Myanmar Perlu Ditekan untuk Repatriasi

Kamis, 19 April 2018 - 11:34 WIB
Myanmar Perlu Ditekan...
Myanmar Perlu Ditekan untuk Repatriasi
A A A
LONDON - Perdana Menteri (PM) Bangladesh Sheikh Hasina menyatakan tekanan internasional perlu ditingkatkan pada Myanmar agar repatriasi pengungsi Rohingya segera dilakukan.

Hasina juga menolak klaim pemerintah Myanmar yang menyatakan telah merepatriasi satu keluarga dengan lima orang anggota. Bangladesh sendiri kewalahan menangani ratusan ribu pengungsi Rohingya yang kini terancam banjir dan tanah longsor di kamp-kamp distrik Cox's Bazar.

“Komunitas internasional perlu melakukan lebih banyak tekanan pada Myanmar sehingga mereka memulangkan kembali rakyatnya dan menjamin keamanan mereka,” papar Hasina saat berada di London, kemarin.

“Myanmar menyatakan mereka siap memulangkan Rohingya, tapi mereka tidak mengambil inisiatif itu,” ungkap dia.

Hasina menjelaskan, Bangladesh telah mengajukan nama 8.000 keluarga Rohingya untuk repatriasi ke Myanmar tapi Myanmar sejauh ini menolak memulangkan mereka. Myanmar dan Bangladesh telah sepakat pada Januari untuk repatriasi sukarela para pengungsi dalam dua tahun.

Hasina juga mengkritik Myanmar yang mengaku memulangkan lima orang dari satu keluarga Rohingya dari Bangladesh. Keluarga itu sebelumnya tinggal di wilayah perbatasan kedua negara.

“Mereka tinggal di tanah perbatasan, dengan beberapa anggota keluarga mereka di kamp mereka. Mungkin (Myanmar) ingin menunjukkan dunia mereka memulangkan mereka. Ini pertanda bagus. Jika mereka ingin, lalu mengapa hanya satu keluarga? Kita telah mengajukan nama-nama 8.000 keluarga (Rohingya) tapi mereka tidak dipulangkan,” tegas Hasina.

Dia juga mengonfirmasi rencana memindahkan 100.000 pengungsi Rohingya ke pulau dataran rendah yang tak berpenghuni di Teluk Bengal. Hasina mencoba menepis kekhawatiran bahwa Bangladesh akan menempatkan para pengungsi dalam risiko banjir.

“Kami ingin memindahkan mereka di tempat rawan ke pulau itu. Bangladesh dapat selalu banjir ini seperti itu. Kamp-kamp itu sangat tidak sehat. Kami telah mempersiapkan tempat lebih baik untuk mereka tinggal, dengan rumah-rumah dan penampungan tempat mereka dapat memiliki penghasilan untuk hidup,” tutur Hasina.

Hasina menambahkan, “Di mana mereka tinggal sekarang, musim hujan datang, di sana dapat terjadi erosi tanah, kecelakaan dapat terjadi.”

Berbagai badan bantuan khawatir dengan rencana relokasi ke pulau tersebut. Mereka yakin para pengungsi akan rawan terkena badai, banjir, dan aksi perdagangan manusia.

Saat ini ratusan ribu pengungsi tinggal di kamp-kamp distrik Cox's Bazar yang rawan banjir, penyakit dan tanah longsor saat musim hujan yang akan mulai datang dalam beberapa pekan mendatang. Pemerintah Bangladesh telah beberapa bulan membenahi pulau Bhasan Char sebagai lokasi alternatif bagi para pengungsi.

Meski demikian, sejumlah badan bantuan belum diizinkan melihat kondisi di pulau tersebut. Grup Koordinasi Antar Sektor (ISCG) yang mengawasi kamp-kamp di Cox's Bazar di bawah badan kemanusiaan Strategic Executive Group (SEG) menyatakan khawatir dengan rencana pemindahan pengungsi ke pulau itu.

“Pertanyaan utama tentang kelayakan pulau itu untuk ditempati masih tidak terjawab. Dengan informasi yang belum semuanya dijelaskan pemerintah, SEG harus menghindari mendorong pernyataan bahwa pulau itu sebagai alternatif yang layak,” ungkap pernyataan ISCG pada dokumen 10 April.

Sejumlah badan bantuan kesulitan mengakomodasi para pengungsi. Laporan dari badan pengungsi Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) menyatakan 203.000 pengungsi Rohingya berisiko terkena banjir dan tanah longsor di kamp-kamp dan harus direlokasi.

Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjelaskan hampir 700.000 Muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh dari Rakhine, Myanmar, untuk menghindari operasi militer sejak Agustus. (Syarifudin)
(nfl)
Berita Terkait
Menlu: PBB Mulai Lakukan...
Menlu: PBB Mulai Lakukan Pendataan Migran Rohingya di Aceh
Organisasi Rohingnya...
Organisasi Rohingnya Ungkapkan Terima Kasih Atas Penyelamatan Pengungsi di Aceh
Pemerintah Diminta Waspadai...
Pemerintah Diminta Waspadai Sindikat Pengungsi Rohingya
3 Tahun Berlalu, Pengungsi...
3 Tahun Berlalu, Pengungsi Rohingya Kian Menderita
24 Pengungsi Rohingya...
24 Pengungsi Rohingya Tenggelam di Malaysia
Bantu Pengungsi Rohingnya...
Bantu Pengungsi Rohingnya di Aceh, Kemlu Koordinasi dengan PBB
Berita Terkini
AS Bohong, Kapal Induk...
AS Bohong, Kapal Induk Gerald R Ford Ternyata Rusak Parah saat Perang Lawan Iran, Ini Buktinya!
7 menit yang lalu
Zelensky Tantang Putin...
Zelensky Tantang Putin Bertemu Tatap Muka, Kremlin: Datanglah ke Moskow!
53 menit yang lalu
Sinifikasi Agama di...
Sinifikasi Agama di China Menguat, Gereja Katolik Patriotik Jadi Sorotan
1 jam yang lalu
AS Batal Kirim Rudal...
AS Batal Kirim Rudal Tomahawk ke Jerman Diduga Khawatir dengan Pembalasan Rusia
1 jam yang lalu
Pemimpin Hizbullah Kecam...
Pemimpin Hizbullah Kecam Negosiasi Lebanon-Israel, Dianggap Tidak Tahu Malu
10 jam yang lalu
Jerman Gagal Peroleh...
Jerman Gagal Peroleh Kursi di Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kali
11 jam yang lalu
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved