Belum Membacanya, Trump Sebut Surat Kim Jong-un Sangat Bagus
Sabtu, 02 Juni 2018 - 07:40 WIB
Belum Membacanya, Trump Sebut Surat Kim Jong-un Sangat Bagus
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa ia akan bertemu dengan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un pada 12 Juni mendatang di Singapura. Ia memutuskan untuk kembali menjalankan rencana awal itu setelah bertemu dengan utusan Korea Utara yang datang untuk mengirim surat dari Kim.
Kedua pemimpin telah bertukar surat dalam beberapa pekan terakhir, dan rupanya hubungan sahabat pena mereka telah terbayar. Trump dengan bersemangat mengatakan kepada wartawan bahwa hubungan antara AS dan Korut bergerak ke arah "positif". Surat terakhir mengubah pikiran Trump setelah ia membatalkan rencana untuk pertemuan puncak di Singapura bulan lalu, katanya.
"Surat itu sangat bagus," kata Trump seperti dikutip dari The Week, Sabtu (2/6/2018).
Namun, beberapa saat kemudian, Trump mengakui bahwa ia belum membaca surat dari Kim Jong-un. "Aku mungkin akan mendapat kejutan besar, teman-teman," katanya.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa Kim Jong-un menulis kepada Trump tentang keinginannya untuk mempertahankan pertemuan puncak sesuai jadwal. Namun ia tidak menunjukkan bahwa Korut akan bersedia untuk menawarkan konsesi seperti yang dikatakan oleh para pejabat AS akan diperlukan untuk mencapai tujuan denuklirisasi.
Nasib konferensi tingkat tinggi (KTT) yang mempertemukan kedua pemimpin itu sempat dibatalkan sepihak oleh Trump sepekan lalu. Alasannya, Pyongyang menyuarakan kemarahan dan permusuhan terbuka terhadap AS.
Namun, kurang dari 24 jam kemudian, Trump mengisyaratkan bahwa pertemuan itu mungkin masih bisa berlangsung. Setelah rentetan diplomasi kedua pihak, rencana KTT tersebut akhirnya kembali ke rencana awal.
Presiden Trump enggan merinci poin-poin kesepakatan yang akan dibahas dalam pertemuannya dengan Kim Jong-un. Namun, dia memastikan sanksi Washington terhadap Pyongyang menjadi salah satu isu yang akan dibahas."Saya menantikan hari ketika saya dapat mencabut sanksi terhadap Korea Utara," ujar Trump.
Isu pelanggaran hak asasi manusia tidak ada dalam agenda pembicaraan."Kami berbicara tentang mengakhiri perang antara Korea Utara dan Korea Selatan," katanya mengacu pada fakta bahwa kedua Korea belum menandatangani perjanjian damai setelah konflik 1950-1953. "Itu sesuatu yang bisa keluar dari pertemuan pada 12 Juni," imbuh Trump.
Kedua pemimpin telah bertukar surat dalam beberapa pekan terakhir, dan rupanya hubungan sahabat pena mereka telah terbayar. Trump dengan bersemangat mengatakan kepada wartawan bahwa hubungan antara AS dan Korut bergerak ke arah "positif". Surat terakhir mengubah pikiran Trump setelah ia membatalkan rencana untuk pertemuan puncak di Singapura bulan lalu, katanya.
"Surat itu sangat bagus," kata Trump seperti dikutip dari The Week, Sabtu (2/6/2018).
Namun, beberapa saat kemudian, Trump mengakui bahwa ia belum membaca surat dari Kim Jong-un. "Aku mungkin akan mendapat kejutan besar, teman-teman," katanya.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa Kim Jong-un menulis kepada Trump tentang keinginannya untuk mempertahankan pertemuan puncak sesuai jadwal. Namun ia tidak menunjukkan bahwa Korut akan bersedia untuk menawarkan konsesi seperti yang dikatakan oleh para pejabat AS akan diperlukan untuk mencapai tujuan denuklirisasi.
Nasib konferensi tingkat tinggi (KTT) yang mempertemukan kedua pemimpin itu sempat dibatalkan sepihak oleh Trump sepekan lalu. Alasannya, Pyongyang menyuarakan kemarahan dan permusuhan terbuka terhadap AS.
Namun, kurang dari 24 jam kemudian, Trump mengisyaratkan bahwa pertemuan itu mungkin masih bisa berlangsung. Setelah rentetan diplomasi kedua pihak, rencana KTT tersebut akhirnya kembali ke rencana awal.
Presiden Trump enggan merinci poin-poin kesepakatan yang akan dibahas dalam pertemuannya dengan Kim Jong-un. Namun, dia memastikan sanksi Washington terhadap Pyongyang menjadi salah satu isu yang akan dibahas."Saya menantikan hari ketika saya dapat mencabut sanksi terhadap Korea Utara," ujar Trump.
Isu pelanggaran hak asasi manusia tidak ada dalam agenda pembicaraan."Kami berbicara tentang mengakhiri perang antara Korea Utara dan Korea Selatan," katanya mengacu pada fakta bahwa kedua Korea belum menandatangani perjanjian damai setelah konflik 1950-1953. "Itu sesuatu yang bisa keluar dari pertemuan pada 12 Juni," imbuh Trump.
(ian)