan dia yakin sebuah kesepakatan telah dicapai mengenai penarikan pasukan Iran dari perbatasan antara Suriah dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
"Seperti yang saya pahami, kesepakatan tercapai," kata Nebenzya kepada wartawan di PBB.
"Saya tidak bisa menjawab jika itu sedang disadari, tetapi sejauh yang saya pahami, pihak-pihak yang terlibat dalam mencapai kesepakatan puas dengan apa yang telah mereka capai," tambahnya.
Israel dikatakan menjadi bagian dari perjanjian dengan Rusia.
Situasi di Suriah selatan telah menarik perhatian baru-baru ini ketika tentara Suriah sedang mempersiapkan serangan besar-besaran untuk mengusir pemberontak dari provinsi selatan Qunaitera dan Daraa di tengah pembicaraan perjanjian rekonsiliasi.
Sementara Israel telah lama menuntut penarikan pasukan Iran dari perbatasan selatan Suriah, dan meluncurkan beberapa serangan udara pada posisi militer Suriah dengan dalih bahwa pejuang Iran yang beroperasi di daerah itu.
Pemerintah Suriah berharap untuk memulihkan kehadiran militer di Daraa dan Qunaitera setelah evakuasi pemberontak, untuk mengontrol semua titik perbatasan antara Daraa dan Yordania serta daerah antara Quanitera dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, sementara mengaktifkan Perjanjian Pemulangan Pasukan tahun 1974 antara Suriah dan Israel.
(ian)